Koruptor & Penyakit

Koruptor adalah orang yang sakit jiwa, atau lebih tepatnya, sakit moral. Dan justru penyakit seperti itu yang sangat susah dicarikan obatnya. Mau berobat ke wakil rakyat yang tentu karena wibawa dan kemampuannya maka rakyat menggantungkan nasibnya kepada mereka, justru menjadi salah satu pemasok koruptor terbanyak. Ke pemuka agama, memang paling menjanjikan, tapi ingat ada juga kyai yang nyolong duit rakyat. Kalau ke penegak hukum, lebih baik jangan berharaf biar tidak kecewa. Disana, banyak keadilan justru diperjual-belikan.

Sakit fisik-pun jadi tren bagi koruptor tatkala mau diperiksa oleh aparat penegak hukum. Ketegaran Pak Harto seakan sirna setelah lengser dari kursi Indonesia satu, bahkan seperti kakek-kakek kebanyakan yang dirundung berbagai penyakit tua, tatkala mau di-meja hijau-kan. Sosok yang tegar itu, hilang entah kemana. Yang ada, Pak Harto yang sudah rentah termakan usia dan dirongrong oleh belasan macam penyakit.

Bukan cuma Pak Harto, sederet pejabat atau mantan pejabat selalu "sakit" kalau sudah diminta pertanggungjawaban penyelewengan jabatan yang dilakukannya. Seakan "sakit" itu sendiri adalah cara terakhir berkelik terhadap tuntutan hukum. Nurdin Halid misalnya, didera berbagai penyakit mulai dari yang berat seperti jantung hingga sekedar sakit perut sewaktu di-meja-hijau-kan tahun 2005 terkait masalah impor gula ilegal 56.000 ton.

Akhir-akhir ini, Irawady Joenoes yang tertangkap tangan mengantongi Rp.600 juta dan US$ 30 ribu dri Freddy Santosa, dirut PT. Persada Sembada. Freddy, berkeinginan tanahnya yang seluas 5.780 meter persegi di Kramat Raya terpilih dibeli Komisi Yudisial, tempat Irawady ngantor, sebagai lokasi kantor barunya. Tak urung, Pria gaek berusia 68 tahun yang mantan jaksa ini berurusan dengan penegak hukum, dan sekaligus terancam tercongkel dari kedudukannya sebagai anggota KY.

Ternyata, Irawady pun sudah lihai menggunakan jurus ampuh seorang koruptor, 'sakit'. Dari penyakit jantung, prostat hingga maag akut, diakui semua berkumpul menggerogoti kesehatan Irawady. Bahkan konon beliau sempat pingsan di tengah proses pemeriksaan.

Lain lagi dengan Widjanarko Puspoyo, mantan Direktur Utama Perum Bulog, terkait masalah korupsi dan sakit. Ia didudukkan di kursi persidangan karena dugaan korupsi pengadaan sapi potong, menjual beras kepada Ascot Commodities Nv, dan menerima hadiah dalam pengadaan beras impor oleh Perum Bulog. Di ruang sidang yang disaksikan langsung oleh istri dan anak-anaknya, Widjanarko malah sampai pingsan, jatuh dari kursinya. Akhirnya, beliau dilarikan ke Rumah Sakit Pusat Pertamina(RSPP). Dengan ditemani beberapa jaksa, namun tak lama kemudian beliau dikembalikan ke LP Cipinang, tempatnya ditahan sejak 20 Maret 2007.

Menurut pengakuannya, beliau menderita penyakit jantung. Banyak kemiripan dengan penyakit yang sering diderita oleh para koruptor bila sudah disidang di pengadilan. Bahkan lewat pengacaranya, Widjanarko ngotot memohon agar dirawat inap, namun menurut pemeriksaan dokter hanya rawat jalan, akhirnya dikembalikan ke LP Cipinang. Kajari Jakarta selatan mengungkapkan bahwa pemeriksaan seluruh tubuh dan syarafnya telah dilakukan, tapi tidak ditemukan pendarahan atau sakit apapun. Karena hasil dokter membuktikan dia sehat, maka langsung dibawa kembali ke LP.

