Seorang teman "terpukau" dengan judul blog saya, "Antara Akal & Budi, Antara Cinta & Kehidupan". Saya terus-terang tidak tahu, atau memang tidak begitu pengen tahu, apa beliau murni berkeinginan tahu makna judul blog ini atau hanya sekedar jail ingin membedah isi pikiran saya. Dan yang jelas, saya jawab seadanya bahwa saya tidak terlalu mikir susah-susah untuk penggunaan kata-kata ini(dalam hati juga sempat berguman, yang gampang plus simpel aja masih banyak berstatus teori tanpa aplikasi, ngapain mikir yang susah-susah). Jujur, tidak ada arti khusus yang berbau philosofi yang menjadi landasannya, demikian aku berusaha mengelak.
Sang teman terus mengejar, minta penjelasan. Akhirnya, saya mengatakan bahwa kata kunci kedua pasangan kata-kata tersebut, keduanya jalan berbarengan. Akal dan budi harus jalan bersama sembari tetap menjaga "balance" antara keduanya. Dan kedua-duanya sesuatu yang mutlak dibutuhkan dalam kehidupan ini. Budi tanpa akal, tidak akan menghasilkan sebuah kemajuan yang berarti. Peradaban manusia akan stagnant, cenderung jalan di tempat. Sementara akal tanpa budi, sebuah sosok yang sangat menakutkan. Kalau keadaan ini terjadi, hampir pasti peradaban bukan saja stagnant, malah akan mengarah ke sebuah kehancuran.
Ternyata, teman tersebut bisa menerima penjelasan singkat tentang akal dan budi tersebut. Tapi tatkala beliau berlanjut ke pasangan yang kedua, "cinta dan kehidupan", saya mulai bingung mau menjelaskannya seperti apa. Betul bahwa saya punya dasar pemikiran memadukan kedua kata-kata itu, tapi secara jujur saya akui waktu itu, sungguh susah saya mendapatkan racikan kata-kata yang dirasa pas untuk menjelaskannya. Jawaban saya berbau pembenaran, tapi dari pada saya jelaskan dan justru beliau bingung dan sayapun bisa jadi juga ikut tambah bingung, akhirnya menempuh jalan selamat dengan jawaban di atas. Anda harus puas dengan kata-kata kunci "selaras" dan "keseimbangan" saja, demikian saya memohon untuk beliau tidak bertanya lebih dalam.
Menulis Tema Cinta
Terus terang sampai saat ini saya belum bisa mendefinisikan secara gamblang makna "cinta & kehidupan" ini. Saya seakan-akan merasa tiada bisa berkutik, bila disodori tema tentang cinta untuk dijadikan sebuah tulisan. Kepala ini terasa kosong dan bingung harus mulai dari mana. Semoga ini bukan sebuah indikasi, bahwa ternyata di ruang-ruang jiwa yang paling dalam ini, ada semacam trauma terhadap kata-kata cinta itu sendiri.
Inspirasi tulisan sendiri, kadang saya ambil dari coretan sederhana yang sempat terlintas di depan mata. Bisa dari coretan di tembok, kata-kata "mutiara" di bak sebuah truk, atau bahkan kata-kata reklame sebuah produk yang terpampang megah di pinggir jalan dalam kota. Dari situ, kepala ini diajak mikir, menghubungkannya dengan kehidupan sehari-hari. Dan pada umumnya tema tulisan yang ada di blog ini, kebanyakan hal sederhana, yang bisa jadi semua orang sudah tahu, bukan ilmu baru yang membutuhkan penjelasan logika kompleks sebagai unsur pembuktian kebenaran isi.
Cinta & Kehidupan
Kebetulan, hari minggu yang lalu, saya mendapatkan sebuah inspirasi baru dari sebuah lagu lama yang populer di era 80-an,
....
Cinta itu anugerah
Maka berbahagialah
Sebab kita sengsara
Bila tak punya cinta
Rintangan pasti datang menghadang
Cobaan pasti datang menghujam
Tapi yakinlah bahwa cinta itu kan...
Membuatmu
Mengerti akan arti kehidupan
....
Mata ini membelalak terang bak abis ditetesi cairan penyegar mata "Rohto', serasa seperti mendapat ilham. Kepalaku mengiyakan. Mulut tersenyum model setengah sinis dan rasa bangga. Seperti itulah sebenarnya makna "Cinta & Kehidupan" yang tergambar dalam pikiranku. Bisa banyak kata yang mendeskripsikannya, tapi pada dasarnya cinta berhubungan erat dengan kehidupan, jalan bersama dan saling terkait.
Tanpa cinta, kehidupan ini akan menghadapi malapetaka, kehancuran. Semua akan berjalan dengan dorongan keegoan masing-masing. Karena cinta sendiri adalah pilar penopang utama kehidupan ini. Atau bahkan, kehidupan sendiri tidak akan ada tanpa cinta. Sementara cinta tidak ada gunanya tanpa kehidupan. Atau bahkan cinta itu sendiri tidak akan ada tanpa kehidupan, karena memang tempat berpijaknya di kehidupan itu sendiri. Jadi, ketiadaan cinta bukan lagi menyebabkan kehidupan kita jadi sengsara seperti syair di atas, malah kehidupan itu sendiri akan terancam.
