Sebuah Gelar

Sekitar lima tahun yang lalu, saya sempat berdiskusi sama seorang teman tentang susahnya meraih gelar dua huruf, doktor. Teman tersebut yang notabene lulusan universitas top negeri ini, harus tunggang-langgang dan kembang kempis serta sesekali menggerutu memikirkan perkembangan penelitiannya yang tidak maju-maju. Paper yang dikirim ke jurnal international, hampir selalu dibalas dengan statement penolakan. Padahal salah satu persyaratan menyelesaikan program pendidikan S3-nya adalah bisa menelorkan beberapa paper di jurnal International. Rasa stress menyelimuti kehidupan kesehariaanya. Lalu tanpa disadari, dia mengeluarkan kata-kata "rasa iri" akan banyaknya orang-orang negeri ini yang dengan begitu gampangnya memasang titel se-level S3 di belakang namanya, tampa diketahui kapan mereka melakukan pendidikan S3. Apa thesis yang begitu diakui dunia, sehingga begitu "gampang" mendapatkan titel tersebut. Berbagai macam pertanyaan yang bernada menuntut keadilan akan masalah yang dia hadapi.

Beberapa bulan yang lalu, pada perusahaan pertama saya masuki di tanah air ini, saya pernah "dipaksa" oleh atasan untuk menuliskan embel-embel gelar yang saya punya di belakang nama pada kartu nama yang akan dibuat. Dengan beribu macam alasan sang atasan, akhirnya gelar itu-pun resmi nempel di belakang kartu nama saya. Sebuah pengalaman pertama buat saya, memiliki nama yang lebih panjang dari biasanya. Walau dalam hati ini timbul berbagai macam pertanyaan, "Seberapa tingkatankah harga diri ini akan terdongkrak oleh gelar tersebut?". Karena memang bidang yang saya masuki waktu itu, sama sekali tidak ada hubungan dengan bidang ilmu yang saya geluti sehingga bisa menggapai gelar yang sangat tanggung itu. Dan sesuai pengalaman yang pernah saya alami, hanya di negeri ini, embel-embel seperti itu terasa ditonjolkan melebihi dari kapasitas yang seharusnya.

Apakah masyarakat ini memang sedemikian haus akan yang namanya gelar? Sehingga mengharuskan peminat sebuah jabatan dan kedudukan berlomba-lomba mencari gelar tersebut? Masih segar dalam ingatan, betapa banyak calon wakil rakyat dalam pemilu lalu, yang kedapatan menggunakan ijazah palsu. Padahal belum pasti bahwa dengan adanya titel yang seakan-akan mencerminkan tingkat kecerdasan pemilik, akan ikut punya andil dalam memperjuangkan hak-hak dan suara rakyat yang diwakilinya.

Di negeri ini, gelar instant ini begitu diburu-buru oleh orang-orang yang berkepentingan. Yah..., dari pada susah-susah sekolah, dan belum tentu gelar yang diiinginkan itu bisa diraih, memang lebih gampang mengeluarkan uang dari saku untuk "membeli" sang gelar. Maka menjamurlah praktek bisnis semacam IMGI, yang saat-sat terakhir ini banyak mendapat sorotan media. Konon banyak petinggi dan mantan petinggi negeri dan daerah se-nusantara yang bisa memperpanjang gelar di sekitar namanya, lewat jalur seperti ini. Karena jalur ini memang sangat menggiurkan kalau memang niatnya hanya mengejar sebuah gelar. Bayangkan, gelar S3 cukup dibeli dengan lebaran uang mulai dari 5 jutaan. "Mahasiswa"nya tidak perlu repot-repot kuliah. Setelah membayar "uang kuliah", undangan untuk acara wisudahan yang kebanyakan digelar di hotel-hotel berbintang pun diterima. Di hotel berbintang tersebut, toga sebagai simbol wisudahan-pun dipasangkan. Dengan toga-toga itu, bisa berfoto bareng bersama keluarga, diiringi gelak tawa perasaan kepuasan.

Ada seorang kolumnis yang dalam tulisannya mengatakan bahwa larisnya gelar "palsu" ini bukan disebabkan oleh keadaan masyarakat ini yang katanya "gila" gelar, seperti yang dituduhkan oleh kebanyakan orang. Kenyataannya, mereka yang terlibatpun memang orang-orang yang waras, sadar, dan cerdas berhitung nilai ekonomi sebuah komoditas dalam pasar yang namanya masyarakat industrial. Dan mungkin saja tidak akan ada yang peduli dengan "gelar-gelar" itu manakala tidak ada nilai ekonomi yang terkait di situ. Jadi, menurut pendapat sang kolumnis ini, yang dikejar bukanlah gelar atau kehormatan itu sendiri, tetapi keuntungan ekonomis. Bahkan "harga" itu bukan hanya sebatas keuntungan dari segi ekonomi, namun juga secara gengsi sosial, wibawa budaya, atau gertak politik.

Tapi, sebegitu tinggi itukah nilai-nilai yang diimbaskan oleh sebuah gelar? Lalu sampai tega menambah kompleks anekdot klasik negeri ini, "Uang haram aja susah, apalagi yang halal!", lalu ramai-ramai mengejar uang, tak peduli itu halal atau haram. "Gelar instant aja susah, apalagi mengejar yang namanya gelar resmi". Saya khawatir, keadaan seperti ini akan semakin memperburuk suasana. Semakin menambah antrian panjang masyarakat yang saling sikut-sikutan demi ego masing-masing. Kepedulian sosial semakin menjadi barang langkah. Kejujuran tinggal sebuah cerita masyarakat di zaman para nabi. Sementara saat ini, sudah bukan zamannya lagi.Sungguh sebuah kenyataan yang sangat mengerikan ditinjau dari segi nilai-nilai kemanusiaan.