Berhubungan dengan koruptor dan penyakit ini, ada pengalaman yang sangat menggelikan terjadi di awal tahun 2005 lalu. 12 mantan anggota DPRD Banyumas periode 1999-2004, tersangka korupsi APBD, beruntun jatuh sakit. Terlepas itu memang sakit benaran atau rekayasa, cerita ini tetap bisa menjadi bahan degalan di terminal ojek. Sakit koq berjamaah. Dan itu setelah ditahan sebagai tersangka kasus korupsi.

Dulu, saat kasusnya di-meja-hijau-kan, Abdullah Puteh pun sempat mengaku sakit. Namun setelah diperiksa tim dokter KPK, dia dinyatakan sehat-sehat saja. Ternyata buat seorang tersangka kasus penyelewengan uang negara, sakit pun sudah bisa diatur, bahkan kadang terkesan dipaksakan.

Pengakuan sakit seorang terdakwa, khususnya kasus korupsi, tidak boleh langsung dipercayai. "Bisa saja itu hanya trik untuk memperlambat proses pengadilan", demikian seorang aktivis Indonesian Crruption Watch(ICW) Emerson Yuntho mengungkapkan. "Ini sudah menjadi tren", ujarnya.

Jadi...., jangan heran seorang terdakwa kasus korupsi sering sakit-sakitan. Itu memang sudah trend. Artinya, para koruptor sudah berhasil menyandingkan 2 kata jadi serasi, korupsi dan sakit. (af@jkt, 22 Oktober 2007)

Malaysia & Keangkuhan

Malaysia di mata rakyat republik ini sudah kelihatan bak seorang kerabat yang mulai belagu hanya dikarenakan perbedaan nasib dan suratan takdir. Mereka cenderung lebih punya kebebasan finansial, sementara kita masih harus rela menjadi babu untuk sekedar bisa bertahan hidup.

Ada TKI ilegal yang dikejar sana-sini bak anggota jaringan terorisme Azahari, disiksa tidak dengan semestinya. Padahal, mereka pun berkontribusi besar dalam pembangunan ekonomi negeri itu. Kalaupun ada sisi negatifnya, toh begitulah kehidupan, jangan berharap dapat untung 100% persen dari sesuatu, tanpa ada sisi negatifnya, sekecil apapun itu. Akibatnya, pemerintah Indonesia pun turun tangan, memulangkan sebagian kecil TKI-TKI ilegal tersebut. Sayang...., tidak ada pejabat yang istri atau sanak keluarga dekatnya jadi TKI ilegal ke Malaysia, sehingga gaungnya pun sudah tidak sesuai dengan porsinya.

Yang legal pun, bukan tidak punya masalah sama oknum di sana, termasuk TKW. Sudah terlampau banyak berita mengenai TKW yang cacat fisik atau bahkan meninggal dunia karena disiksa majikan di negerinya Siti Nur Halizah itu. Konon ada 3 jenis penganiayaan oleh sang majikan, sesuai dengan ras mereka majikan. Suku India, cenderung punya catatan hitam memperkosa sang TKW yang jadi pembantu di rumahnya. Bila sang majikan adalah ras Chinese, kekerasan yang sering muncul adalah penganiayaan fisik, sampai tidak memberi makan selayaknya. Lain lagi kalau yang menjadi tuan rumah adalah rumpun Melayu. Kekerasan mereka lebih kepada tidak memberinya upah sesuai dengan hasil kerja sang TKW-TKW tersebut.

Penganiayaan oleh oknum pemerintah juga banyak dialami oleh orang indon di negeri yang sebagian besar raja-rajanya adalah keturunan Bugis Makassar itu. Rata-rata semuanya dilatar belakangi oleh sebuah alasan memburu TKI ilegal. Kasus Donald Pieter Kolopita, Ketua Dewan Wasit Karate Indonesia adalah contohnya. Terakhir, Muslianah Nurdin, seorang istri Diplomat RI ditangkap oleh rela, pasukan relawan negeri jiran itu. Beliau digiring relawan Malaysia khusus imigran gelap itu dari sebuah pusat perbelanjaan. Kedua kasus ini langsung mencuat ke permukaan, karena yang kena getahnya adalah seorang wakil negeri ini. Kasus lain, termasuk apartemen mahasiswa yang diobok-obok dengan alasan mencari imigran gelap, bukan lagi hal yang sangat aneh.