Cinta, Nikmatilah!
Menyontek bait-bait lagu di atas, sebuah cinta patut kita syukuri, karena memang itu adalah sebuah anugerah. Yang Kuasa-lah yang memberikan rasa cinta itu. Jadi cinta bukanlah sesuatu yang harus diberangus, dilawan, bagaimanapun bentuknya sepanjang cinta itu murni, karena cinta itu pada hakekatnya mulia. Kita justru harus berbahagia menyambutnya. Karena sebagaimana keberadaannya sebagai sebuah anugerah, melawannya bisa jadi memberikan label ke kita sebagai manusia ingkar nikmat.
Nikmatilah cinta selayaknya anugerah-anugerah lain. Karena menikmatinya secara positif, bisa bermakna sebuah wujud kesyukuran juga. Tabiat manusia yang cenderung cinta kepada harta benda, perhiasan pun sebuah anugerah. Wajib menikmatinya, yang tentu di jalan yang benar.
Seorang suami misalnya, punya rasa cinta ke selain istri, pun sebuah anugerah. Tapi jangan kebakaran jenggot dulu. Karena cinta jenis ini, ada kekompleksan batasan norma agama dan etika budaya yang mengaturnya. Walaupun demikian, tetap tidak menggugurkan wujudnya sebagai sebuah anugerah, yang sah-sah saja untuk dinikmati, tentu sepanjang masih dalam koridor bisa dipertanggung jawabkan ke diri sendiri, orang-orang di sekitar, dan lingkungan secara luas, termasuk Yang Maha Memberikan rasa itu sendiri.
Bagaimana dengan anda? Mampukah menikmati cinta selayaknya sebuah anugerah dalam kehidupan anda? Jawabannya kembali ke diri anda sendiri, dan sayapun akan berusaha menikmati anugerah cinta yang telah dikucurkan oleh-Nya. (af@jkt, 20 Pebruari 207)
Rumah sederhana - justru banyak orang sekarang yang mendambakan konsep rumah sederhana untuk desain arsitektur rumahnya. Beberapa faktor yang membuat seseorang lebih menyukai rumah sederhana ketimbang rumah besar, antara lain sebagai berikut
Jangan Mem-biasa
Warga Jakarta dan sekitarnya resah karena aktifitas nyaris lumpuh total yang diakibatkan oleh banjir. Tetangga, seorang pengusaha marah-marah kepada petugas PLN, karena lampu mati 5 hari 5 malam. Operasi pabriknya berhenti total. Bisa ditaksir berapa kerugian yang dideritanya. Sementara penyebab matinya lampu di kawasannya hanya disebabkan hal sepele, yang kalau mau diadakan pembetulan, tidak membutuhkan waktu lebih dari 30 menitan. Sang pengusaha ber-gender wanita yang konon berteman akrab dengan beberapa pejabat puncak negeri ini pun mendatangi kantor PLN.
Pelayanan santai petugas yang melayani, kontan memompa jaringan pembuluhnya hingga darah ngumpul di ubun-ubun. Amarah tidak bisa terbendung lagi, sehingga kata-kata yang tidak me-manusia pun spontan mengucur bak dikomando, "Anjing lho! Sudah melihat warga sengsara diam aja, santai. Pengen minta disogok dulu baru mau bergerak kan? Mau duit berapa sih? Kampret! Mau dikerjain atau lho semua di sini mati berdiri? Bla..bla...bla(sensor)". Sang petugas tidak bisa berkutik sama sekali, selain melapor ke atasannya.
Tak lama kemudian, sang atasan pun datang membawa janji-janji, "Secepatnya kita perbaiki, Bu!". Sang pengusaha masih membentak, "Secepatnya apaan? Janji lagi? Kami sudah bosan dengan janji-janji palsu. Perbaiki sekarang juga, titik!". Ujung-ujungnya, terjadi kesepakatan, malam ini juga dijamin lampu di kawasan sang pengusaha mengoperasikan usahanya akan selesai diperbaiki. Secara terpaksa, urusan uang rokok-pun di-iya-kan sama sang pengusaha.
Akhirnya, beliau pulang masih sambil mencak-mencak tapi korbannya bergeser ke anak buahnya sendiri, "loe duduk di belakang, aku aja yang nyopir. Orang-orang di situ, sama aja kaya' loe, maunya santai, gak ada rasa tanggung jawab." Kalau sudah begini, sang anak buah, hanya bisa diam membisu, tanpa mampu mengeluarkan sepatah kata.
Kejadian di atas sebenarnya hanya sekelumit adegan penuntutan hak yang sebetulnya bila saja negeri ini sebuah negara maju, bisa jadi merupakan hal yang wajar. Kewajibanku membayar pajak, membayar beban listrik telah aku penuhi, maka wajar kalau aku menuntut hak-ku juga dipenuhi.
