Dalam milis sebuah komunitas, saya pernah "menyentil" seseorang. Akibatnya, terjadi badai(istilah seorang teman) di milis tersebut. Ini salah satu kelemahanku, kalau ada sesuatu yang saya rasa menyimpang dari alam nalarku, kadang saya spontan, "nyelekik". Hati merasa cuek sambil berargumen, "toh tujuanku baik!".
Yang saya kurang begitu suka, kalo "pelajaran" yang pengen saya bagi-bagi itu dijemput laiknya sebuah ancaman agresi militer, saya jadi ikut bingung. Karena kalau sudah begini, biasanya yang keliatan tinggal point-point negatif dari sebuah pesan tersebut. Yang lain pun jadi ikut-ikutan gerah, dan sayapun sudah pasti ikut berkeringat dingin. Dan tatkala yang saya kritik-pun sudah mulai memaklumi kekonyolanku, ada saja bahan yang diangkat oleh member lain menyangkut masalah ini. Di satu sisi ini bagus karena akan semakin memperluas wawasan berpikir masing-masing pembaca. Asal satu, bahwa kita harus dewasa menyikapi itu semua.
Tatkala bola salju masih kecil, saya masih ikut-ikutan menendang bola mental yang mengarah kepada. Namun setelah kelihatan mulai membesar, saya mulai mengaburkan sambil mengamati. Sambil berenung, bahwa secara umum kita masih agak tabu menerima kritikan dengan hanya mengambil baiknya. Ingin memberikan pandangan dan pendapat biar bisa jadi pelengkap. Namun saya pikir, jangan-jangan hal tersebut hanya menjadi alat untuk membela diri, sehingga esensi sharing, dan tujuan berbagi jadi mengabur. Lagian, melihat gelagat arah "diskusi", menampakkan hal yang kurang sehat, sehingga saya berkesimpulan untuk pasif, apalagi bercuil sesuatu yang akan kedengaran meng-counter.
Lalu siapa yang salah dalam case ini? Bisa jadi itu adalah saya, dan mungkin saja pihak lain. Karena sudut pandang berpeluang besar mempengaruhi warna sebuah benda. Demikian juga label benar salah, yang sebetulnya saya sendiri tidak terlalu suka menghabiskan waktu untuk sekedar mencari tahu tentang siapa yang salah dan siapa yang benar. Saya lebih antusias membahas tentang manfaat apa yang bisa diambil dari semua itu. Kalaupun saya berstatus sebagai looser misalnya dalam kasus ini, tidak akan berpengaruh buruk secara signifikan terhadap jalan hidup yang akan saya lalui ke depan. Sebaliknya, saya jadi winner-pun, strata sosialku tidak akan ikut terdongkrak. Intinya saya tidak mengharapkan status kalah-menang.
Yang jelas, saya mendapatkan banyak pelajaran berharga dari kasus ini. Atau minimal, saya diingatkan kembali bahwa sepotong tulang bila dilemparkan ke seekor kambing, berakibat sang kambing akan lari tunggang langgang. Padahal kalau saja sang tulang itu mengarah ke seekor anjing, akan disambutnya dengan suka cita. Artinya kita memang harus lebih bijak dan memandang situasi bila mau berbuat. Niat baik belum tentu berujung baik. Dan pepatah kuno "Lain padang lain belalangnya" , pun masih up to date hingga zaman serba canggih ini. (af@jkt, 1 Pebruari 2007)
Rumah sederhana - justru banyak orang sekarang yang mendambakan konsep rumah sederhana untuk desain arsitektur rumahnya. Beberapa faktor yang membuat seseorang lebih menyukai rumah sederhana ketimbang rumah besar, antara lain sebagai berikut
Ragam Sumber Kebahagiaan
Suatu hari, saya dicegat sama bapak pemilik apartemen yang saya sewa. Orangnya sopan, tidak mau memaksa, tapi tegas. Kalau ada yang ingin beliau sampaikan, tanpa ba-bi-bu, X$@;&&6~;+~*. Tapi sekali lagi kalau saya counter pakai senjata pamungkas, "Uang SPP aja belum bayar nih, lagi nunggu kiriman dari kampung"(kalau di bahasa Indonesiakan), maka secepat kilat hati beliau akan luluh, sambil berucap,"OK, deh! Kalau ada kirimannya dibayar yah!"(lagi-lagi kalau di bahasa indonesiakan).
