Halima* Yang Terlupakan

Hiruk pikuk wafatnya Sang Jenderal Besar, Soeharto, belum juga mereda. Sanjungan terhadap kebesaran jasa-jasanya bak cendawan di musim hujan, merebak serentak ke permukaaan. Iyah...., Bapak Pembangunan itu memang telah berjasa besar melakukan pembangunan berarti di negeri ini. Hal itu, tidak mungkin bisa dinafikan lagi. Namun, segelintir suara yang menginginkan penegakan hukum terhadap beliau pun tentu tidak boleh disepelekan begitu saja. Karena dosa-nya pun ada. Dan itu sepatutnya diselesaikan melalui proses hukum yang ada.

Tatkala seluruh negeri berkabung, ada secuil berita menarik yang lebih bersifat konsumsi infotainment. Si Halimah, istri Bambang Trihatmojo yang baru saja diceraikan itu pun ikut melayat dan berbelasungkawa atas kematian 'mantan' mertuanya. Wanita yang notabene sudah berumur ini memang masih tetap kelihatan cantik. Bisa dibayangkan, betapa cantiknya beliau waktu masih muda-nya. Dan konon, Halimah ini merupakan salah seorang mantu tersayang keluarga Cendana. Maka tatkala si Mayang, istri muda Bambang ikut menampakkan muka menjenguk sang mertua yang sudah tak bernyawa itu, jadi bulan-bulanan di lingkungan Cendana, bahkan harus bercucuran airmata diusir oleh saudara-saudara suaminya.*Pencinta Infotainment mode on*

Disamping breaking news tentang wafatnya mantan penguasa negeri ini beserta kehebohan internal keluarga beliau di atas, ternyata ada Halima* lain yang tak kalah menakutkan yang sangat kurang pamor dari sisi pemberitaan media dan perhatian masyarakat. Dialah H5N1, virus flu burung yang sudah merenggut ratusan nyawa manusia itu. H5N1-lah yang saya 'gelari', Halima* yang terlupakan, sebagaimana judul tulisan ini.

Virus Flu burung, mulai menampakkan diri ke permukaan sejak tahun 2003. Dan pada masa-masa awalnya, Vietnam tercatat sebagai negara terparah masalah penyebaran Flu burung ini. Namun kelihaian dan keseriusan pemerintahnya, berhasil menekan drastis semakin menjalarnya virus yang sangat menakutkan ini.

Lain Vietnam, lain juga dengan gerak langkah pemerintah negeri ini. Terbukti, sejak tahun 2005, Indonesia pun menjadi ladangnya penyebaran Halima* ini. Dan ketidak mampuan me-manage wabah penyakit H5N1 ini, membuahkan 'hasil' bahwa Flu burung sebetulnya sudah menjadi "setan" menakutkan yang mungkin sudah menjalar kemana-mana di masyarakat kita. Seperti kemarin 28 Januari 2008, tercatat 2 orang jiwanya melayang direnggut oleh Halima* ini. Departemen Kesehatan mengumumkan bahwa seorang bocah kecil di Depok berusia 9 tahun, meninggal karena virus ini. Di hari yang sama, seorang wanita berusia 23 tahun pun menemui ajal karena H5N1. Dalam sehari saja sudah tercatat 2 orang yang menghembuskan nafas terakhirnya di ujung seuah Halima*.

Menurut catatan WHO, sejak tahun 2003, jumlah kematian yang diakibatkan oleh virus flu burung sudah melebihi 220 orang. Dan yang paling menyedihkan, hampir 50% dari angka itu dipasok oleh Negeri ini. Tak kurang dari 100 orang dari 220 orang itu berasal dari Indonesia. Sementara Vietnam yang awal-awal penyebaran virus ini termasuk sangat-sangat parah, hingga detik ini 'baru' tertatat 48 orang yang meninggal.

Sekali lagi, kembali kita mencatat rekor dalam sejarah, sebagai negara dengan angka kematian terbanyak yang diakibatkan oleh Flu Burung. Namun seakan tidak ada yang menaruh peduli terhadap hal ini. Padahal, angka kematian di atas adalah angka yang diumumkan oleh pemerintah. Tidak tertutup kemungkinan, bahwa disamping angka resmi itu, akan ada angka tidak resmi yang tidak terlacak, jauh melebihi dari angka tersebut. Bukankah sangat susah mencari data benar-benar valid di negeri ini? Artinya, bisa jadi virus mematikan itu sudah menjalar di lingkungan sekitar kita, yang pada saatnya akan ikut merenggut nyawa orang-orang terdekat kita, bahkan diri kita sendiri. Dan tatkala negara yang harusnya memberikan perlindungan kepada kita terhadap momok seperti itu lebih disibukkan oleh urusan-urusan lain, siapa lagi yang bisa melindungi diri kecuali diri sendiri?