Hanya saja, memang rakyat di negeri ini tidak punya power untuk menuntut apa-apa, kecuali segelintir orang. Hak yang tidak terpenuhi dilihat sebagai suatu hal yang wajar, yang tidak perlu dibesar-besarkan. Wong kita sama-sama manusia, punya kelemahan dan kekurangan. Manusia-manusia kita dalam urusan ini termasuk gampang ber-lapang dada. Sikap memaklumi pun lebih gampang tercipta. Negeri ini memang dihuni oleh orang-orang yang "ramah". Bahkan bencana-pun masih bisa dijadikan bahan candaan, sekedar pelipur lara.
Beberapa hari yang lalu, saya mendapat kiriman ucapan belasungkawa dari beberapa teman, baik dari dalam, maupun dari luar negeri(hihi..., punya teman di luar negeri aja bangga). Karena berita "tenggelam"nya Jakarta memang sudah menjadi berita dunia. Dan mereka-mereka-pun mungkin secara tidak sengaja melihat hingar-bingar warga ibukota yang diserang banjir di media massa dunia.
Ada teman yang melihat sudut lain potret masyarakat kita dalam menghadapi bencana seperti ini. Gambar anak-anak yang bergembira bermain air di tengah banjir pun tak lupa beliau selipkan. Beliau hanya berkomentar, "lucu yah!". 70% ibukota "tenggelam", wajah-wajah masih bisa bergembira. Saya hanya sempat berguman, bahwa seperti itulah masyarakat kami, tidak terlalu dipusingkan oleh hal-hal "sepele" seperti ini. Mau bergembira, dalam musibah pun kami masih sanggup bergembira.
Tatkala ada teman yang berkomentar seakan-akan menyalahkan pemerintah terkait banjir kali ini, teman lain langsung menimpali, "Jangan cuman bisa menyalahkan. Ini adalah bencana. Dan apa sih kekuatan kita menghadapi bencana yang didatangkan oleh Yang Kuasa? Kita terima saja sebuah kenyataan dengan lapang dada, tanpa banyak protes".
Pikir punya pikir, saya sampai pada sebuah kesimpulan, bahwa kita sudah terbiasa. Dan keterbiasaan akan membentuk jiwa yang tidak care lagi. Kalaupun ada riak-riak di masyarakat, tidak akan kedengaran signifikan lagi. Di satu sisi hal ini positif, kita makin bisa berlapang dada menerima kekurangan "orang lain" . Namun di sisi lain, akan berakibat negatif, hal negatif-pun akan jadi biasa. Makin berkurang rasa "koq bagitu?" terhadap berbagai keganjilan yang terjadi di masyarakat. Semuanya akan kembali menjadi biasa, karena kita jadi terbiasa dengan suatu keadaan.
KKN yang tidak pernah memberikan harapan akan ada perbaikan pun kita jadi terbiasa. Sudah sangat tipis perasaan aneh melihat praktek seperti itu terjadi di seputar kita. Semburan lumpur panas, kurang gizi, flu burung, demam berdarah, kecelakaan kereta api yang sudah menelan banyak korban, semuanya berangsur-angsur serasa akan mem'biasa'. Sama dengan kemacetan lalu lintas di ibukota, kita jadi terbiasa. Padahal semua itu bukan hal yang wajar lagi.
Rasa kekhawatiran akan mendidik kita untuk selalu was-was yang seterusnya mengarah ke pencarian solusi, namun bila suatu hal sudah mem'biasa', rasa was-was itupun akan berangsur hilang. Dan keadaan itu sebetulnya sangat menakutkan. Jangan-jangan besok-besok, kecelakaan jatuhnya pesawat penerbangan-pun akan jadi mem'biasa'. Iiihh...Serem! (Af@jkt, 10 Pebruari 2007)
Pelayanan santai petugas yang melayani, kontan memompa jaringan pembuluhnya hingga darah ngumpul di ubun-ubun. Amarah tidak bisa terbendung lagi, sehingga kata-kata yang tidak me-manusia pun spontan mengucur bak dikomando, "Anjing lho! Sudah melihat warga sengsara diam aja, santai. Pengen minta disogok dulu baru mau bergerak kan? Mau duit berapa sih? Kampret! Mau dikerjain atau lho semua di sini mati berdiri? Bla..bla...bla(sensor)". Sang petugas tidak bisa berkutik sama sekali, selain melapor ke atasannya.
Tak lama kemudian, sang atasan pun datang membawa janji-janji, "Secepatnya kita perbaiki, Bu!". Sang pengusaha masih membentak, "Secepatnya apaan? Janji lagi? Kami sudah bosan dengan janji-janji palsu. Perbaiki sekarang juga, titik!". Ujung-ujungnya, terjadi kesepakatan, malam ini juga dijamin lampu di kawasan sang pengusaha mengoperasikan usahanya akan selesai diperbaiki. Secara terpaksa, urusan uang rokok-pun di-iya-kan sama sang pengusaha.