Gelar-gelar palsu ini hanya bisa menjadi berita, tatkala orang-orang besar menjadi obyeknya. Masyarakat tidak akan peduli, kalau saja pemegang "gelar-gelar" tersebut hanyalah orang-orang pinggiran yang memang tidak mampu masuk lewat pintu depan dengan alasan keterbatasan keadaan perekonomian. Dan kenyataanya, bahwa pangsa pasar lembaga seperti IMGI ini, memang kalangan orang-orang terpandang. Dari perwira hingga selebriti, pejabat hingga ketua yayasan.

Harus diakui, titel di depan atau di belakang nama memang membanggakan. Ditambah lagi bahwa kebanyakan masyarakat kita juga masih mendewakan gelar. Mereka yang menyandang gelar doktor sudah pasti akan mengudang decak kagum orang-orang sekeliling. Bahkan titel sarjana-pun cukup menambah rasa percaya diri. Saking populernya, belakangan gelar atau titel akademis seperti tidak lagi mengenal proses. Dan orang memang tidak mau tahu di mana penyandangnya bersekolah, berapa biaya-nya, apa topik skripsi atau disertasinya, berapa lama ia kuliah. Itu semua tidaklah sepenting titel pada namanya. Dengannya, orang merasa memiliki kedudukan yang lebih tinggi, kemuliaan dari masyarakat sekitar, serta pengakuan akan kepandaian-nya yang luar biasa. Padahal sebetulnya sebuah gelar seharusnya adalah sebuah imbas dari rentetan proses yang lumayan panjang.

Di satu sisi, betapa banyak anak negeri yang sudah berhasil meraih gelar-gelar tinggi secara murni di berbagai instansi-instansi pemerintah di tingkat pusat, tapi mereka justru seakan merasa kecewa karena ternyata hasil cucuran keringat dan segudang penderitaan tatkala bergelut di universitas-universitas ternama di negara-negara maju tidak mendapat respon yang positif dari sang atasan. Reward yang mereka dapatkan tidak jauh beda dengan si guru "Umar Bakri". Padahal sebetulnya mereka-merekalah yang paling kompoten merubah wajah negara ini di masa yang akan datang. Akibatnya jadi disibukkan ngobyek sana-sini demi menyambung hidup keluarga agar sedikit layak. Atau bahkan banyak yang "terpaksa" memilih jalur "braindrain". Betapa ironisnya sesuatu yang bernama "gelar" ini.

Saya tidak tau, bagaimana reaksi sang teman tatkala mendengar "kericuhan" penertiban gelar-gelar instant tersebut oleh pemerintah akhir-akhir ini. Tapi setidaknya hal itu akan sedikit mengobati rasa "sakit hati"nya. Bahwa perjuangannya sedikit bisa dimengerti oleh mereka-mereka yang gila gelar tanpa enggang mengeluarkan keringat untuk meraihnya. (AF, Jakarta, 28 Agustus 2005)

Harta Karun Selayar

Akhir-akhir ini masyarakat Selayar secara umum lagi disibukkan dengan kabar ditemukannya situs harta karun di perairan Selayar. Keramik-keramik antik itu konon bernilai trilliunan rupiah. Lalu siapa yang tidak tergiur. Seperti kata pepatah, "Di mana ada gula di situ ada semut", dari unsur pemerintah sampai perusahaan pelelangan nomor wahid dunia pun sudah kedengaran mulai mengacungkan tangan.

Pemkab Selayar minta bantuan ke pusat untuk meneliti keberadaan harta karun yang diperkirakan merupakan peninggalan Dinasti Sung, 700 tahun yang lalu itu. Lalu mengerahkan aparat kepolisian untuk mengamankan kawasan yang diduga sebagai lokasi tenggelamnya kapal pengangkut harta karun tersebut. Sementara itu, Christy's Auction House, sebuah balai lelang kelas dunia yang berpusat di London sudah mulai tergiur lalu melakukan pengecekan keberadaan barang-barang tersebut.

Penulis sendiri sudah mendengar keberadaan "barang kuno" itu lebih setengah tahun yang lalu tatkala pulang liburan di kampung. Bahkan Patta Lolo, pemuda penyelam dari kampung Sariahang kecamatan Bontomate`ne menceritakan bahwa sudah ada beberapa piring antik hasil "jarahan" dari tumpukan harta karun yang berada di kedalaman 20 meteran di dasar laut itu yang dia sempat jual ke Makassar. Demmasinna, warga kampung Barat Lambongan kecamatan Bontomate'ne, yang sempat diwawancarai sebuah stasiun televisi swasta yang meliput desas-desus harta karun tersebuat, adalah teman nyelam dari Patta Lolo.

