Uchi Wa Bimbo Dakara....

Sekumpulan anak SD pulang dengan jalan kaki dari sekolah. Di tengah jalan, ada sebagian yang mengeluarkan Ide untuk singgah sebentar bermain di sebuah game center. Tapi ternyata ada satu dua orang yang menolak ikut teman-temannya itu. Lalu ada yang bertanya,"Nandayo....". Tapi dijawabnya,"Gomen, Uchi wa bimbo dakara....". Pemandangan semacam ini tidak tergolong jarang dijumpai dalam kehidupan anak di Jepang.

Sebenarnya ongkos main game sekali-kali tidaklah begitu berarti, karena memang tergolong murah untuk standar hidup sebuah keluarga Jepang. Dan sebagai mana umumnya status sosial kehidupan masyarakat negara maju, hampir tidak ada jurang yang tinggi antar keluarga dari segi kemampuan ekonomi. Dan sudah hampir pasti bahwa fasilitas elektronik rumah tangga seperti tv,telpon,kulkas,mesin cuci tidak luput memberikan ke-praktisan dalam kehidupannya. Artinya semiskin-miskin mereka, masih jauh lebih kaya dari sebagian besar masyarakat kita.

Lalu kenapa sampai "pelit" untuk sekedar ikut teman main di game center, lalu tanpa rasa malu dengan enteng mengaku "bimbo"?

Ada dua nilai moral yang bisa diambil sebagai bahan pelajaran. Yang pertama adalah kemampuan menempatkan sesuatu sesuai dengan tingkat kepentingannya. Walaupun sebetulnya punya kemampuan untuk sekedar main game, tapi si anak SD tadi sadar kalau masih ada yang mesti lebih diprioritaskan.

Nilai moral yang kedua adalah ke-elegan-an mengakui ketidakmampuan dari segi ekonomi. Bukannya memunculkan rasa gengsi, lalu memaksakan sesuatu yang sebetulnya tingkat kepentingannya tidak begitu tinggi. Tau diri pada keadaan sendiri, dan bukan justru soq mampu dan memaksakan diri atau bahkan menyombongkan diri melebihi keadaan diri yang sebenarnya. Seperti apa yang banyak dipraktekkan oleh pejabat-pejabat di tanah air. Padahal agama telah mengajarkan bahwa Allah tidak suka pada orang kaya yang sombong, tapi lebih benci lagi pada orang miskin yang sombong.

Ada beberapa gebrakan politik dan moral yang praktekkan oleh ketua MPR terpilih, Hidayat NurWahid baru-baru ini. Menolak fasilitas kendaraan mewah volvo selayaknya sebagai pimpinan sebuah lembaga tinggi negara, dan juga enggan nginap di hotel mewah yang diperuntukkan buat anggota parlemen yang sedang mengikuti sidang di senayan.

Tapi ternyata langkah terpuji ini tidak serta merta mendapat pengakuan tulus oleh beberapa kalangan. Tidak kurang dari Ketua DPR RI Agung Laksono dan juga tokoh senior PDIP Sutardjo Surjoguritno memandang sikap penolakan fasilitas mewah bagi pimpinan lembaga tinggi negara itu tidak perlu. Dan tidak sedikit pula yang menuding bahwa gerakan itu hanya sekadar untuk mencari popularitas pribadi dan partai.

Tapi sebenarnya praktek seperti ini bukanlah barang baru buat anggota dewan dari partai pemenang pemilu di daerah barometer pemilihan rasional, seperti di DKI dan luar negeri yang mayoritas konstituennya adalah mahasiswa. Zirlyrosa Jamil, anggota DPR periode 1999-2004 dari Partai Keadilan beberapa kali dijumpai tengah bergelantungan di atas bis untuk berangkat atau pun pulang dari kantornya di Senayan. Mashadi SH, juga anggota DPR periode yang sama dengan Zirly, menolak fasilitas mobil anggota Dewan dan memilih berangkat ke Senayan menggunakan Vespa 'butut'nya. Sehingga pernah suatu ketika di awal periode seorang Satpam seenaknya menyingkirkan Vespa milik Mashadi tersebut dari tempat parkir karena dianggap salah tempat parkir.

Sebetulnya mereka-mereka inilah yang pantas digelari wakil rakyat. Mereka mengerti bahwa rakyat yang diwakilinya itu adalah rakyat yang mayoritas tergolong miskin dari standar internasional. Orang-orang yang bukan hanya berteriak tentang hati nurani dikala berusaha menggaet hati pemilih, tapi insya Allah dengan hati tulus sadar akan apa yang keluar dari mulutnya itu. Orang-orang yang mampu ngomong "Gomen, Uchi wa bimbo dakara".

Tapi memang banyak yang kebakaran jenggot, terutama yang sudah kejangkitan virus "angan-angan mewahnya anggota dewan", tanpa mau peduli bahwa rakyat yang diwakilinya tengah bertarung meramal nasib, besok bisa menikmati sesuap nasi atau harus berpuasa.(AF, Yokohama)

* Nandayo (= Kenapa sih)
* Gomen, uchi wa bimbo dakara...(= Maaf, karena keluarga saya miskin)
* Bimbo (= Miskin)

HermanLaja.COM