Akhirnya, beliau pulang masih sambil mencak-mencak tapi korbannya bergeser ke anak buahnya sendiri, "loe duduk di belakang, aku aja yang nyopir. Orang-orang di situ, sama aja kaya' loe, maunya santai, gak ada rasa tanggung jawab." Kalau sudah begini, sang anak buah, hanya bisa diam membisu, tanpa mampu mengeluarkan sepatah kata.
Kejadian di atas sebenarnya hanya sekelumit adegan penuntutan hak yang sebetulnya bila saja negeri ini sebuah negara maju, bisa jadi merupakan hal yang wajar. Kewajibanku membayar pajak, membayar beban listrik telah aku penuhi, maka wajar kalau aku menuntut hak-ku juga dipenuhi.
Hanya saja, memang rakyat di negeri ini tidak punya power untuk menuntut apa-apa, kecuali segelintir orang. Hak yang tidak terpenuhi dilihat sebagai suatu hal yang wajar, yang tidak perlu dibesar-besarkan. Wong kita sama-sama manusia, punya kelemahan dan kekurangan. Manusia-manusia kita dalam urusan ini termasuk gampang ber-lapang dada. Sikap memaklumi pun lebih gampang tercipta. Negeri ini memang dihuni oleh orang-orang yang "ramah". Bahkan bencana-pun masih bisa dijadikan bahan candaan, sekedar pelipur lara.
Beberapa hari yang lalu, saya mendapat kiriman ucapan belasungkawa dari beberapa teman, baik dari dalam, maupun dari luar negeri(hihi..., punya teman di luar negeri aja bangga). Karena berita "tenggelam"nya Jakarta memang sudah menjadi berita dunia. Dan mereka-mereka-pun mungkin secara tidak sengaja melihat hingar-bingar warga ibukota yang diserang banjir di media massa dunia.
Ada teman yang melihat sudut lain potret masyarakat kita dalam menghadapi bencana seperti ini. Gambar anak-anak yang bergembira bermain air di tengah banjir pun tak lupa beliau selipkan. Beliau hanya berkomentar, "lucu yah!". 70% ibukota "tenggelam", wajah-wajah masih bisa bergembira. Saya hanya sempat berguman, bahwa seperti itulah masyarakat kami, tidak terlalu dipusingkan oleh hal-hal "sepele" seperti ini. Mau bergembira, dalam musibah pun kami masih sanggup bergembira.
Tatkala ada teman yang berkomentar seakan-akan menyalahkan pemerintah terkait banjir kali ini, teman lain langsung menimpali, "Jangan cuman bisa menyalahkan. Ini adalah bencana. Dan apa sih kekuatan kita menghadapi bencana yang didatangkan oleh Yang Kuasa? Kita terima saja sebuah kenyataan dengan lapang dada, tanpa banyak protes".
Pikir punya pikir, saya sampai pada sebuah kesimpulan, bahwa kita sudah terbiasa. Dan keterbiasaan akan membentuk jiwa yang tidak care lagi. Kalaupun ada riak-riak di masyarakat, tidak akan kedengaran signifikan lagi. Di satu sisi hal ini positif, kita makin bisa berlapang dada menerima kekurangan "orang lain" . Namun di sisi lain, akan berakibat negatif, hal negatif-pun akan jadi biasa. Makin berkurang rasa "koq bagitu?" terhadap berbagai keganjilan yang terjadi di masyarakat. Semuanya akan kembali menjadi biasa, karena kita jadi terbiasa dengan suatu keadaan.
KKN yang tidak pernah memberikan harapan akan ada perbaikan pun kita jadi terbiasa. Sudah sangat tipis perasaan aneh melihat praktek seperti itu terjadi di seputar kita. Semburan lumpur panas, kurang gizi, flu burung, demam berdarah, kecelakaan kereta api yang sudah menelan banyak korban, semuanya berangsur-angsur serasa akan mem'biasa'. Sama dengan kemacetan lalu lintas di ibukota, kita jadi terbiasa. Padahal semua itu bukan hal yang wajar lagi.
Rasa kekhawatiran akan mendidik kita untuk selalu was-was yang seterusnya mengarah ke pencarian solusi, namun bila suatu hal sudah mem'biasa', rasa was-was itupun akan berangsur hilang. Dan keadaan itu sebetulnya sangat menakutkan. Jangan-jangan besok-besok, kecelakaan jatuhnya pesawat penerbangan-pun akan jadi mem'biasa'. Iiihh...Serem! (Af@jkt, 10 Pebruari 2007)
Bukan Alasan Ketidak-bisaan
Ada type orang yang gampang dimintai pertolongan. Karena memang relatif gampang mengiyakan permintaan orang lain. Tatkala ada orang yang bilang, "minta tolong ini yah!", mulut ini tanpa dikasih aba-aba, kadang langsung saja mengeluarkan kata-kata, "iya". Terlepas akhirnya dia sendiri yang kelimpungan. Istilah lebih umumnya, type orang tidak bisa ngomong "tidak". Atau sudah terlanjur taklik buta sama ucapan mantan wapres Adam Malik, "tidak ada yang tidak bisa diatur"?
