.





Antara akal dan budi, antara cinta dan kehidupan....

Saturday, September 13, 2008

PINDAH ALAMAT

Ane dah pindah alamat sekalian ganti profesi jadi premang. Lihat di:
Catatan PremanG

Thursday, April 17, 2008

Selingkuh

Selingkuh, adalah satu kata yang terasa "kotor" kalo tidak mengalaminya, namun akan terasa biasa-biasa bila sudah mengalaminya. Perselingkuhan yang dilakoni oleh beberapa kenalan, sempat mengundang cibir mulut monyong saya. Tidak bisa mengerti.

Dalam hati, saya selama ini berpikir, "selingkuh" cuman akan menyusahkan si pelaku. Waktu yang tentu akan makin tersita. Mau tak mau, suka ataupun tidak, sengaja tak sengaja, pasti akan ada yang dinomorsatukan. Berlaku adil, tidak segampang mengucapkannya bila memang itu akan dipraktekkan. Manusia bukan malaikat, yang segala tindakan perfect. Manusia dibangun dari dua unsur, hati dan akal. Dan hatipun kadang dipengaruhi oleh keadaan.

Kesimpulannya, kalau mau selingkuh, silakan. Tentu dengan kesiapan mempertanggungjawabkannya. Jadi bukan kesiapan untuk adilnya.

Beberapa hari yang lalu, saya mulai ringan tangan terjun ke dunia perselingkuhan. Ada alasan mendasar memang yang menjadi pendorong niatku untuk berselingkuh ini, namun mohon maaf, tidak bisa aku deskripsikan secara detail disini. Akupun manusia, punya daerah privacy tentunya.

Begitulah ceritanya sodara-sodara sekalian. Dengan siapa aku selingkuh, silakan di-klik alamat berikut. Iyah...., setelah sedikit bosan dengan selayar , kini aku mulai berasyik masyuk dengan premang , sang pacar baru.

Jadi......., sekali lagi kenalkan......

Catatan Premang.

Friday, March 21, 2008

Narsis Rong

Liburan panjang ini, hampir tidak ada kegiatan berarti yang bisa saya jalankan. Berawal dari rencana bebenah di kantor, yang membuat saya tiap hari rela menunggu datangnya si Akang Lukman, tukang yang akan membantu bebenah, yang ujung-ujungnya hingga masa liburan berakhir, tidak pernah terlaksana juga.

Di dalam ke-bete-an menunggu kang lukman itu, saya sempat sedikit menengok ke rak buku lama. Akhirnya mata ini tertuju pada tumpukan guntingan-guntingan koran maupun majalah versi Jepang semasa saya kuliah dulu. Melihat itu, keisengan(baca: kenarsisan) saya bagai kesiram air cuka, langsung bergejolak.

Mulailah proses men-scan guntingan-guntingan yang masih tersisa itu. Dan hasilnya adalah sebagai berikut.

Chikyuno Nakano Koriyama (= Koriyama di Tengah Dunia)


Shourai, Jikokuno tameni Tsukushitai (=Kedepan, Mengabdi untuk Negara)


Ouenshimasu (Mendukung Pengembahgan Usaha Pendidikan di Tanah Air)

Hahaha...., Keknya masih banyak nih yg ngumpet diantara berkas2 yg tidak tertata itu. Dan yang pasti, kadang malu dengan "slogan2 semangat 45" yang tersuarakan. Xixixixixixi.....

Tuesday, February 26, 2008

Secuil Penghibur Hati


Kala terlelap
Raga meronta perih
Air mata mencoba meraih asa
Yg tersisa pilu mencengkram harapan

Kuberlari ke depan
Tertubruk tembok keangkuhan
Kesombongan
Tipu muslihat
Penghianatan
Berbaur, menyatu dalam dudukku

Kumenoleh ke kiri
Ranjau-ranjau kesirikan terpampang megah
Menyapa sinis
Bungkamkan kelopak mata
Mengajak bermimpi tanpa makna

Diatas ada mentari
Menghanguskan otak jadi arang
Panas
Terik
Menusuk sukma

Di ruang hampa
Ada degalan penawar duka
Olokan diri pun jadi nikmat
Entah sampai kapan...