Masih menurut Patta Lolo, bahwa situs yang tersebut ditemukan oleh kelompok mereka. Tapi entah hanya karena akal-akalan atau memang fakta yang sebenarnya, bahwa orang lain yang berniat menyelam tumpukan keramik-keramik antik itu, tidak akan menemukannya. Dan mencari piringan atau guci yang masih utuhpun termasuk sulit karena sudah menumpuk dengan keramik-keramik lain yang sudah hancur. Dan situs itu sudah punya "penjaga" yang kelompoknyapun tidak dibolehkan mengambil barang-barang itu dalam jumlah banyak sekaligus. "Penjaga"nya itu yang membuat orang-orang yang tidak "direstui" tidak akan bisa melihatnya walau semisal tempatnya sudah dtunjuki sekalipun. Benar tidaknya cerita ini hanya Allah yang tau sepanjang belum ada berita akurat dari sumber lain.

Terlepas dari benar tidaknya rangkaian cerita yang sudah beredar, tentu kita semua berharaf situs itu memang ada. Sehingga bisa menjadi sebuah sumber pemasukan daerah Selayar, yang seperti berita yang dilansir harian kompas edisi 24 Agustus 2005, merupakan salah satu dari dua daerah rawan pangan di Sulawesi Selatan. Dari segi kesehatanpun termasuk urutan paling buncit dari puluhan daerah tingkat dua provinsi Sulawesi Selatan.

Kalau situs itu memang benar-benar ada, setidaknya bisa menjadi pendobrak perekonomian daerah Selayar, setelah harapan akan adanya kilang minyak investasi sebuah perusahaan Kuwait hampir pupus. Karena dilihat dari keadaan Selayar di berbagai bidang yang kurang kondusif untuk memacu laju perekonomian masyarakat, memang medium yang paling masuk akal adalah datangnya sebuah "mu'jizat" berupa munculnya "durian runtuh". Tanpa hal semacam itu, daerah ini kurang punya potensi untuk beranjak dari posisi buncit kemakmuran daerah, minimal dibanding dengan daera-daerah lain se-Sulsel. Dan mudah-mudahan saja situs harta karun inilah "mu'jizat" yang dinanti-nantikan itu. Itupun kalau aset tersebut masuk ke kas daerah, dan bukannya terbagi-bagi ke kantong-kantong pribadi pengusaha. Semoga!!!(Syafri & AF, Jakarta)
**** Tulisan ini juga dimuat di www.selayar.com

Percaya Diri

Pada sebuah kesempatan, saya ngobrol dengan seorang adik kelas dari SMA 256 Selayar tentang seluk-beluk masa SMA dan universitas. Dia bercerita tentang kegagalannya dalam ujian masuk universitas negeri. Dua kali men-try di ujian tersebut untuk "sekedar" masuk ke Universitas Hasanudin, tapi hasilnya sama, gagal dan gagal lagi. Padahal orang ini katanya merupakan salah seorang dari top three dalam angkatannya di SMA. Ujung-ujungnya dia memuji saya, yang semasa SMA, di kelas saja bahkan pernah masuk 10 besar dari belakang , toh bisa lolos satu demi satu di Ujian Masuk PT Negeri ternama negeri ini.

Cerita tentang hal tersebut saya usahakan tidak melebar ke sana-sini sehingga saya mengatakan bahwa itu tidak lebih dari sebuah kemujuran, nasib baik alias keberuntungan belaka. Toh kita hanya bisa berusaha, dan hasilnya Sang Khalik-lah yang menentukan segalanya. "Tapi semudah itukah yang namanya keberuntungan?", demikian protesnya. Saya hanya bisa mengelak, "Lha, kenyataannya seperti itu!".

Sesuai petuah Konosuke Matsushita, pendiri "kerajaan" perusahaan Electronic Matsushita Group yang di Indonesia lebih dikenal dengan nama anak perusahaannya National Panasonic, tanda-tanya sang rekan dan argumen saya sama-sama benar. Sang Enterpreuner sejati itu mengatakan "Seiko wa un ga yokatta, Sippai wa douryoku ga tarinai". Artinya, kita semestinya memandang sebuah kegagalan sebagai sebuah hasil dari kerja keras yang tidak maksimal. Ada hal yang kurang dari kerja keras tersebut. Sementara bila anda menemui sebuah keberhasilan, ingat bahwa itu tidak lebih dari nasib baik alias keberuntungan lagi berpihak. Ini mengajarkan kita berikhtiar sebisa mungkin serta syukur nikmat dan menutup pintu kesombongan.

Akhirnya saya mengatakan ke sang rekan bahwa ada sesuatu yang kala itu saya punya sementara anda tidak memilikinya. Latihan mengerjakan soal-soal? Doa? Kesabaran? Demikian dia bertanya seakan-akan demikian antusias mengejar apa yang akan saya ucapkan selanjutnya. Apa yang anda ucapkan mungkin saja benar, tapi "sesuatu" yang saya maksud itu adalah "PERCAYA DIRI". Terus terang percaya diri yang entah datang dari mana mengantarkan saya merasa sudah lulus sebelum menjalani test-test tersebut. Dulu, setelah beberapa kali merenung, baru saya sampai pada kesimpulan tersebut. Karena saya tidak mendapatkan alternatif kedua selain kata "percaya diri" tersebut. Karena diri ini memang tidak berani mengklaim kalo otak ini lebih dari ukuran orang rata-rata. Dan memang banyak fakta yang ikut mendukung bahwa derajat intelijensi yang ada di saya tidaklah setinggi dengan apa yang orang-orang sekeliling saya di kampung kira.