Di dunia kerja, kadang tatkala kita sedang mengerjakan sesuatu yang diperintahkan sama atasan, tiba-tiba seorang senior datang nyelonong minta tolong sesuatu. Kalau saja kita mampu bilang, "Maaf, saya lagi mengerjakan tugas dari atasan!", bisa jadi pekerjaan itu akan dialihkan ke orang lain. Sementara orang yang bertype seperti ini, akan dengan gampang bilang, "Iya Pak, ntar saya kerjakan". Ujung-ujungnya, kembali lagi akan "menderita" harus meng-handle 2 pekerjaan secara paralel. Dan kadang, karena pikiran yang terbagi, hasilnyapun asal jadi, tanpa mementingkan kwalitet output.
Type manusia seperti ini sering diidentikkan sebagai orang-orang yang bergerak tanpa perencanaan yang matang. Menggampangkan sesuatu. Gampang kebawa arus. Dll dsb.
Namun ada juga pendapat yang mengatakan bahwa orang model ini relatif lebih menjanjikan untuk berkembang. Ke-gampang-annya mengatakan "iya", membuatnya sibuk, bahkan kadang di bawah tekanan yang besar itu yang secara tidak sadar memperluas wawasannya akan berbagai hal. Ke-bisa-annya jadi lebih cepat terasah. Karena konon, kemampuan seseorang akan lebih terpacu dengan adanya tekanan-tekanan tersebut. Pikiran-pun akhirnya jadi terbiasa menyelesaikan lebih dari satu masalah dalam waktu yang sama, dan ini sebetulnya bukan hal yang gampang.
Orang yang gampang mengatakan "tidak bisa", pun sebenarnya tidak salah. Karena sedang menangani suatu pekerjaan, inginnya lebih berkonsentrasi pada pekerjaan tersebut agar bisa menghasilkan sebuah output yang memuaskan. Akibatnya, tatkala permintaan pekerjaan tambahan datang, yang mereka cari adalah "apa alasan ketidak-bisaan", sehingga tidak menjadi repot sendiri dibuatnya. Dan alasan itupun sebenarnya hampir selalu masuk akal.
Sementara orang type "iya", setelah menerima beban pekerjaan tambahan tersebut, akan sibuk mencari "apa jalan/alasan untuk bisa". Wong sudah terlanjur menyanggupi, salah sendiri. Secara sepintas, kelihatan mencari penyakit sendiri. Namun ternyata dibalik itu, otak akan dipaksa mencari "apa jalan untuk bisa" tersebut. Dan itulah salah satu katalis penyebab, mengapa orang bertype "iya" cenderung lebih bisa berkembang dan lebih fleksibel menghadapi trend pekerjaan yang selalu berubah dibanding type kebalikannya.
Intinya, jangan mau disibukkan mencari "alasan ketidak-bisaan", tapi ajaklah otak anda untuk berpikir mencari tahu, "apa jalan untuk bisa". Iya nggak? (af@jkt, 7 Pebruari 2007)
Di dunia kerja, kadang tatkala kita sedang mengerjakan sesuatu yang diperintahkan sama atasan, tiba-tiba seorang senior datang nyelonong minta tolong sesuatu. Kalau saja kita mampu bilang, "Maaf, saya lagi mengerjakan tugas dari atasan!", bisa jadi pekerjaan itu akan dialihkan ke orang lain. Sementara orang yang bertype seperti ini, akan dengan gampang bilang, "Iya Pak, ntar saya kerjakan". Ujung-ujungnya, kembali lagi akan "menderita" harus meng-handle 2 pekerjaan secara paralel. Dan kadang, karena pikiran yang terbagi, hasilnyapun asal jadi, tanpa mementingkan kwalitet output.
Type manusia seperti ini sering diidentikkan sebagai orang-orang yang bergerak tanpa perencanaan yang matang. Menggampangkan sesuatu. Gampang kebawa arus. Dll dsb.
Namun ada juga pendapat yang mengatakan bahwa orang model ini relatif lebih menjanjikan untuk berkembang. Ke-gampang-annya mengatakan "iya", membuatnya sibuk, bahkan kadang di bawah tekanan yang besar itu yang secara tidak sadar memperluas wawasannya akan berbagai hal. Ke-bisa-annya jadi lebih cepat terasah. Karena konon, kemampuan seseorang akan lebih terpacu dengan adanya tekanan-tekanan tersebut. Pikiran-pun akhirnya jadi terbiasa menyelesaikan lebih dari satu masalah dalam waktu yang sama, dan ini sebetulnya bukan hal yang gampang.
Orang yang gampang mengatakan "tidak bisa", pun sebenarnya tidak salah. Karena sedang menangani suatu pekerjaan, inginnya lebih berkonsentrasi pada pekerjaan tersebut agar bisa menghasilkan sebuah output yang memuaskan. Akibatnya, tatkala permintaan pekerjaan tambahan datang, yang mereka cari adalah "apa alasan ketidak-bisaan", sehingga tidak menjadi repot sendiri dibuatnya. Dan alasan itupun sebenarnya hampir selalu masuk akal.