Kalau saya berkunjung ke rumah si pemilik apartemen ini(anggak saja namanya, Saito), dengan senang hati mau ngobrol bareng berlarut-larut sama saya di ruang tamunya sambil nonton TV. Bahkan kadang Mr. Saito masih suka iseng ngomong, "Mo nonton film bokep? Aku banyak koleksi yang bagus-bagus nih!". Aku langsung tangkis, "gak usah Saito-san. Nonton TV aja, ada siaran langsung pertandingan baseball yang lagi seru nih!". Sambil nyantap makanan-makanan ringan yang tiada henti-hentinya beliau keluarkan dari kulkas super gede, tapi model tempo doeloe kepunyaannya itu.
Saya sih suka berusaha memaklumi aja, kalau dia suka nonton film bokep, main pachinko, paling sebagai pelarian rasa kesepian beliau setelah ditinggal sang istri lebih dari sepuluh tahun sebelumnya. Sementara satu putranya tinggal dan bekerja di kota lain, dan seorang putri-nya yang saking cantiknya, kadang bikin saya curiga, jangan-jangan itu gadis bukan berasal dari sperma(maaf) beliau, hampir tidak pernah ada di rumah, kecuali kalo menjelang larut malam.
Saya juga rada gelap, tuh gadis semata wayang biasanya dugem di mana. Dan wajar kalau anak gadis yang berprofesi sebagai perawat di rumah sakit itu laku di pasaran. Akibatnya yah itu tadi, pergaulannya luas nan bebas, dan selalu pulang larut malam, kadang sama teman laki-nya. Teman Banglades yang juga nyewa kamar di sebelahku, karena memang rada-rada playboy, dan PD-nya lumayan tinggi(walau aku juga gak tau, itu PD datang dari mana), suka mengambil kesempatan dalam kesempitan berkunjung ke rumah Mr. Saito, pas sang anak gadis lagi ada di rumah.
Selingan.... Koq saya jadi teringat ama si Torun, teman Bangladesh di sebelah kamarku itu! Dimana dikau berada sekarang? Gara-gara engkau, saya telah berbuat sesuatu hal yang melanggar hukum, kontinyu dalam setengah hari-an penuh. Saya yang tidak punya SIM international karena SIM International keluaran Indonesia, tidak diakui negeri tempat aku tinggal itu, nyetir mobilmu dalam sebuah perjalanan melewati beberapa propinsi. Bila teringat hal tersebut, aku jadi merasa deg-deg-an, kalau saja waktu itu saya ketangkap ama polisi, dengan serta merta akan dideportasi kembali ke bumi pertiwi, Indonesia tanah air beta. :)
Kembali ke cerita tentang Mr. Saito. Yah..., Mr. Saito itu yang pernah saya paksa berdiskusi tentang kebahagiaan itu sendiri.
Saya :Saat ini, moment-moment apa yang membuat anda merasa paling bahagia?
(dalam hati kepikiran, akan dijawab "keberadaan anak gadisnya yang cuantiknya minta ampun itu")
Mr. Saito: tatkala aku main pachinko seharian, dan menang.
Saya : Emang exciting banget yah?
Mr. Saito : Belum pernah coba aja. Makanya sekali-sekali ikut dong, aku ajarin.
Saya : No thank you. Wong saya.., ntuk bayar uang SPP aja yang perbulannya puluhan juta dalam mata uang negara-ku, dah kembang-kempis.
Mr. Saito : Tapi kan sebanding dengan kepuasan bathin yang kita dapatkan.
Saya (sambil kelimpungan mikir) : Oh iya yah. Ngomong-ngomong kalo dirata-ratakan kira-kira menang berapaan seminggu?
Mr. Saito : Wah..., berapa yah. Aku gak pernah ngitung. Tapi bahkan pernah menang sehari(pulang kerja langsung main sampai larut malam) sampai hampir seratus juta-an.(sambil ketawa penuh kebanggaan)
Saya : seratus juta-an? (sambil mata membelalak tidak percaya)
Mr. Saito : Iyah... (masih dengan senyum rasa penuh kebanggaan)
Saya : Emang tiap hari ke pachinko?
Mr. Saito : Nggak juga. Kadang kalo dah kecape'an, aku langsung pulang istirahat
Saya : Jadi kalo dirata-ratain, berapaan perhari menang-nya?
Mr. Saito(sambil mikir): yah... sekitar minus 100.000-an kali?
Saya : Hah..., jadi kalo ditotal dan dirata-ratain masih kalah?
Mr. Saito: iyah lah. Emang tukang Pachinko-nya bego' apa?
Saya : Maksudnya?
Mr. Saito : Kalo bisa menang terus mah, beliau akan bangkrut.
Saya : Tp koq masih suka juga. Dah tau gitu.