(DM, 2008022)

Labels: ,

Sunday, February 10, 2008

Jatuh Cinta Lagi....

Hari itu hari minggu. Saya masih tertidur pulas di kamar setelah sebelumnya terbangun sekitar 2 jam-an. Tiba-tiba Handphone berdering. Perlahan-lahan mataku yang masih berat aku buka, dan ketika melirik ke jam dinding, jarum pendek pas di angka delapan, sementara jarum panjang bertengger tepat di angka 12. "Masih jam delapan. Siapa yang nelpon pagi-pagi gini yah", pikirku dalam hati sambil meraih handphone yang saya letakkan di atas meja samping tempat tidurku.

"Halloooo.....". Terdengar suara anak kecil dari seberang sana. Saya sudah sangat familiar dengan suara itu. Ternyata Hana, putri saya yang sementara tinggal di kampung, pengen berbicara denganku. Belum lagi saya sempat membalas sapaannya, dia pun mulai berkicau.
"Halo papa....."
"Papaaaa......, dimana ko?" Dia memang belum bisa membedakan pemakaian 'ko' dengan 'ki'.
"Halo Hanaa...", jawabku singkat.
"Paaaaaaa....", Dia mulai berteriak.
"Iyah..., sudah makan?", aku mulai bertanya.
"Sudah tadi"
Baru saja saya bilang, "oh gitu", langsung kembali dia berteriak,"Paaaaaaa.....".
"ada apa Hana?", jawabku pelan.
Tiba-tiba dengan suara setengah berbisik dia ngomong pelan-pelan, "Minta duit Pa".
Mendengar permintaannya itu, ditambah dengan "keseriusannya", tawaku tiada bisa kutahan. Aku ngakak bak icon ketawa guling-guling-nya YM.
Dia berteriak lagi, "Paaaaa......". Lalu intonasinya perlahan-lahan melemah, "Minta duit kodong".
Saat aku menanyakan, duit buat apa, kembali dengan suara pelan dia berucap, "Buat jajan di Sekolah".

Dalam hati aku tersenyum sejenak.
Dengan suara seengah berbisik, aku bilang kepadanya agar minta sama mama.
"Mama nda' punya duit"
Kembali saya melemparkan suara setengah berbisik,"Banyak ji duitnya itu mama. Minta meki"

Hana yang belum cukup berumur 4 tahun itu, memang bangga sekali dengan statusnya sebagai 'anak sekolahan'. Kemarin pas jalan-jalan ke Jakarta saja, sampai membawa baju seragam sekolahnya, hanya sekedar mau pamer sama Farhan, serta teman-temannya, bahwa dia sudah bersekolah, tepatnya masuk play group.

Lalu, saya teringat percakapan kami via telpon beberapa minggu sebelumnya. Si Hana yang keras kepala itu dengan bangga pameran ke bapaknya hapalan surat Al Fatihah-nya. Sebetulnya kurang jelas terdengar di telpon, apalagi cara pengucapannya juga yang relatif terburu-buru, namun bisalah sedikit tertangkap apa yang sedang dia ucapkan. Saya bisa membayangkan bagaimana tingkahnya, begitu bangga saya puji, "Wuiiihhh..., Hana pinter banget yah?". Dia jawab sambil tertawa, "Ho oh".

Saya berniat memancingnya lagi, menanyakan tentang sekolahnya, biar terhindar dari topik "Minta uang jajan".
"Hana belajar apa dong di sekolahan?", Tanyaku yang langsung dijawab,'Nyanyi'.
Dia kelihatan mulai bersemangat 'pameran'.
"Iyah pa..., saya sudah pintar menyanyi", katanya bangga dengan logat Selayarnya yang kental.
"Iyah? Hebat dong", ujarku.