Sementara orang type "iya", setelah menerima beban pekerjaan tambahan tersebut, akan sibuk mencari "apa jalan/alasan untuk bisa". Wong sudah terlanjur menyanggupi, salah sendiri. Secara sepintas, kelihatan mencari penyakit sendiri. Namun ternyata dibalik itu, otak akan dipaksa mencari "apa jalan untuk bisa" tersebut. Dan itulah salah satu katalis penyebab, mengapa orang bertype "iya" cenderung lebih bisa berkembang dan lebih fleksibel menghadapi trend pekerjaan yang selalu berubah dibanding type kebalikannya.
Intinya, jangan mau disibukkan mencari "alasan ketidak-bisaan", tapi ajaklah otak anda untuk berpikir mencari tahu, "apa jalan untuk bisa". Iya nggak? (af@jkt, 7 Pebruari 2007)
Harapan dan Ketergantungan
Seorang teman pernah "menasehati" saya, "Rasa kecewa muncul akibat sebuah harapan yang berlebih". Dan kalau saya pikir, pernyataan itu cukup masuk di akal. Sebuah harapanlah yang bila tidak terwujudkan, akan berujung ke sebuah rasa kekecewaan. Dan makin tinggi harapan tersebut, akan makin dalam juga rasa kecewa yang akan diakibatkannya.
Pernyataan tersebut, mengajarkan agar kita bisa mengontrol harapan yang ada di dada. Dengan itu, derajat kekecewaan yang kemungkinan diakibatkannya bisa terkontrol pula. Cobalah berbuat kebaikan, tanpa berharap akan mendapat balasan dari obyek kebaikan anda. Sehingga, tatkala anda tidak mendapatkan balasan kebaikan-pun, anda tidak akan kecewa. Bahkan, tatkala kebaikan anda dibalas dengan air tuba sekalipun, tidak akan membuat anda seperti luka kesiram cuka.
Demikian juga dengan hal-hal yang berhubungan dengan rasa. Cintailah seseorang tanpa harapan berlebih anda akan dicintai sama persis dengan anda mencintainya. Tebarlah rasa sayang, tanpa mengharapkan balasan langsung. Bukankah kita memang diperintahkan untuk sayang-menyayangi, dan bukan sayang-disayangi. :)
Kalau harapan bisa berujung pada kekecewaan, ketergantungan lain lagi. Kalau ketergantungan tak terpenuhi, hidup serasa sudah mau kiamat. Kepala seperti enggan diajak mikir. Dan kadang, langkah apapun rela dijalani demi mewujudkan ketergantungan itu.
Contoh ekstrem mungkin bisa dilihat pada orang-orang yang sudah dalam tingkat ketergantungan pada narkoba. Seperti itulah sebuah ketergantungan. Tidak ada petuah-petuah manjur yang sanggup me-rem keinginannya untuk ngisap. Tidak ada "ancaman" dokter spesialis yang bisa merasuk masuk di akalnya. Yang ada, aku mendapatkannya atau mati di tempat sekarang juga. Mata jadi gelap, pendengaran jadi mendengung, mulut jadi komat-kamit, dan pikiran cenderung lepas kontrol. Itulah salah satu potret nyata sebuah ketergantungan.
Banjir dan potret keegoan
Sejak hari Kamis lalu, Jakarta dan sekitarnya diserang hujan terus-menerus. Selokan mempet, kali meluap, kotoran dan sampah berbaur jadi satu, menghiasi ruang-ruang yang ada di permukaan ibukota. Tidak ada istilah perkantoran elit. Semua diperkosa oleh besarnya kekuatan alam. Label cantik "kawasan segi tiga emas" misalnya, tiada punya nilai jual sama sekali menghadapi murka alam. Gubernur hanya bisa geleng kepala, presiden hanya bisa merenung memikirkan ketidak beradayaannya masing-masing, seakan slogan cantik, "bersama kita bisa", hanya terasa manis tatkala kata-kata itu diucapkan di mulut.
Jakarta tenggelam, diiringi riuh rendah warga kebanyakan yang nyari selamat. Ayam piaraan jadi rela dikorbankan asal jiwa ini bisa selamat dari amukan banjir. Alat elektronik penghias ruang tamu nan sempit hasil cicilan yang sampai saat ini mungkin belum lunas juga, tidak lagi menarik perhatiannya. Semua ditinggalkan, lari tunggang-langgang. Asal jiwa ini bisa selamat. Spontan pikiran jadi bijak, "harta hilang masih bisa dicari, jiwa melayang tak mungkin kembali".
Warga berpunya pun tidak tinggal diam. Sebagian mengungsi ke hotel mencari selamat. Rumah mewah, harus rela dititipkan ke para pembantu dengan pesan manis, "tolong jagain yah!", seakan tidak mau tau, kalau sang pembantu-pun sebetulnya butuh selamat, sama dengan diri mereka sendiri. Sifat keegoan, menggiring jiwa pada sebuah "judgement" secara tak langsung, bahwa "nyawa aku lebih berharga dari nyawa kalian". Padahal sama-sama manusia, butuh sandang, pangan dan papan. Padahal tiada status kaya-miskin, semua pasti butuh kasih-sayang dan ketenangan. Demikian juga rasa aman dari amukan banjir, baik yang berstatus lokal, maupun kiriman dari daerah lain, semua membutuhkannya.