Mr. Saito: Karena disitulah letak kepuasan yang aku dapatkan. Salah satu sumber kebahagiaan. Wong itu game koq.
Lalu saya membandingkan dengan aktifitasku yang juga bisa bermakna kepuasan atau kebahagiaan. Saya waktu itu mempunyai beberapa orang anak asuh(pamer nih!). Beberapa orang yang saya biayain kuliahnya di tanah air. Dan saya senang melakukan itu. Karena dengan melakukan itu, saya seakan-akan mendapatkan sebuah kepuasan tersendiri. Jadi anggaran yang dikeluarkan untuk itu memang sudah sebanding dengan kepuasan yang saya dapatkan. Hampir mirif dengan uang yang dikeluarkan oleh mereka yang suka main golf misalnya. Yang kalau dari sudut pandang aku, bisa jadi itu berwujud pemborosan, tapi bagi orang yang mengalaminya, di situ ada kepuasan tersendiri. Ada unsur kebahagiaan tersendiri yang memang saya tidak bisa rasakan mungkin.
Dan kepuasan atau kebahagiaan adalah makanan bathin. Tidak kelihatan secara fisik. Dan tiap-tiap orang punya sumber tersendiri. Sehingga untuk memenuhi kebutuhan itu orang rela mengalokasikan anggaran ke sana.
Sumber kebahagiaan bagi saya, belum tentu jadi sumber kebahagiaan buat orang lain. Artinya, ada berjuta-juta sumber kebahagiaan dalam hidup ini. Tergantung kita bisa menikmatinya atau tidak. Oleh karena itu, tatkala anda merasa suntuk, dan serasa dijauhi sama apa yang disebut rasa bahagia itu. Atau sementara hati dalam keadaan gelisah, merasa dalam posisi tidak bahagia, Jangan menyerah! Cari sumber kebahagiaan lain, karena kebahagiaan ternyata tidak hanya datang dari satu sisi kehidupan. (af@jkt, 18 January 2007)
Kalau saya berkunjung ke rumah si pemilik apartemen ini(anggak saja namanya, Saito), dengan senang hati mau ngobrol bareng berlarut-larut sama saya di ruang tamunya sambil nonton TV. Bahkan kadang Mr. Saito masih suka iseng ngomong, "Mo nonton film bokep? Aku banyak koleksi yang bagus-bagus nih!". Aku langsung tangkis, "gak usah Saito-san. Nonton TV aja, ada siaran langsung pertandingan baseball yang lagi seru nih!". Sambil nyantap makanan-makanan ringan yang tiada henti-hentinya beliau keluarkan dari kulkas super gede, tapi model tempo doeloe kepunyaannya itu.
Saya sih suka berusaha memaklumi aja, kalau dia suka nonton film bokep, main pachinko, paling sebagai pelarian rasa kesepian beliau setelah ditinggal sang istri lebih dari sepuluh tahun sebelumnya. Sementara satu putranya tinggal dan bekerja di kota lain, dan seorang putri-nya yang saking cantiknya, kadang bikin saya curiga, jangan-jangan itu gadis bukan berasal dari sperma(maaf) beliau, hampir tidak pernah ada di rumah, kecuali kalo menjelang larut malam.
Saya juga rada gelap, tuh gadis semata wayang biasanya dugem di mana. Dan wajar kalau anak gadis yang berprofesi sebagai perawat di rumah sakit itu laku di pasaran. Akibatnya yah itu tadi, pergaulannya luas nan bebas, dan selalu pulang larut malam, kadang sama teman laki-nya. Teman Banglades yang juga nyewa kamar di sebelahku, karena memang rada-rada playboy, dan PD-nya lumayan tinggi(walau aku juga gak tau, itu PD datang dari mana), suka mengambil kesempatan dalam kesempitan berkunjung ke rumah Mr. Saito, pas sang anak gadis lagi ada di rumah.
Selingan.... Koq saya jadi teringat ama si Torun, teman Bangladesh di sebelah kamarku itu! Dimana dikau berada sekarang? Gara-gara engkau, saya telah berbuat sesuatu hal yang melanggar hukum, kontinyu dalam setengah hari-an penuh. Saya yang tidak punya SIM international karena SIM International keluaran Indonesia, tidak diakui negeri tempat aku tinggal itu, nyetir mobilmu dalam sebuah perjalanan melewati beberapa propinsi. Bila teringat hal tersebut, aku jadi merasa deg-deg-an, kalau saja waktu itu saya ketangkap ama polisi, dengan serta merta akan dideportasi kembali ke bumi pertiwi, Indonesia tanah air beta. :)
Kembali ke cerita tentang Mr. Saito. Yah..., Mr. Saito itu yang pernah saya paksa berdiskusi tentang kebahagiaan itu sendiri.