Kasus Ambalat beberapa tahun yang lalu jadi contoh nyata keangkuhan mereka. Merasa diri sudah setingkat dua tingkat lebih tinggi dari negeri ini. Akibatnya, sudah mampu menampakkan ke-latah-annya menghadapi bangsa serumpun, Indonesia.

Di bidang Teknologi dan keilmuan pun sama. Ada kasus batik yang dipatenkan oleh ilmuwan mereka. Padahal anjing pun sudah tau dari dulu kalo batik itu asli turun temurun dari tanah Jawa. Protespun hanya direspon dengan diam, seakan-akan dengan sinis berucap, "Kamu masih terlalu bodoh untuk sekedar mematenkan batik, jadinya kami ambil alih. Siapa yang salah?"

Tatkala Raihan, menghiasi hari-hari Ramadhan di layar kaca Indonesia, tatkala Siti Nurhalizah meraup banyak rupiah dari hasil penjualan lagu2 merdunya di negeri ini, "Rasa Sayange" yang konon asli lagu daerah Ambon manise sana, juga tak luput mereka klaim budaya milik sendiri. Alhasil, lagu itu sukses jadi tema song dalam ajang promosi keparawisataan negeri itu. Dalihnya brilliant bin ampuh, "Silakan buktikan kalo itu bukan milik bersama".

Memang banyak tingkah yang menandakan keangkuhan yang Malaysia perlakukan terhadap Indonesia. Bahkan hampir di semua sudut kehidupan. Dan kita yang memang secara strata sosial di bawah mereka, hanya bisa ngomel minta belas kasihan, merasa sebagai golongan yang tertindas. Apakah usaha kita itu akan berhasil? Hampir pasti tidak. Kita tidak mungkin bisa dikasihani hanya dengan modal "serumpun". Dan belas kasihan tidak akan mampu memecahkan masalah. Yang perlu adalah, semangat untuk bisa lebih tinggi dari mereka. Dengan itu, secara otomatis pelecehan-pelecehan yang ada akan berkurang drastis. Tidak percaya? Silakan buktikan saja dulu. (af@jkt, 9 Oktober 2007)

Artikel terkait: Martabat & Pelecehan

Setan-Setan Ramadhan

Jalanan bisa jadi tempat bermunculannya para setan. Mereka tidak mengenal bulan puasa, di mana setan-setan seharusnya sedang terbelenggu. Jalanan masih saja jadi ruang empuk setan berkeliaran. Terlebih menjelang Magrib.

Seharian menahan lapar dan dahaga, menjelang pulang ke rumah, yang waktu berbuka tinggal dalam hitungan detik, di jalanan itu, kesabaran terkapar. Betapa besarnya daya godaan setan jalanan menjelang magrib datang. Yang satu menyerempetkan motornya seakan tidak kenal mati tersenggol. Dalam hati terbersit rasa bangga, rasa ke-jawara-an dalam bermotor. Pengemudi mobil yang terpaksa me-rem mendadak hanya bisa berucap, "kampret...., dah mo mati kalee yah". Emosi menyapu bersih kesabaran dalam seharian berpuasa.

Sang angkot datang nyelonong melaju di jalur berlawanan di sebelah kanan. Penumpang hanya tersenyum kecil, pengen menepuk bahu sang sopir angkot tanda kesalutan. Lupa kalau dengan itu, nyawa mereka terancam. Lalu sang sopir, dengan gagah berani memaksakan moncong angkotnya myelinap masuk di sela deretan mobil yang dari tadi sabar ngantri, yang lagi khawatir jam berbuka kemungkinan tidak terburu lagi.

Kontan, setan di seluruh tubuh bagai dibangunkan serentak. Bulu kuduk berdiri menahan amarah. "Emang loe kira kami tidak pengen cepet nyampe?". Tombol klakson diteken tiada henti tanda ketidak setujuan akan ulah sang sopir angkot. Sementara sang "empunya jalanan", tanpa perasaan bersalah sama sekali, tetap sedikit demi sedikit maju pelan-pelan dan akhirnya berhasil masuk di deretan antrian. Bunyi klakson yang meraung-raung, dianggapnya alunan musik dangdut, yang justru direspon dengan goyangan tanda kemenangan. Masa bodo dengan orang-orang sekeliling..., yang penting bisa mengejar setoran, demi sesuap nasi anak-bini di rumah.