Tanpa diberi aba-aba, Hana dah mulai menunjukkan kebolehannya, menyanyi.
jatuh cinta lagi
lagi-lagi ku jatuh cinta
aku jatuh cinta kepada setiap wanita

Spontan saya kaget, dan langsung memotong,"Busyet dah, nyanyinya kek gituan".
"Emang di sekolahan diajari nyanyian itu?", tanyaku.
Namun ternyata Hana lebih bergairah untuk meneruskan nyanyiannya.
jatuh cinta lagi
lagi-lagi ku jatuh cinta
harus bagaimana ku ingin memikirkannya

"Sudah...sudah....", kataku dengan suara agak keras.
"Hanaa...., Kalau mau nyanyi, nyanyian di sekolahan aja", pintahku. Dan diapun berhenti bernyanyi.

Dalam hati saya berpikir, anak sekecil ini aja sudah mahir nyanyi nyanyian jatuh cinta, terlepas itu dia mengerti apa tidak. Yang pasti...., lagu-lagu yang tiap hari secara sepihak banyak masuk di telinga mereka lewat media televisi adalah lagu-lagu orang dewasa, yang temanya hampir tidak pernah jauh dari cinta-cinta-an. Wajar kalau anak kecil seusia Hana yang notabene tinggal di desa-pun jauh lebih mahir dengan lagu-lagu itu. Sama dengan Farhan, yang sebelum saya tau, sudah hampir hafal lagu, "kamu ketahuan"-nya Matta.

Itu salah satu bukti betapa besarnya pengaruh media elektronik di tengah-tengah kehidupan kita. Maka tatkala isinya mayoritas berisi acara yang kurang mendidik, generasi anak-anak-pun akan terseret kepadanya. Artinya..., seandainya informasi yang dialirkan oleh media itu mayoritas hal yang mendidik, pasti anak-anak kita-pun akan secara otomatis terpengaruh olehnya, dan tidak oleh unjuk kebolehan berdendang ala "jatuh cinta lagi....".(AF@Jkt, 20080210)

Labels: , ,

Tuesday, January 29, 2008

Halima* Yang Terlupakan

Hiruk pikuk wafatnya Sang Jenderal Besar, Soeharto, belum juga mereda. Sanjungan terhadap kebesaran jasa-jasanya bak cendawan di musim hujan, merebak serentak ke permukaaan. Iyah...., Bapak Pembangunan itu memang telah berjasa besar melakukan pembangunan berarti di negeri ini. Hal itu, tidak mungkin bisa dinafikan lagi. Namun, segelintir suara yang menginginkan penegakan hukum terhadap beliau pun tentu tidak boleh disepelekan begitu saja. Karena dosa-nya pun ada. Dan itu sepatutnya diselesaikan melalui proses hukum yang ada.

Tatkala seluruh negeri berkabung, ada secuil berita menarik yang lebih bersifat konsumsi infotainment. Si Halimah, istri Bambang Trihatmojo yang baru saja diceraikan itu pun ikut melayat dan berbelasungkawa atas kematian 'mantan' mertuanya. Wanita yang notabene sudah berumur ini memang masih tetap kelihatan cantik. Bisa dibayangkan, betapa cantiknya beliau waktu masih muda-nya. Dan konon, Halimah ini merupakan salah seorang mantu tersayang keluarga Cendana. Maka tatkala si Mayang, istri muda Bambang ikut menampakkan muka menjenguk sang mertua yang sudah tak bernyawa itu, jadi bulan-bulanan di lingkungan Cendana, bahkan harus bercucuran airmata diusir oleh saudara-saudara suaminya.*Pencinta Infotainment mode on*

Disamping breaking news tentang wafatnya mantan penguasa negeri ini beserta kehebohan internal keluarga beliau di atas, ternyata ada Halima* lain yang tak kalah menakutkan yang sangat kurang pamor dari sisi pemberitaan media dan perhatian masyarakat. Dialah H5N1, virus flu burung yang sudah merenggut ratusan nyawa manusia itu. H5N1-lah yang saya 'gelari', Halima* yang terlupakan, sebagaimana judul tulisan ini.