Saya :Saat ini, moment-moment apa yang membuat anda merasa paling bahagia?
(dalam hati kepikiran, akan dijawab "keberadaan anak gadisnya yang cuantiknya minta ampun itu")
Mr. Saito: tatkala aku main pachinko seharian, dan menang.
Saya : Emang exciting banget yah?
Mr. Saito : Belum pernah coba aja. Makanya sekali-sekali ikut dong, aku ajarin.
Saya : No thank you. Wong saya.., ntuk bayar uang SPP aja yang perbulannya puluhan juta dalam mata uang negara-ku, dah kembang-kempis.
Mr. Saito : Tapi kan sebanding dengan kepuasan bathin yang kita dapatkan.
Saya (sambil kelimpungan mikir) : Oh iya yah. Ngomong-ngomong kalo dirata-ratakan kira-kira menang berapaan seminggu?
Mr. Saito : Wah..., berapa yah. Aku gak pernah ngitung. Tapi bahkan pernah menang sehari(pulang kerja langsung main sampai larut malam) sampai hampir seratus juta-an.(sambil ketawa penuh kebanggaan)
Saya : seratus juta-an? (sambil mata membelalak tidak percaya)
Mr. Saito : Iyah... (masih dengan senyum rasa penuh kebanggaan)
Saya : Emang tiap hari ke pachinko?
Mr. Saito : Nggak juga. Kadang kalo dah kecape'an, aku langsung pulang istirahat
Saya : Jadi kalo dirata-ratain, berapaan perhari menang-nya?
Mr. Saito(sambil mikir): yah... sekitar minus 100.000-an kali?
Saya : Hah..., jadi kalo ditotal dan dirata-ratain masih kalah?
Mr. Saito: iyah lah. Emang tukang Pachinko-nya bego' apa?
Saya : Maksudnya?
Mr. Saito : Kalo bisa menang terus mah, beliau akan bangkrut.
Saya : Tp koq masih suka juga. Dah tau gitu.
Mr. Saito: Karena disitulah letak kepuasan yang aku dapatkan. Salah satu sumber kebahagiaan. Wong itu game koq.
Lalu saya membandingkan dengan aktifitasku yang juga bisa bermakna kepuasan atau kebahagiaan. Saya waktu itu mempunyai beberapa orang anak asuh(pamer nih!). Beberapa orang yang saya biayain kuliahnya di tanah air. Dan saya senang melakukan itu. Karena dengan melakukan itu, saya seakan-akan mendapatkan sebuah kepuasan tersendiri. Jadi anggaran yang dikeluarkan untuk itu memang sudah sebanding dengan kepuasan yang saya dapatkan. Hampir mirif dengan uang yang dikeluarkan oleh mereka yang suka main golf misalnya. Yang kalau dari sudut pandang aku, bisa jadi itu berwujud pemborosan, tapi bagi orang yang mengalaminya, di situ ada kepuasan tersendiri. Ada unsur kebahagiaan tersendiri yang memang saya tidak bisa rasakan mungkin.
Dan kepuasan atau kebahagiaan adalah makanan bathin. Tidak kelihatan secara fisik. Dan tiap-tiap orang punya sumber tersendiri. Sehingga untuk memenuhi kebutuhan itu orang rela mengalokasikan anggaran ke sana.
Sumber kebahagiaan bagi saya, belum tentu jadi sumber kebahagiaan buat orang lain. Artinya, ada berjuta-juta sumber kebahagiaan dalam hidup ini. Tergantung kita bisa menikmatinya atau tidak. Oleh karena itu, tatkala anda merasa suntuk, dan serasa dijauhi sama apa yang disebut rasa bahagia itu. Atau sementara hati dalam keadaan gelisah, merasa dalam posisi tidak bahagia, Jangan menyerah! Cari sumber kebahagiaan lain, karena kebahagiaan ternyata tidak hanya datang dari satu sisi kehidupan. (af@jkt, 18 January 2007)
Mengungkapkan Ide
Saya termasuk orang yang suka diam kalau ada menghadiri sebuah pertemuan. Alasan dari dalam diri, seakan-akan menganggap orang lain-pun memikirkan apa yang ada dalam pikiran saya. Tatkala ada orang yang mengeluarkan ide, kurang punya minat untuk angkat bicara, semisal ide tersebut sangat bertolak-belakang dengan apa yang ada dalam kepala ini. Akibatnya, setelah pertemuan selesai, baru suka ngomel..., sampai terkadang keluar kata-kata, "mikir tuh mikir!".