Percaya diri? Yah....percaya diri. Dua kata itulah yang punya andil besar mengantarkanku bisa melewati pintu gerbang Unhas, IPB, ITB, STT Telkom, dan terakhir lolos pada program beasiswa luar negeri-nya Habibie, menristek waktu itu. Dan satu kenyataan lain juga mengatakan bahwa dari sekian banyak generasi-generasi pilihan negeri ini, saya memang termasuk urutan buncit dari segi ke-brilyan-an. Hasilnya saya harus tunggang-langgang menghadapi tantangan demi tantangan yang tiada henti-hentinya datang menjenguk. Yah... wajar, wong wujud asli saya sebagai seekor kucing sudah terlanjur masuk ke kandang harimau. Harus banyak-banyak memutar otak membuat bulu-bulu di seluruh tubuh ini berdiri, sehingga sedikit kelihatan berbadan besar.

Percaya diri memang punya daya magic menyulap sesuatu yang pada dasarnya mustahil bisa terselesaikan. Dan tindakan penuh percaya diri menghasilkan cara berfikir yang penuh rasa percaya diri. David J. Schwartz dalam bukunya "The Magic og Thinking Big" menjelaskan 5 tindakan sederhana untuk menumbuhkan rasa percaya diri ini.

Duduklah Selalu di Kursi Terdepan
Dalam sebuah pertemuan yang bagaimana-pun bentuknya orang kebanyakan bergerombol mencari tempat duduk di barisan-barisan paling belakang. Alasannya agar tidak terlalu mencolok. Tapi pada dasarnya bahwa perasaan takut mencolok diakibatkan oleh perasaan kurang percaya diri. Dengan membiasakan duduk terdepan, secara otomatis berimbas tumbuhnya rasa percaya diri itu sendiri. Dan perlu disadari bahwa tidak ada yang tidak mencolok sehubungan dengan sukses.

Biasakan Mengadakan Kontak Mata
Pernakah anda membayangkan seseorang yang tidak mau memandang anda? Tentu akan timbul pertanyaan dalam diri, "Apa yang ia coba sembunyikan? Apa yang ia takutkan? Apakah ia mencoba membohongi saya? Apakah ia menyembunyikan sesuatu terhadap saya?" Dan beribu-ribu pertanyaan lain yang senada. Keengganan mengadakan kontak mata juga disebabkan rasa percaya diri yang terlalu kecil. Sebaliknya, memandang mata lawan bicara, seakan memproklamirkan diri, "Saya jujur dan tulus. Saya percaya akan apa yang saya katakan kepada anda. Saya tidak takut. Saya percaya". Memandang mata lawan bicara bukan saja memberi rasa percaya diri, juga membuat orang lain percaya kepada anda.

Berjalan 25 Persen Lebih Cepat
Gerak tubuh adalah hasil dari tindakan pikiran. Gerak sempoyongan menandakan rasa percaya diri mendekati titik nol. Berjalan lebih cepat dari orang kebanyakan, seakan-akan mengatakan kepada dunia," Saya harus pergi ke suatu tempat yang penting, dan ada hal penting yang harus saya kerjakan. Lebih dari itu, saya akan berhasil". Hal itu membangun rasa kepercayaan diri. Tegakkan bahu anda, angkat kepala, bergerak maju sedikit lebih cepat dab rasakan kepercayaan diri anda berkembang.

Praktekkan Berbicara Terus Terang
Dalam setiap kesempatan, jadilah sebagai pemecah kekakuan, orang pertama yang memberikan komentar. Ketakutan mengeluarkan pendapat apa adanya banyak disebabkan oleh kekhawatiran dalam hati, "Opini saya mungkin tidak berharga. Pendapat saya mungkin menyebabkan saya tampak bodoh.". Ingat, tidak ada manusia yang perfect. Ketakutan berbicara sesuai apa yang ada dalam fikiran hanya akan semakin mengubur keberanian mengeluarkan pendapat yang seterusnya merasa semakin tidak memadai, semakin inferior. Akibatnya, acap kali membuat janji palsu pada diri untuk berbicara "lain kali". Dan setiap gagal berbicara, kita mengambil satu dosis lagi dari racun kepercayaan, menjadi semakin kurang percaya diri. Sebaliknya semakin banyak berbicara, semakin besar menambah kepercayaan diri anda, dan semakin mudah untuk berbicara terus terang pada kesempatan berikutnya.