Virus Flu burung, mulai menampakkan diri ke permukaan sejak tahun 2003. Dan pada masa-masa awalnya, Vietnam tercatat sebagai negara terparah masalah penyebaran Flu burung ini. Namun kelihaian dan keseriusan pemerintahnya, berhasil menekan drastis semakin menjalarnya virus yang sangat menakutkan ini.

Lain Vietnam, lain juga dengan gerak langkah pemerintah negeri ini. Terbukti, sejak tahun 2005, Indonesia pun menjadi ladangnya penyebaran Halima* ini. Dan ketidak mampuan me-manage wabah penyakit H5N1 ini, membuahkan 'hasil' bahwa Flu burung sebetulnya sudah menjadi "setan" menakutkan yang mungkin sudah menjalar kemana-mana di masyarakat kita. Seperti kemarin 28 Januari 2008, tercatat 2 orang jiwanya melayang direnggut oleh Halima* ini. Departemen Kesehatan mengumumkan bahwa seorang bocah kecil di Depok berusia 9 tahun, meninggal karena virus ini. Di hari yang sama, seorang wanita berusia 23 tahun pun menemui ajal karena H5N1. Dalam sehari saja sudah tercatat 2 orang yang menghembuskan nafas terakhirnya di ujung seuah Halima*.

Menurut catatan WHO, sejak tahun 2003, jumlah kematian yang diakibatkan oleh virus flu burung sudah melebihi 220 orang. Dan yang paling menyedihkan, hampir 50% dari angka itu dipasok oleh Negeri ini. Tak kurang dari 100 orang dari 220 orang itu berasal dari Indonesia. Sementara Vietnam yang awal-awal penyebaran virus ini termasuk sangat-sangat parah, hingga detik ini 'baru' tertatat 48 orang yang meninggal.

Sekali lagi, kembali kita mencatat rekor dalam sejarah, sebagai negara dengan angka kematian terbanyak yang diakibatkan oleh Flu Burung. Namun seakan tidak ada yang menaruh peduli terhadap hal ini. Padahal, angka kematian di atas adalah angka yang diumumkan oleh pemerintah. Tidak tertutup kemungkinan, bahwa disamping angka resmi itu, akan ada angka tidak resmi yang tidak terlacak, jauh melebihi dari angka tersebut. Bukankah sangat susah mencari data benar-benar valid di negeri ini? Artinya, bisa jadi virus mematikan itu sudah menjalar di lingkungan sekitar kita, yang pada saatnya akan ikut merenggut nyawa orang-orang terdekat kita, bahkan diri kita sendiri. Dan tatkala negara yang harusnya memberikan perlindungan kepada kita terhadap momok seperti itu lebih disibukkan oleh urusan-urusan lain, siapa lagi yang bisa melindungi diri kecuali diri sendiri?

Intinya, biarkanlah media lebih fokus kepada Halimah versi Cendana dan hal-hal yang berkaitan dengan keluarga sang Jenderal besar itu, namun jangan lupa, ada Halima* lain yang sangat perlu diwaspadai. Dan itulah Flu burung H5N1 (Halima* N l). (af@jkt 29 Januari 2008)

Labels: , ,

Saturday, January 12, 2008

Teeza, Dimanakah Kau Berada?

Nama lengkapnya Tiza Asterina Dewi. Namun di kalangan warga AngingMammiri.org biasa memanggilnya Teeza(baca: Tiza). Gadis Sunda bertubuh sedikit subur ini sudah lama aktif di Komunitas Blogger Makassar. Bahkan bersama Rara dan beberapa teman lain, beliau bisa dibilang salah seorang pendiri Komunitas Blogger Makassar yang lebih keren disebut AM, singkatan Anging Mammiri.

Menurut penuturan beliau dalam sebuah acara yang bertajuk Blog: the Voice of Freedom, sebuah acara Talk show tentang dalam rangka memperingati hari jadi Komunitas Blogger Makassar yang pertama, karena tugas kantor, beliau datang seorang diri ke Makassar beberapa tahun yang lalu. Dan orang yang pertama bisa dirangkul sebagai teman adalah anak-anak Blogger termasuk Rara, Ketua Komunitas Blogger Makassar saat ini. Jauh dari keluarga, secara otomatis, kehadiran seorang temanlah yang menjadi tumpuan berbagi uneg-uneg masalah kehidupan sehari-hari. "Saya sangat terbantu dengan keberadaan anak-anak blogger ini", ujarnya.