Kadang tatkala ide diungkapkan pun, kurang bisa menyakinkan lawan bicara. akibatnya, ide tersebut mental. Hal semacam ini sering membuat pengungkap ide merasa frustasi. Dan yang menjadi penyebab utama ide kita tidak diterima baik oleh atasan, rekan kerja, ataupun customer, adalah cara pengungkapan kita yang memang tidak mampu membuat ide itu masuk ke dalam alam pikiran lawan bicara. Kita punya kecenderungan, menilai orang lain sudah mengetahui apa yang kita maksud, sementara kenyataannya tidak. Karena penilaian kita itu lebih banyak dipengaruhi oleh apa yang sudah ada dalam pikiran kita sendiri, dan kurang memikirkan bagaimana seandainya diri kita sendiri yang berada di posisi lawan bicara.
Paul J. Siregar, MSc. CEng. dari Dale Carnegie Training, mengedepankan 3 komponen besar sebagai persiapan utama mengajukan usul/ide, agar ide tersebut lebih dapat diterima oleh orang lain. Ketiga komponen itu adalah idea, benefit, dan evidence.
IDEA
Apa yang sebenarnya anda usulkan? Salah satu penyebab ide ditolak adalah ide yang tidak jelas. Oleh sebab itu, perjelaslah APA yang anda usulkan. Misalnya anda mengusulkan pada komunitas maya anda untuk mengadakan kopdar di Pulau Batam. Sekedar kopdar atau ada kegiatan sampingan misalnya menjalin silaturrahim dengan organisasi atau komunitas di sana? Atau ada lagi kegiatan sampingan lain, seperti refreshing ke tempat rekreasi di sana. Semakin spesifik ide anda, semakin meyakinkan.
Perjelas juga PROSES-nya. Misalnya, dari pada hanya mengungkapkan apa-apa saja yang bisa dilakukan, lebih baik bisa mengusulkan lebih spesifik, bahwa kita bisa ke sana via pesawat, dan ngumpul di Bandara jam berapa. Lalu dengan bus yang sudah kita carter selama di sana kita diantar ke penginapan tempat menginap di malam pertama yang memang sudah diformat dekat dengan kegiatan hari pertama. Besoknya berangkat dan menginap daerah B, tempat kegiatan inti kegiatan. Demikianlah seterusnya, sehingga usulan bisa lebih kelihatan progres dari awal hingga akhir. Karena memang seringkali orang lebih mudah diyakinkan apabila dia dapat "melihat" proses dimaksud.
BENEFIT
Apa manfaatnya bagi pendengar anda? Setiap pendengar kita selalu berpikir, "what's in it for me?". Bila itu tidak terjawab, mereka akan berpikir, "so what?" Cara terbaik untuk memikirkan manfaat usul anda adalah dengan memandangnya lewat kacamata pendengar. Misalnya anda mengusulkan supaya absensi diotomatisasikan dengan teknologi finger scan. Dari sudut pandang anda sebagai orang SDM, tentu alat itu mempermudah pekerjaananda, tetapi dari sudut pandang bos, alat itu berarti biaya. Bicarakan manfaat alat tersebut dari sudut pandang atasan, yaitu sebagai investasi bukan dari sudut pandang kemudahan pekerjan anda.
EVIDENCE
Apa buktinya? Perkuat ide anda dengan bukti pendukung seperti alat peraga, gambar, foto, dan data statistik. Adanya bukti membuat tidak saja ide anda menjadi lebih meyakinkan, tetapi juga memperkuat image anda sebagai seorang komuniktor yang kredibel.
Tiga komponen pemulus usulan di atas, memang penting dilengkapi tatkala berbicara biasa sama orang lain pun. Karena hal-hal tersebut akan membuat bobot pembicaraan kita lebih kelihatan berbobot. Apalagi, dalam membicarakan sebuah ide atau usulan ke atasan ataupun customer misalnya. Sehingga ide kita sedikit banyak bisa minimal didengar oleh lawan bicara kita. (af@jkt, 7 Januari 2007)
Kadang tatkala ide diungkapkan pun, kurang bisa menyakinkan lawan bicara. akibatnya, ide tersebut mental. Hal semacam ini sering membuat pengungkap ide merasa frustasi. Dan yang menjadi penyebab utama ide kita tidak diterima baik oleh atasan, rekan kerja, ataupun customer, adalah cara pengungkapan kita yang memang tidak mampu membuat ide itu masuk ke dalam alam pikiran lawan bicara. Kita punya kecenderungan, menilai orang lain sudah mengetahui apa yang kita maksud, sementara kenyataannya tidak. Karena penilaian kita itu lebih banyak dipengaruhi oleh apa yang sudah ada dalam pikiran kita sendiri, dan kurang memikirkan bagaimana seandainya diri kita sendiri yang berada di posisi lawan bicara.