Tersenyum Lebar
Senyuman adalah obat yang ampuh sekali untuk kekurangan rasa kepercayaan diri. Cobalah tersenyum justru ketika anda merasa takut, niscaya rasa percaya diri akan bertambah dan dengan sendirinya akan mengurangi rasa ketakutan. Karena sesungguhnya rasa takut dan segan adalah buah dari rasa kurang percaya diri. Suatu ketika saya dengan seorang tetangga naik motor di daerah bekasi. Tiba-tiba banyak polisi di depan langsung "priiitttt....", menghentikan motor kami. Sang rekan menghadap di pos-nya untuk menyelesaikan masalah yang kami hadapi. Setelah kedengaran sedikit cekcok antara petugas dengan sang rekan, sayapun ikut masuk. Petugas minta uang denda 50.000 rupiah. Karena merasa tidak melanggar hal yang urgen (pelanggarannya karena melintasi garis putih, yang pada hal-hal biasa sebetulnya tidaklah dipermasalahkan), sang rekan ngotot dan akibatnya sang petugaspun jadi lebih garang. Saya mendekati sang petugas, lalu sambil tersenyum sambil merangkul pundak bilang, "Akh..., bapak baru segitu marahnya kayak sudah mau kiamat aja". Dan cerita-ceritapun mulai berjalan dengan suasana akrab. Petugas-pun bilang, "Memang masyarakat umum tidak tau kalau hal seperti itu adalah sebuah pelanggaran. Tapi teman bapak itu belum apa-apa sudah marah duluan." Setelah suasana sudah semakin akrab, bercerita sana-sini sambil tersenyum, sang petugas bilang dengan perkataan halus,"Udahlah pak, bayar aja 20.000. Itung-itung untuk buat kita beli rokok nich". Dalam hati saya tersenyum lalu meminta teman untuk membayarnya. Dan dari interaksi itu, jelas kelihatan bahwa dengan sapaan pertama dari saya yang diiringi senyuman bersahabat, dia sedikit banyak melihat kalau saya punya rasa percaya diri yang lumayan tinggi. Lalu terjadilah "obral setoran". Itulah salah satu contoh kekuatan dahsyat dari sebuah senyuman. Disamping membuat rasa percaya diri semakin tinggi,juga mengakibatkan lawan bicara jadi segan.

Rasa percaya diri adalah sebuah sikap yang sudah hampir pasti dimiliki oleh orang-orang besar. Karena sekali lagi bahwa aktivitas yang dilandasi oleh rasa percaya diri akan membuahkan sebuah hasil yang optimal. Kesulitan akan lebih bisa diatasi. Percaya diri bukanlah sebuah kesombongan. Karena percaya diri berkonotasi positif, sedangkan kesombongan identik dengan sebuah sikap keangkuhan, menganggap rendah orang lain. Mari praktekkan kiat-kiat yang tersebut di atas, niscaya rasa percaya diri yang sudah copot satu-satu-pun akan bisa dirajut dan dipadukan kembali untuk menatap positif ke kehidupan masa depan ini.(AF, Jakarta, 21 Agustus 2005)

60 Tahun Indonesia Merdeka

Apa itu kemerdekaan?
Kemerdekaan adalah hak segala bangsa. Dan Oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. Demikian beberapa kalimat yang ada dalam pembukaan UUD 45.

Lalu apa sebenarnya yang namanya kemerdekaan? Apakah kita betul-betul sudah merdeka dalam artian yang sebenarnya? Masih ada seribu satu macam pertanyaan menyangkut kata kemerdekaan itu sendiri. Kemerdekaan bagi kita masih lebih cendrung diartikan sebagai kebebasan dari belenggu penjajah bangsa asing. Kemerdekaan masih identik dengan sebuah format komuniti besar yang dipimpin oleh anak negeri sendiri. Dalam ruang lingkup negara berlabel nusantara ini, step awal kemerdekaan identik dengan "naiknya" Sukarno sebagai orang nomor satu di negeri ini.

Gerbang kemerdekaan buat Timor Leste, adalah menghilangnya pasukan bersenjata yang berlabel TNI, terlepas dari kenyataan lain, bahwa pasukan bersenjata multinegara justru menghiasi setiap sudut-sudut negeri. Yang utama bahwa Xanana Gusmao, sang putra negeri duduk sebagai penguasa puncak negeri itu. Keuangan negara bergantung penuh sama uluran tangan bangsa lain, karena uang belanja yang selama ini hampir semua dikuras dari Jakarta, jadi terputus. Kalaupun ada anggaran yang datangnya dari Jakarta, tidak lebih berupa utang atau sebuah hibah yang mengiyakan label "negara gembel".

Sebetulnya dalam UUD 45, arti kata kemerdekaan yang sesungguhnya, sedikit banyak sudah bisa dieja dengan jelas. Kita tidak perlu lagi mengambil defenisi hasil diktean negara asing. Bebas berkumpul, mengeluarkan pendapat adalah salah satunya. Berhak atas penghidupan yang layak, mengenyam pendidikan dan lain-lainnya juga bisa diartikan sebagai makna dari sebuah kata kemerdekaan itu sendiri. Masalahnya akan muncul bila negara punya kemampuan terbatas. Atau lebih tepatnya negara tidak me-mampu-kan diri. Semuanya jadi terbengkalai. Sebagai gantinya, masyarakat dipaksakan harus puas dengan hengkangnya sang penjajah negara asing. Di-ninabobokkan dengan kebanggaan berbangsa dan bernegara. Padahal ekstrimnya, bisa saja sang penguasa adalah bangsa asing, tapi kemerdekaan dalam artian yang sebenarnya justru lebih terjamin. Walaupun alternatif itu memang sudah tidak punya tempat dalam kehidupan kemasyarakatan manusia-manusia modern.

Masyarakat Indonesia masih sebatas mengartikan kemerdekaan "free from" sebagaimana terminologi Erich Fromm, belum ada gerak kongkrit menuju "free to". Para individu-individu belum pada kondisi "Mandireng Pribadi", sebuah keadaan yang melukiskan kondisi batin pribadi yang memiliki pikiran merdeka. Lalu diikuti oleh sebuah tanggung jawab sosial. Kenyataan saat ini, tanggung jawab sosial sangat jauh dari yang semestinya karena memang kondisi "mandireng Pribadi" masih berupa bayangan fatamorgana di gurun pasir. Kelihatannya ada, tapi pada hakekatnya sebetulnya tidak ada. Akibatnya, rakyat enggan bergulat dengan masalah lingkungan yang sedang dihadapi, seperti masalah sosial, politik, ekonomi, pengangguran, kelaparan, kemiskinan serta sederet penyakit-penyakit masyarakat yang membelenggu kebebasannya. Hal ini bergulir terus menerus laksana sebuah lingkaran setan kehidupan.