Ketergantungan listrik
Kembali ke topik awal, bahwa banjir kali ini, juga bisa mengingatkan kita pada sebuah ketergantungan, berapapun level dan tingkatannya.
Tatkala permukaan air sudah merambat ke atap-atap rumah di beberapa kawasan, listrik-pun jadi padam, telpon tidak nyambung, jaringan hp tulalit. Belum lagi air susah didapat akibat listrik yang tak kunjung mengalir. Sementara, mau jalan tidak memungkinkan karena jalanan sudah terlanjur diblokir secara alamiah oleh banjir, tanpa melibatkan petugas pengatur lalu lintas yang kadang kelihatan lebih menampakkan wajah berkuasa dibanding tugas yang sebenarnya yakni melindungi masyarakat itu.
Kulit pun sudah mulai terasa gatal-gatal akibat seharian tidak mandi, juga udara lembab karena kucuran hujan secara terus-menerus. Tatkala malam mulai gulita, pilihan mau tak mau jatuh lilin, karena tidak ada alternatif lain sebagai sumber penerangan. Kadang masih sempat menatap lilin sembari nyanyi-nyanyi kecil menghibur diri, "panjang umurnya...panjang umurnya...", sementara yang ulang tahun sebenarnya tidak ada. Yang menjadi panjang adalah penderitaan karena tidak adanya pasokan listrik.
Malam dan hari pertama tanpa pasokan listrik bisa terlewati, akan mulai terasa betapa hidup ini tersiksa tanpa aliran listrik. Dan kemungkinan agak susah membayangkan bila keadaan ini terus-menerus bertahan, seminggu, sebulan, setahun, dan seterusnya. Dunia pasti akan terasa seperti mau kiamat. Karena segala-galanya dalam kehidupan kita sudah terlanjur menyatu erat dengan apa yang namanya tenaga listrik.
Yah..., Hidup ini sendiri sudah terlanjur mempunyai unsur ketergantungan pada listrik. Sehingga kelangkaan akan pasokan listrik sungguh terasa sangat menyiksa. Sekali lagi, karena sudah terbentuk sebuah ketergantungan kepada tenaga listrik tersebut. Padahal seorang teman sempat berkelakar, "Dulu di kampung tidak ada listrik, toh anaknya cakep-cakep, pinter pinter pula".
Sebuah harapan memang bisa mengakibatkan sebuah kekecewaan. Namun ternyata bahwa ketergantungan, justru bisa berujung pada sebuah posisi yang kiri salah kanan meleset, maju kena mundur ambruk. Dan ternyata bahwa hal yang kemarin bukan sebuah ketergantungan, hari ini bisa jadi sudah berwujud sebuah ketergantungan, akibat proses hidup yang kita lalui. Bagaimana dengan anda akan sesuatu? Masih sebatas harapan? Atau sudah ber-metamorfose menjadi ketergantungan? (af@jkt, 4 Pebruari 2007)
Pernyataan tersebut, mengajarkan agar kita bisa mengontrol harapan yang ada di dada. Dengan itu, derajat kekecewaan yang kemungkinan diakibatkannya bisa terkontrol pula. Cobalah berbuat kebaikan, tanpa berharap akan mendapat balasan dari obyek kebaikan anda. Sehingga, tatkala anda tidak mendapatkan balasan kebaikan-pun, anda tidak akan kecewa. Bahkan, tatkala kebaikan anda dibalas dengan air tuba sekalipun, tidak akan membuat anda seperti luka kesiram cuka.
Demikian juga dengan hal-hal yang berhubungan dengan rasa. Cintailah seseorang tanpa harapan berlebih anda akan dicintai sama persis dengan anda mencintainya. Tebarlah rasa sayang, tanpa mengharapkan balasan langsung. Bukankah kita memang diperintahkan untuk sayang-menyayangi, dan bukan sayang-disayangi. :)
Kalau harapan bisa berujung pada kekecewaan, ketergantungan lain lagi. Kalau ketergantungan tak terpenuhi, hidup serasa sudah mau kiamat. Kepala seperti enggan diajak mikir. Dan kadang, langkah apapun rela dijalani demi mewujudkan ketergantungan itu.
Contoh ekstrem mungkin bisa dilihat pada orang-orang yang sudah dalam tingkat ketergantungan pada narkoba. Seperti itulah sebuah ketergantungan. Tidak ada petuah-petuah manjur yang sanggup me-rem keinginannya untuk ngisap. Tidak ada "ancaman" dokter spesialis yang bisa merasuk masuk di akalnya. Yang ada, aku mendapatkannya atau mati di tempat sekarang juga. Mata jadi gelap, pendengaran jadi mendengung, mulut jadi komat-kamit, dan pikiran cenderung lepas kontrol. Itulah salah satu potret nyata sebuah ketergantungan.