Paul J. Siregar, MSc. CEng. dari Dale Carnegie Training, mengedepankan 3 komponen besar sebagai persiapan utama mengajukan usul/ide, agar ide tersebut lebih dapat diterima oleh orang lain. Ketiga komponen itu adalah idea, benefit, dan evidence.
IDEA
Apa yang sebenarnya anda usulkan? Salah satu penyebab ide ditolak adalah ide yang tidak jelas. Oleh sebab itu, perjelaslah APA yang anda usulkan. Misalnya anda mengusulkan pada komunitas maya anda untuk mengadakan kopdar di Pulau Batam. Sekedar kopdar atau ada kegiatan sampingan misalnya menjalin silaturrahim dengan organisasi atau komunitas di sana? Atau ada lagi kegiatan sampingan lain, seperti refreshing ke tempat rekreasi di sana. Semakin spesifik ide anda, semakin meyakinkan.
Perjelas juga PROSES-nya. Misalnya, dari pada hanya mengungkapkan apa-apa saja yang bisa dilakukan, lebih baik bisa mengusulkan lebih spesifik, bahwa kita bisa ke sana via pesawat, dan ngumpul di Bandara jam berapa. Lalu dengan bus yang sudah kita carter selama di sana kita diantar ke penginapan tempat menginap di malam pertama yang memang sudah diformat dekat dengan kegiatan hari pertama. Besoknya berangkat dan menginap daerah B, tempat kegiatan inti kegiatan. Demikianlah seterusnya, sehingga usulan bisa lebih kelihatan progres dari awal hingga akhir. Karena memang seringkali orang lebih mudah diyakinkan apabila dia dapat "melihat" proses dimaksud.
BENEFIT
Apa manfaatnya bagi pendengar anda? Setiap pendengar kita selalu berpikir, "what's in it for me?". Bila itu tidak terjawab, mereka akan berpikir, "so what?" Cara terbaik untuk memikirkan manfaat usul anda adalah dengan memandangnya lewat kacamata pendengar. Misalnya anda mengusulkan supaya absensi diotomatisasikan dengan teknologi finger scan. Dari sudut pandang anda sebagai orang SDM, tentu alat itu mempermudah pekerjaananda, tetapi dari sudut pandang bos, alat itu berarti biaya. Bicarakan manfaat alat tersebut dari sudut pandang atasan, yaitu sebagai investasi bukan dari sudut pandang kemudahan pekerjan anda.
EVIDENCE
Apa buktinya? Perkuat ide anda dengan bukti pendukung seperti alat peraga, gambar, foto, dan data statistik. Adanya bukti membuat tidak saja ide anda menjadi lebih meyakinkan, tetapi juga memperkuat image anda sebagai seorang komuniktor yang kredibel.
Tiga komponen pemulus usulan di atas, memang penting dilengkapi tatkala berbicara biasa sama orang lain pun. Karena hal-hal tersebut akan membuat bobot pembicaraan kita lebih kelihatan berbobot. Apalagi, dalam membicarakan sebuah ide atau usulan ke atasan ataupun customer misalnya. Sehingga ide kita sedikit banyak bisa minimal didengar oleh lawan bicara kita. (af@jkt, 7 Januari 2007)
Tak Suka? Jalani Dulu!
Boleh jadi anda tidak menyukai sesuatu, padahal dibalik itu banyak terdapat kelebihan-kelebihan yang belum kamu ketahui. Ungkapan tersebut sedikit berbau ajaran sebuah agama, namun saya tidak bermaksud melihatnya di sini dalam versi reliji.
Ketidakcocokan dalam pekerjaan, tidak semestinya dengan serta-merta membuat kita mengeluh, apalagi secara instant mengambil keputusan untuk meninggalkan tempat kerja yang sementara dijalani. Dunia kerja memang merupakan dunia yang dipenuhi oleh berbagai tuntutan yang bisa jadi membuat diri jadi stress(lihat Manajemen Stress). Dan keadaan yang tidak disukai, tidak berarti pasti negatif buat anda. Bisa jadi, dibalik itu semua, tersimpan sebuah sisi positif, yang manakala kita sabar menjalani dengan komitmen tinggi dan segala rasa tanggungjawab, justru akan mengantar kita kepada sebuah hasil akhir yang gemilang.