Saya terkagum-kagum dengan keuletan dan kerja kerasnya. Pemandangan itu pertama kali saya saksikan, tatkala AM mengadakan acara Bincang IT dan Blog "Blog For Life" tahun silam. Persiapan acara yang menyita waktu dan tentu tenaga yang tidak sedikit, membuat panitia dengan sukarela harus super sibuk terutama satu dua hari menjelang acara digelar.

Sekitar jam 10 malam, penataan ruangan yang dikeroyok secara bersama-sama baru bisa rampung. Belasan panitia berkumpul beristirahat sebentar sambil makan minum seadanya. Sementara asyik berbincang-bincang, saya sempat menoleh ke kiri, ternyata di ujung meja sana Teeza dibantu beberapa rekan, masih serius mengutak-atik laptopnya mempersiapkan beberapa dokumen persiapan acara yang belum kelar. Sayup-sayup terdengar ucapannya, "Pokoknya harus kelar dulu".

Dalam acara the Voice of Freedom pun, Teeza ikut terlibat aktif. Omongannya sedikit, namun dari semangatnya ikut andil demi terlaksananya acara dengan baik, seakan-akan berucap, "Yang saya tau, saya harus berkontribusi, titik". Seperti yang sudah sedikit diungkit di atas, beliau memang salah seorang penggagas Komunitas Blogger Makassar. Benar-benar membuat saya salut.

Beberapa hari setelah pelaksanaan the Voice of Freedom, Teeza pindah tempat tugas ke Jakarta. Oleh karena itu, tatkala Daeng Nuntung menyampaikan rencananya mampir di Jakarta sebelum meneruskan perjalanan ke Banda Aceh, ada ide untuk melakukan acara kumpul-kumpul alias kopdar. Bersilaturrahim dengan Daeng Nuntung, sekaligus 'menyambut' Teeza, anggota AM yang pindah tugas ke Jakarta itu. Rencana itu sudah dipublikasikan ke milis AM, jauh-jauh hari sebelumnya, namun tanggapan dari Teeza tidak kunjung datang. Sampai akhirnya acara digelar tanpa Teeza.

Tadi malam, tatkala saya online dengan YM, kebetulan Teeza pun kelihatan lagi online. Saya tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Langsung saya sapa dengan logat Makassar. Iyah...dengan logat Makassar karena secara pribadi saya tidak 'rela' Teeza melupakan ke-Makassar-annya.
"Neng Teeza... Kenapa nda' pernah muncul2 belah?"
"Ntar kita lupaki logat Makassar ta' itu eh", sapaku soq akrab.

Tak lama kemudian, message jawaban dari Teeza pun datang, juga dengan logat Makassar walau kalau mau jujur, pemakaiannya masih berantakan, tidak pada tempatnya. Setidaknya itu menandakan, seorang Teeza bertingkah apa adanya. Juga merupakan salah satu cermin keuletannya. Menurut pengakuannya beliau memang sedang sibuk sekali, bahkan sejak sekembalinya dari Makassar, mail dari milis AM-pun belum sempat dia baca.

Bahkan beliau mohon maaf karena keterbatasannya itu. Dan yang pasti, tetap berharap untuk bisa bersilaturrahim dengan warga AM di Jakarta. "Kabarin klo ada kumpul2 AM di Jkt", pesannya. Saya pun sedikit lega dengan pernyataan beliau itu. Setidaknya, saya berpikir bahwa AM tidak boleh kehilangan seorang Teeza, dimanapun dia berada. "Iyah Teeza, insya Allah akan kita kabari", gumanku dalam hati.(AF@Jkt, 12 Januari 2008)

***Gambar ditampilin dari Blognya Teeza

Labels: , , , ,