Iyah..., pemandangan itu justru kelihatan lebih sering terjadi di bulan ramadhan seperti ini, Terutama menjelang saat-saat berbuka puasa, sementara kendaraan yang dinaiki masih berkutat dengan kemacetan di tengah jalan. Kita masih berpuasa sebatas menahan lapar dan dahaga. Emosi kita masih gampang tersulut untuk urusan pengen cepat menikmati berbuka puasa di rumah.

Untuk urusan tanah, di salah satu daerah di negeri ini, antara aparat dan penduduk saling beradu mulut, yang bahkan sampai beradu otot. Wajah mereka sangar, layaknya wajah setan2 yang siap melemparkan amarah. Tidak ada istilah "lagi menahan", puasa lahir dan bathin.

Di Makassar sana, sekumpulan mahasiswa sedang beraksi menghancurkan kaca-kaca kampusnya sendiri. Meja belajar, tak luput jadi sasaran, diubah wujud jadi abu. Emosi di dada, tidak sanggup diredam hanya dengan berpuasa. Dengan kata lain, makna berpuasa yang sesungguhnya tidak meresap ke dalam hati nuraninya. Akibatnya, kebijakan sang rektor yang dianggap salah, kaca yang tidak berdosa yang jadi korban. Andai saja mereka bisa berbicara, secara serentak akan berucap, "wahai jiwa-jiwa yang sedang berpuasa..., janganlah kalian menghancurkan kami, yang tidak berdosa ini, karena justru kerugian kolektif yang anda akan terima. Kami tidak berdosa sama sekali".

Ternyata, di Jakarta pun ada juga tawuran antar mahasiswa. Bahkan penyakit lama, tawuran antar pelajar, kembali terjadi. Justru semuanya ada di saat bulan ramadhan, bulan penuh magfirah ini.

Para pejabat negara, pun tidak lepas dari ganasnya rayuan setan di bulan Ramadhan. Irawady Joenoes, anggota KY ternyata tertangkap basah mau memperkaya diri sendiri dari uang rakyat. Pun itu di bulan ramadhan. Apalagi menjelang minggu2 terakhir bulan puasa, kadang banyak oknum pemerintah yang mencari jatah kemana-mana. Tak peduli, yang diperas akan bangkrut, atau minimal tidak jadi mudik ke kampung halaman. Di awal Ramadhan, ada Nurdin Halid, yang harus dijebloskan ke penjara untuk yang kedua kalinya, karena keserakahan akan harta benda, sehingga yang bukan haknya pun diembat.

Bulan puasa adalah bulan kedamaian. Seharusnya hidup ini dipenuhi oleh kelemah-lembutan, dan bukan keserakahan dan amukan emosi. Namun kenyataan di lapangan, justru memperlihatkan fenomena sebaliknya. Ataukah setan memang sengaja mengamuk menjelang berbuka puasa, setelah seharian terbelenggu? Wallahu alam.

Pemandangan itu baru terlihat di depan mata saya beberapa hari yang lalu. Di jalur lain di jalan raya, ada sebuah mobil sedan menabrak X-trail yang lagi berjalan pelan-pelan di depannya karena sedang mengantri di pintu tol. Tabrakan memang tidak begitu keras, namun kalau melihat kelabilan emosi manusia di jalanan termasuk di bulan Ramadhan ini, minimal perang mulut sudah bisa dibayangkan akan terjadi.

Pengemudi depan, turun pelan-pelan, yang mau tak mau diikut pengemudi belakang. Dan semua mata dah tertuju ke sana, membayangkan minimal adu mulut akan dimulai. Namun ternyata malaikat masih lebih berpihak kepada mereka. Pengemudi depan justru tersenyum mendekati pengemudi belakang sambil sesekali melihat ke arah bagian yang kena tabrak. Senyuman itu disambut oleh pengemudi belakang. Sehingga yang ada, mereka justru bersalaman. Dari jauh aku hanya bisa menduga percakapan yang terjadi, "lain kali, kita sama-sama hati-hati dalam mengemudi yah!". Betapa indahnya. (af@jkt, 8 Oktober 2007)

HermanLaja.COM