Penyakit sosial sebetulnya bukan hanya milik kaum pinggiran. Golongan orang-orang yang meklaim dirinya kaum borjuis-pun justru memberi contoh di barisan terdepan. Pemalsuan ijazah oleh beberapa oknum pemimpin, politisi, dan wakil rakyat menjadi atmosfir publik, di mana bagi yang berhati nurani sangat menggelisahkan. Asalkan ada cukup dana atau uang, kebohongan informasi terhadap publik bisa dilakukan dengan mengebiri kebebasan pers.

60 tahun Indonesia merdeka merupakan sebuah tema yang cukup panjang, terutama bila dikaitkan dengan perkembangan masyarakat ini ditinjau dari berbagai sendi kehidupan. Untuk penjabaran lebih detail, akan dibahas dalam tulisan lain bilaman memang segala aspek penunjang bisa terpenuhi secara menyeluruh. (AF, Jakarta, 17 Agustus 2005)
**** Tulisan ini juga dimuat di www.selayar.com *******

Rumput Laut, Guru Mengenali Diri Sendiri


Di Akhir tahun 1980-an, usaha rumput laut di pantai barat pulau Selayar tumbuh laksana cendawan di musim hujan. Di mana-mana laut-laut di sepanjang pulau itu seakan tidak mau memberikan ruang gerak selain rakit-rakit rumput laut.

Masalahnya muncul ketika hasil panen sudah berlimpah. Masyarakat pada pusing mau memasarkan ke mana. Rumput laut yang dipelihara setengah mati akhirnya jadi sampah di kolong-kolong rumah penduduk, membusuk mengeluarkan bau kurang sedap. Pembiak perintis masih mendapatkan sedikit keuntungan pada penjualan bibit-bibit untuk pembiak baru. Tentu semua berharaf, penjualan perkilo-nya pasca panen bisa sedikit menjadi sumber pendapatan keluarga. Tapi kenyataannya, mereka harus kembali meratapi nasib. Dewi fortuna kembali enggan berpihak kepada mereka. Modal sudah lari, hasilnya jadi sampah. Kalaupun ada yang berniat membeli, harganya justru tidak menutupi modal-modal yang telah mereka keluarkan. Belum lagi tenaga yang dikeluarkan tidak tergolong kecil.

Apakah prinsif ketidakseimbangan SUPPLY-DEMAND yang menyebabkan harga hasil panen tidak sesuai dengan harapan? Apakah supply yang mereka hasilkan sudah sedemikian banyaknya sehingga tidak mampu diserap oleh pasar? Boleh jadi iya, dan tentu juga ada opsi yang mengatakan tidak. Mungkin saja dalam skala mini, tingkat supply demikian tinggi jauh dari demand yang sebenarnya ada. Tapi dalam skala major, hasil mereka itu tidaklah seberapa dari segi kwantitas.

Lalu apa yang salah?
Yang pertama pemerintah seakan tidak mau mengerti tentang apa yang rakyatnya inginkan. Tidak ada backup dari pemkab yang kelihatan dalam kasus ini. Rakyat jalan sendiri-sendiri mengikuti ego dan harapan muluknya. Dan mirif kasus vanili beberapa tahun terakhir ini, pengikut-pengikut belakangan yang jumlahnya tidak tergolong sedikit, bisa jadi hanya merasakan nasib sudah jatuh ditimpa tangga. Modal sudah dihabiskan untuk ikut trend sesaat itu, tapi harga hasil panennya tidak seperti apa yang mereka harafkan. Bukan untung yang datang menjenguk, malah buntung yang setia menjemput.

Lha..., koq pemerintah?
Kasus-kasus seperti ini sudah berulang kali terjadi. Tapi masyarakat yang memang masih bodoh, tidak pernah diarahkan. Lalu apalah gunanya dinas pertanian misalnya. Apakah memang tugas utama instansi itu adalah mencari peluang proyek berupa bantuan dari pusat untuk dihibahkan ke masyarakat luas? Yang itupun tidak ada tindak lanjut membangun yang kelihatan. Akhirnya niat untuk memberikan kail kepada masyarakat kurang mampu agar bisa memancing ikannya sendiri, hasinya karena tindak lanjut yang tidak ada, kail sendiri yang hilang entah kemana. Masih mending kalau kailnya dijual untuk membeli beras misalnya. Tentu ada yang kurang beres dalam masalah ini.

Kita, terutama instansi pemerintah terkait ternyata tidak mengenal diri sendiri. Padahal dalam sebuah pertempuran, bukan kekuatan musuh yang paling utama kita harus kenal secara detail, walau mengenal musuh juga termasuk penting. Kita lebih perlu mengenal siapa diri kita sendiri. Dengan itu kemenangan sudah 50% ada di tangan, walau kita buta sama kekuatan musuh sekalipun. Walaupun kita mengenal seluk beluk musuh, bila apa yang ada di diri kita sendiri tidak pernah kita tau, pastikan bahwa kekalahan akan selalu menjadi teman kita. Tentu yang paling utama dan akan membuahkan 100% kemenangan adalah mengenal diri sendiri dan juga mengenal seperti apa musuh yang sesungguhnya.