Tidak bisa dinafikan lagi, bahwa kadang kita merasa sumpek dengan aktifitas pekerjaan yang sementara kita jalani. Dan alasan kebosanan itu, cenderung tidak jauh dari, ketidakcocokan dengan tugas yang diemban, beban kerja yang terlampau berat, atau bisa jadi suasana kantor yang dirasa tidak nyaman. Namun sekali lagi, apapun alasan ketidaknyamanan itu, harus dipikirkan secara positif sebelum mengambil tindakan yang cukup signifikan. Dan yang pasti, setinggi apapun tingkat ketidakpuasan itu, bukan berarti bisa menjadi alasan untuk tidak meningkatkan atau paling tidak mempertahankan performa kerja. Karena bagaimanapun, hal tersebut akan mempengaruhi penilaian kerja dan track record seorang karyawan. Kalau tidak, seperti diungkit dalam "Berkarya Sebelum Menuntut", bisa jadi tindakan itu akan menggiring anda ke sebuah lingkaran setan yang makin hari semakin menuju ke keadaan yang bertambah kelam.
Ada beberapa tips untuk menyiasati problema seperti di atas seperti dipaparkan dalam rubrik karier harian kompas edisi 24 Desember 2006 lalu.
Menganggapnya Sebagai Sebuah Proses Pembelajaran
Cobalah untuk tetap berpikir positif, antara lain dengan menganggap bahwa semua itu adalah sebuah proses belajar di mana anda bisa memetik hal-hal baru untuk menghadapi tugas atau dunia baru di masa mendatang. Dengan begini, hati anda akan tetap tenang saat bekerja, karena toh suasana hati yang panas juga tidak akan membawa anda keluar dari masalah tersebut.
Mencari Kesempatan & Mengembangkan Skill
Daripada terus-terusan mengeluh, lebih baik membuka mata kalau-kalau ada kesempatan yang terbuka, entah itu mutasi ke bagian lain dengan tugas atau pekerjaan yang lebih sesuai dengan bidang yang dikuasai, pelatihan-pelatihan yang tentunya akan menambah skill dan pengetahuan, atau bahkan lowongan kerja di tempat lain.
Memotivasi Diri Dengan Ungkapan Pemotivasi
Cobalah untuk mencari kutipan kata-kata yang bisa memotivasi anda saat bekerja. Tulis ulang kata-kata tersebut dengan rapi, hias sedemikian rupa sesuai dengan selera, dan letakkan di meja kerja anda.
Memperkuat Jaringan Sosial
Sambil menjaga serta membuka jaringan sosial di luar kantor, anda bisa mengembangkan hobi dan minat saat liburan atau pada waktu senggang daripada anda hanyut memikirkan pekerjaan anda. Lagi pula, siapa tau hobi tersebut bisa berguna di masa mendatang.
Ketidak-nyamanan dalam pekerjaan juga salah satu wujud dari sebuah tantangan. Dan mereka yang menyikapinya dengan positif, niscaya akan menemui jalan keluar. Sementara buat mereka yang hanya bisa mengeluh sembari menyalahkan nasib, akan susah keluar dari permasalahan tersebut. Toh, ada kata-kata bijak yang mengatakan, "tantangan bukanlah sesuatu yang mesti kita jauhi, melainkan harus dihadapi dan dicarikan solusinya sehingga bisa membuat diri ini lebih tegar dan dewasa".
Ke-tidaksuka-an terhadap pekerjaan, jangan membuat anda spontan bertindak meninggalkan pekerjaan tersebut. Karena di mana-pun anda bekerja, suasana kerja terkadang diluar dugaan tidak begitu berbeda jauh. Masing-masing punya tantangan tersendiri. Lebih baik, jalani saja dulu dengan komitmen berbuat yang terbaik, niscaya hasil positif akan menanti anda. Bukankah ada juga ungkapan masyarakat Jepang yang mengatakan, "Kabe wo yabutta tokoroni un ga matteiru", yang berarti bahwa dibalik dinding penghalang itu, senyuman kesuksesan sedang menunggu? Oleh karena itu, menurut Takashi Nakajima, dobraklah tantangan itu dengan senjata 3C dan 3D, Challenge! Challenge! Challenge! serta Do it! Do it! Do it!. (af@jkt, 3 Januari 2007)
Ketidakcocokan dalam pekerjaan, tidak semestinya dengan serta-merta membuat kita mengeluh, apalagi secara instant mengambil keputusan untuk meninggalkan tempat kerja yang sementara dijalani. Dunia kerja memang merupakan dunia yang dipenuhi oleh berbagai tuntutan yang bisa jadi membuat diri jadi stress(lihat Manajemen Stress). Dan keadaan yang tidak disukai, tidak berarti pasti negatif buat anda. Bisa jadi, dibalik itu semua, tersimpan sebuah sisi positif, yang manakala kita sabar menjalani dengan komitmen tinggi dan segala rasa tanggungjawab, justru akan mengantar kita kepada sebuah hasil akhir yang gemilang.