Banjir dan potret keegoan
Sejak hari Kamis lalu, Jakarta dan sekitarnya diserang hujan terus-menerus. Selokan mempet, kali meluap, kotoran dan sampah berbaur jadi satu, menghiasi ruang-ruang yang ada di permukaan ibukota. Tidak ada istilah perkantoran elit. Semua diperkosa oleh besarnya kekuatan alam. Label cantik "kawasan segi tiga emas" misalnya, tiada punya nilai jual sama sekali menghadapi murka alam. Gubernur hanya bisa geleng kepala, presiden hanya bisa merenung memikirkan ketidak beradayaannya masing-masing, seakan slogan cantik, "bersama kita bisa", hanya terasa manis tatkala kata-kata itu diucapkan di mulut.
Jakarta tenggelam, diiringi riuh rendah warga kebanyakan yang nyari selamat. Ayam piaraan jadi rela dikorbankan asal jiwa ini bisa selamat dari amukan banjir. Alat elektronik penghias ruang tamu nan sempit hasil cicilan yang sampai saat ini mungkin belum lunas juga, tidak lagi menarik perhatiannya. Semua ditinggalkan, lari tunggang-langgang. Asal jiwa ini bisa selamat. Spontan pikiran jadi bijak, "harta hilang masih bisa dicari, jiwa melayang tak mungkin kembali".
Warga berpunya pun tidak tinggal diam. Sebagian mengungsi ke hotel mencari selamat. Rumah mewah, harus rela dititipkan ke para pembantu dengan pesan manis, "tolong jagain yah!", seakan tidak mau tau, kalau sang pembantu-pun sebetulnya butuh selamat, sama dengan diri mereka sendiri. Sifat keegoan, menggiring jiwa pada sebuah "judgement" secara tak langsung, bahwa "nyawa aku lebih berharga dari nyawa kalian". Padahal sama-sama manusia, butuh sandang, pangan dan papan. Padahal tiada status kaya-miskin, semua pasti butuh kasih-sayang dan ketenangan. Demikian juga rasa aman dari amukan banjir, baik yang berstatus lokal, maupun kiriman dari daerah lain, semua membutuhkannya.
Ketergantungan listrik
Kembali ke topik awal, bahwa banjir kali ini, juga bisa mengingatkan kita pada sebuah ketergantungan, berapapun level dan tingkatannya.
Tatkala permukaan air sudah merambat ke atap-atap rumah di beberapa kawasan, listrik-pun jadi padam, telpon tidak nyambung, jaringan hp tulalit. Belum lagi air susah didapat akibat listrik yang tak kunjung mengalir. Sementara, mau jalan tidak memungkinkan karena jalanan sudah terlanjur diblokir secara alamiah oleh banjir, tanpa melibatkan petugas pengatur lalu lintas yang kadang kelihatan lebih menampakkan wajah berkuasa dibanding tugas yang sebenarnya yakni melindungi masyarakat itu.
Kulit pun sudah mulai terasa gatal-gatal akibat seharian tidak mandi, juga udara lembab karena kucuran hujan secara terus-menerus. Tatkala malam mulai gulita, pilihan mau tak mau jatuh lilin, karena tidak ada alternatif lain sebagai sumber penerangan. Kadang masih sempat menatap lilin sembari nyanyi-nyanyi kecil menghibur diri, "panjang umurnya...panjang umurnya...", sementara yang ulang tahun sebenarnya tidak ada. Yang menjadi panjang adalah penderitaan karena tidak adanya pasokan listrik.
Malam dan hari pertama tanpa pasokan listrik bisa terlewati, akan mulai terasa betapa hidup ini tersiksa tanpa aliran listrik. Dan kemungkinan agak susah membayangkan bila keadaan ini terus-menerus bertahan, seminggu, sebulan, setahun, dan seterusnya. Dunia pasti akan terasa seperti mau kiamat. Karena segala-galanya dalam kehidupan kita sudah terlanjur menyatu erat dengan apa yang namanya tenaga listrik.
Yah..., Hidup ini sendiri sudah terlanjur mempunyai unsur ketergantungan pada listrik. Sehingga kelangkaan akan pasokan listrik sungguh terasa sangat menyiksa. Sekali lagi, karena sudah terbentuk sebuah ketergantungan kepada tenaga listrik tersebut. Padahal seorang teman sempat berkelakar, "Dulu di kampung tidak ada listrik, toh anaknya cakep-cakep, pinter pinter pula".
Sebuah harapan memang bisa mengakibatkan sebuah kekecewaan. Namun ternyata bahwa ketergantungan, justru bisa berujung pada sebuah posisi yang kiri salah kanan meleset, maju kena mundur ambruk. Dan ternyata bahwa hal yang kemarin bukan sebuah ketergantungan, hari ini bisa jadi sudah berwujud sebuah ketergantungan, akibat proses hidup yang kita lalui. Bagaimana dengan anda akan sesuatu? Masih sebatas harapan? Atau sudah ber-metamorfose menjadi ketergantungan? (af@jkt, 4 Pebruari 2007)
Subscribe to:
Posts (Atom)