Dalam konteks manajerial masyarakat kita yang masih termasuk lugu ini, justru instansi terkait yang seyogyanya menjadi pemimpin di barisan terdepan untuk mengarahkan. Itupun kalau memang ada niat untuk mengangkat tingkat kehidupan masyarakat secara umum, yang bukan cuma dalam bentuk retorika. Toh orang-orang di pemerintahan, sebagaimana slogan yang selalu didengun-dengunkan adalah "abdi negara", "abdi masyarakat". Tentu kemaslahatan masyarakat banyak yang harus jadi prioritas utama. Otak harus diputar mencari solusi mengeluarkan masyarakat dari kerangkeng kemiskinan. Salah satunya adalah mencari tau apa potensi yang ada dalam masyarakat. Ini identik dengan mencari tahu tentang diri sendiri. Lalu, step selanjutnya adalah kemana potensi itu akan diarahkan, yang mana ini salah saru realisasi mengenal wujud musuh yang sebenarnya.

Contoh nyata adalah rumput laut seperti diungkit dalam aliea awal. Diri sendiri saja belum kita kenal. Apalagi siapa sang musuh yang sesungguhnya, lebih-lebih kita tidak mengenalnya. Hasilnya....., yah seperti yang kita alami sendiri. Sesuai teori di atas, 100% pasti mengalami kekalahan. Ini hukum alam, yang di negeri sakura diungkapkan "Ko wo siru, teki wo siru hyaku sen makezu".

Pemkab Takalar ternyata tidak mau kehilangan tongkat "rumput laut" dua kali. Dan hasilnya seperti dilansir oleh harian Fajar, saat ini Takalar telah menjadi inkubator pengembangan rumput laut di Sulsel. Sementara daerah sekitarnya seperti Jeneponto, Bantaeng dan Bulukumba hanyalah sebagai daerah penunjang atau yang lasim disebutkan sebagai kluster.

Beberapa tahun terakhir Takalar mulai mencanangkan "Gerbang Emas" terhadap rumput laut ini. Akibatnya produk meningkat yang bahkan membias ke daerah-daerah sekitarnya. Dalam hal ini, peran pemkab tidak tergolong sedikit. Mereka berusaha mengenali diri sendiri. Potensi yang mereka lihat adalah rumput laut itu. Dana 1 milyar pun diambil dari kocek APBD sebagai bantuan modal kepada petani rumput laut di Takalar.

Dalam rangka mengetahui medan lawan, pemkab Takalar ternyata cukup brilyan. Pengusaha besar sebagai peninjaklanjut hasil rumput laut petani-pun diundang untuk saling ber-simbiosis mutualisme. Dengan dukungan suasana yang kondusif, gayungpun bersambut. Karena memang pengusaha yang lebih tahu medan, ke mana hasil-hasil petani tersebut bisa diserap. Dan memang ternyata pasar dunia tidak pernah kenyang akan pasokan rumput-rumput laut itu. Dari negara-negara Eropa seperti Jerman, Prancis, Inggeris sampai ke kawasan asia seperti hongkong, Jepang dan lain-lainnya memang sebuah pasar yang tidak akan pernah berhenti minta pasokan rumput laut. Dari industri kosmetik, obat-obatan, sampai sebagai bahan makanan selalu membutuhkannya.

Kini, Kabupaten Takalar menjadi jaya dari segi rumput laut. Pasar dunia sudah dirambah. Tinggal menjaga kesinambungan dan kwalitas hasil mereka. Pasar tidak akan pernah berhenti minta pasokan. Karena masyarakat dunia tidak pernah berhenti membutuhkan barang yang bahan bakunya banyak dari rumput laut.

Kalau saja dulu, Selayar dengan pemerintah sebagai icon terdepan, mau mengenali diri sendiri, lalu berusaha mencari tahu tentang pasar sebagai lawan, bukan cerita muluk kalau Selayar telah lama berjaya lewat rumput laut itu. Karena kita punya potensi pantai yang begitu luas sebagai medium pembiakan rumput laut tersebut. Sekarang kita hanya bisa gigit jari melihat tetangga sebelah berjaya di medan yang sebetulnya kita pernah bergumul di dalamnya. Dan tentu masih ada lagi contoh konkrit lain yang mirif dengan fenomena rumput laut ini.

Akankah kita akan terus meratapi nasib yang kata kita tidak pernah berpihak kepada kita? Lalu menyalahkan sang nasib tersebut. Tentu tidak. Akan tetapi sungguh naif kalau otak kita hanya sampai pada kata "TIDAK" tersebut. Kita mesti belajar. Pemerintah tentu harus lebih giat belajar lagi. Bukan mengarahkan anggaran ini ke kotak-kotak pengeluaran yang semu. Pelajari siapa diri ini sesungguhnya. Apa potensi yang ada pada diri ini. Dengan itu kita sudah bisa melangkah ke 50% kemenangan. Tanpa itu, kita tidak tau, sampai kapan kita akan tetap gigit jari.(AF, Jakarta 14 Agustus 2005)

Pical Masuk Buih

Pical adalah sebuah nama kesohor di belantara pertinjuan tanah air di pertengahan tahun 1980-an. Itulah nama sang juara dunia kebanggaan Indonesia yang selalu dielu-elukan oleh masyarakat di seluruh penjuru nusantara ini. Tayangan pertandingannya yang selalu disiarkan lansung oleh TVRI, selalu dinanti-nanti oleh seluruh lapisan masyarakat sampai ke pelosok-pelosok desa. “Pical…Pical…Pical….!” adalah gemuruh teriakan menggema mengiringi setiap pukulan tangan kirinya, entah itu hanya dari balik kaca televisi.