Tidak bisa dinafikan lagi, bahwa kadang kita merasa sumpek dengan aktifitas pekerjaan yang sementara kita jalani. Dan alasan kebosanan itu, cenderung tidak jauh dari, ketidakcocokan dengan tugas yang diemban, beban kerja yang terlampau berat, atau bisa jadi suasana kantor yang dirasa tidak nyaman. Namun sekali lagi, apapun alasan ketidaknyamanan itu, harus dipikirkan secara positif sebelum mengambil tindakan yang cukup signifikan. Dan yang pasti, setinggi apapun tingkat ketidakpuasan itu, bukan berarti bisa menjadi alasan untuk tidak meningkatkan atau paling tidak mempertahankan performa kerja. Karena bagaimanapun, hal tersebut akan mempengaruhi penilaian kerja dan track record seorang karyawan. Kalau tidak, seperti diungkit dalam "Berkarya Sebelum Menuntut", bisa jadi tindakan itu akan menggiring anda ke sebuah lingkaran setan yang makin hari semakin menuju ke keadaan yang bertambah kelam.
Ada beberapa tips untuk menyiasati problema seperti di atas seperti dipaparkan dalam rubrik karier harian kompas edisi 24 Desember 2006 lalu.
Menganggapnya Sebagai Sebuah Proses Pembelajaran
Cobalah untuk tetap berpikir positif, antara lain dengan menganggap bahwa semua itu adalah sebuah proses belajar di mana anda bisa memetik hal-hal baru untuk menghadapi tugas atau dunia baru di masa mendatang. Dengan begini, hati anda akan tetap tenang saat bekerja, karena toh suasana hati yang panas juga tidak akan membawa anda keluar dari masalah tersebut.
Mencari Kesempatan & Mengembangkan Skill
Daripada terus-terusan mengeluh, lebih baik membuka mata kalau-kalau ada kesempatan yang terbuka, entah itu mutasi ke bagian lain dengan tugas atau pekerjaan yang lebih sesuai dengan bidang yang dikuasai, pelatihan-pelatihan yang tentunya akan menambah skill dan pengetahuan, atau bahkan lowongan kerja di tempat lain.
Memotivasi Diri Dengan Ungkapan Pemotivasi
Cobalah untuk mencari kutipan kata-kata yang bisa memotivasi anda saat bekerja. Tulis ulang kata-kata tersebut dengan rapi, hias sedemikian rupa sesuai dengan selera, dan letakkan di meja kerja anda.
Memperkuat Jaringan Sosial
Sambil menjaga serta membuka jaringan sosial di luar kantor, anda bisa mengembangkan hobi dan minat saat liburan atau pada waktu senggang daripada anda hanyut memikirkan pekerjaan anda. Lagi pula, siapa tau hobi tersebut bisa berguna di masa mendatang.
Ketidak-nyamanan dalam pekerjaan juga salah satu wujud dari sebuah tantangan. Dan mereka yang menyikapinya dengan positif, niscaya akan menemui jalan keluar. Sementara buat mereka yang hanya bisa mengeluh sembari menyalahkan nasib, akan susah keluar dari permasalahan tersebut. Toh, ada kata-kata bijak yang mengatakan, "tantangan bukanlah sesuatu yang mesti kita jauhi, melainkan harus dihadapi dan dicarikan solusinya sehingga bisa membuat diri ini lebih tegar dan dewasa".
Ke-tidaksuka-an terhadap pekerjaan, jangan membuat anda spontan bertindak meninggalkan pekerjaan tersebut. Karena di mana-pun anda bekerja, suasana kerja terkadang diluar dugaan tidak begitu berbeda jauh. Masing-masing punya tantangan tersendiri. Lebih baik, jalani saja dulu dengan komitmen berbuat yang terbaik, niscaya hasil positif akan menanti anda. Bukankah ada juga ungkapan masyarakat Jepang yang mengatakan, "Kabe wo yabutta tokoroni un ga matteiru", yang berarti bahwa dibalik dinding penghalang itu, senyuman kesuksesan sedang menunggu? Oleh karena itu, menurut Takashi Nakajima, dobraklah tantangan itu dengan senjata 3C dan 3D, Challenge! Challenge! Challenge! serta Do it! Do it! Do it!. (af@jkt, 3 Januari 2007)
Subscribe to:
Posts (Atom)