Setelah kalah dari Khaosai Galaxi, petinju Thailand di tahun 1987, nama Ellyas Pical sedikit demi sedikit tersingkir dari hangar-bingar kepopuleran. Putra kelahiran Saparua 45 tahun yang lalu itu, hamper tidak pernah muncul di ruang publik. Konon, dia sempat membuka usaha di tanah kelahirannya. Namun nasib menunjukkan lain. Tempat usahanya hancur oleh ganasnya kerusuhan Ambon.

Nama Pical kembali menghiasi media nasional, tatkala pertengahan Juli 2005 ini, tertangkap tangan tengah menawarkan ekstasi seharga Rp.30.000 kepada polisi yang sedang menyamar. Suami dari Rina Siahaya itu harus masuk buih dengan tuduhan penyalahgunaan obat-obat terlarang. Kenangan orang akan kebesaran nama seorang juara dunia mencuat kembali. Berbagai komentar bermunculan. Dari pengamat tinju, masyarakat biasa, sampai pemerhati mantan atlit nasional.

Profesinya sebagai petugas keamanan(security) Diskotek Milles Tamansari Jakarta Barat, seakan memaksanya masuk ke kehidupan dunia gelap. Nama besar Pical, yang menurut keterangan sang istri adalah seorang bapak yang lugu, ternyata tidak bisa mendongkrak profesinya pasca gantung sarung tinju. Pendidikannya yang bahkan tidak tamat SD, ternyata mempersulit mendapatkan profesi yang lebih terhormat. Sementara uang hasil keringat dari atas ring, secara otomatis akan berkurang sedikit demi sedikit. Kemudian tiba pada sebuah pilihan yang mau tak mau harus dijalani, mencari tempat mengais rezeki sebagaimana masyarakat umum lainnya. Dan secara otomatis, mahkota juaranya tidak banyak membantu. Sampai akhirnya harus masuk ke sebuah profesi yang memang secara bisnis paling cocok buat beliau. Profesi yang sangat rawan pada hal-hal haram seperti narkoba dan semacamnya. Pekerjaan yang memang mengaruskan untuk berhubungan lansung dengan remang-remang kehidupan malam ibukota. Dan sebagai klimaks alur ceritanya, si mantan petinju kidal ini harus meringkus di balik terali tahanan Metro Jaya.

Apa yang salah dari sebuah kisah sedih sang juara ini. Masyarakat? Pemerintah? Keluarga? Atau unsur-unsur yang lainnya?
Rasanya tidak perlu terlalu jauh mencari kambing hitam seperti banyak dipaparkan oleh para pengamat di media massa. Yang salah tetap saja si Ellyas Pical, mantan juara dunia tinju itu. Pengalaman epndidikan yang termasuk miskin, tidak boleh dijadikan alasan, lalu pemeran utama harus dibebaskan. Toh penangkapan Pical bukanlah secara kebetulan. Informasi masyarakat bahwa dia kerap mengkonsumsi dan menjual pil eksatasi yang menjadi dasar gerak petugas keamanan. Lagian, banyak orang yang kurang mengecam pendidikan, toh tidak ikut-ikutan menjadi konsumer barang haram itu, apalagi sampai jadi seorang penjual.

Sekali lagi yang salah ada diri seorang Ellyas Pical itu sendiri. Tidak perlu terlalu menyalahkan pemerintah yang konon tidak memperhatikan nasib mantan atlit yang nota-bene sudah pernah mengharumkan nama bangsa. Pical lupa diri, bahwa nama besar yang pernah diembannya justru harus dijaga karena mau tak mau dia adalah seorang public figure. Masyarakat tidak mau tau keadaan sang juara selama ini. Yang mereka tau adalah si Petinju kidal nan perkasa. Pical harusnya belajar bagaimana menjaga diri selayaknya seorang public figure. Pada saat ini, tidak perlu mencari kambing hitam pada keadaan ekonomi yang semakin menghimpit. Itu hanya akan mengakibatkan keingkaran pada apa yang pernah dianugerahkan oleh Yang Kuasa.
Pical sekarang harus meratapi nasibnya di sel tahanan. Karena memang itulah balasan minimal yang setimpal dengan perbuatan yang dia lakoni selama ini. Sedih….., semua orang sedih. Tidak rela…., semua orang tidak rela. Kasihan…., semua orang berguman demikian. Tapi itu semua tidak akan terjadi tanpa sesuatu yang dari diri kita sendiri. Pengabnya kehidupan di balik terali besi, tidak bisa diwakilkan pada orang lain. Dan juga tidak bisa di tukar dengan mahkota sang juara. Kalau perlu, hukuman harus lebih berat dari masyarakat umum pelanggar norma yang sama. Imbas jeleknya pada masyarakat jauh lebih besar. Oleh karena itu hukuman memang pantas buatnya. Terlepas dari segala rasa kasihan dan penghormatan kepada seorang pahlawan pengharum nama bangsa.(AF, Jakarta)

HermanLaja.COM