Intinya, biarkanlah media lebih fokus kepada Halimah versi Cendana dan hal-hal yang berkaitan dengan keluarga sang Jenderal besar itu, namun jangan lupa, ada Halima* lain yang sangat perlu diwaspadai. Dan itulah Flu burung H5N1 (Halima* N l). (af@jkt 29 Januari 2008)

Teeza, Dimanakah Kau Berada?

Nama lengkapnya Tiza Asterina Dewi. Namun di kalangan warga AngingMammiri.org biasa memanggilnya Teeza(baca: Tiza). Gadis Sunda bertubuh sedikit subur ini sudah lama aktif di Komunitas Blogger Makassar. Bahkan bersama Rara dan beberapa teman lain, beliau bisa dibilang salah seorang pendiri Komunitas Blogger Makassar yang lebih keren disebut AM, singkatan Anging Mammiri.

Menurut penuturan beliau dalam sebuah acara yang bertajuk Blog: the Voice of Freedom, sebuah acara Talk show tentang dalam rangka memperingati hari jadi Komunitas Blogger Makassar yang pertama, karena tugas kantor, beliau datang seorang diri ke Makassar beberapa tahun yang lalu. Dan orang yang pertama bisa dirangkul sebagai teman adalah anak-anak Blogger termasuk Rara, Ketua Komunitas Blogger Makassar saat ini. Jauh dari keluarga, secara otomatis, kehadiran seorang temanlah yang menjadi tumpuan berbagi uneg-uneg masalah kehidupan sehari-hari. "Saya sangat terbantu dengan keberadaan anak-anak blogger ini", ujarnya.

Saya terkagum-kagum dengan keuletan dan kerja kerasnya. Pemandangan itu pertama kali saya saksikan, tatkala AM mengadakan acara Bincang IT dan Blog "Blog For Life" tahun silam. Persiapan acara yang menyita waktu dan tentu tenaga yang tidak sedikit, membuat panitia dengan sukarela harus super sibuk terutama satu dua hari menjelang acara digelar.

Sekitar jam 10 malam, penataan ruangan yang dikeroyok secara bersama-sama baru bisa rampung. Belasan panitia berkumpul beristirahat sebentar sambil makan minum seadanya. Sementara asyik berbincang-bincang, saya sempat menoleh ke kiri, ternyata di ujung meja sana Teeza dibantu beberapa rekan, masih serius mengutak-atik laptopnya mempersiapkan beberapa dokumen persiapan acara yang belum kelar. Sayup-sayup terdengar ucapannya, "Pokoknya harus kelar dulu".

Dalam acara the Voice of Freedom pun, Teeza ikut terlibat aktif. Omongannya sedikit, namun dari semangatnya ikut andil demi terlaksananya acara dengan baik, seakan-akan berucap, "Yang saya tau, saya harus berkontribusi, titik". Seperti yang sudah sedikit diungkit di atas, beliau memang salah seorang penggagas Komunitas Blogger Makassar. Benar-benar membuat saya salut.

Beberapa hari setelah pelaksanaan the Voice of Freedom, Teeza pindah tempat tugas ke Jakarta. Oleh karena itu, tatkala Daeng Nuntung menyampaikan rencananya mampir di Jakarta sebelum meneruskan perjalanan ke Banda Aceh, ada ide untuk melakukan acara kumpul-kumpul alias kopdar. Bersilaturrahim dengan Daeng Nuntung, sekaligus 'menyambut' Teeza, anggota AM yang pindah tugas ke Jakarta itu. Rencana itu sudah dipublikasikan ke milis AM, jauh-jauh hari sebelumnya, namun tanggapan dari Teeza tidak kunjung datang. Sampai akhirnya acara digelar tanpa Teeza.

Tadi malam, tatkala saya online dengan YM, kebetulan Teeza pun kelihatan lagi online. Saya tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Langsung saya sapa dengan logat Makassar. Iyah...dengan logat Makassar karena secara pribadi saya tidak 'rela' Teeza melupakan ke-Makassar-annya.
"Neng Teeza... Kenapa nda' pernah muncul2 belah?"
"Ntar kita lupaki logat Makassar ta' itu eh", sapaku soq akrab.

Tak lama kemudian, message jawaban dari Teeza pun datang, juga dengan logat Makassar walau kalau mau jujur, pemakaiannya masih berantakan, tidak pada tempatnya. Setidaknya itu menandakan, seorang Teeza bertingkah apa adanya. Juga merupakan salah satu cermin keuletannya. Menurut pengakuannya beliau memang sedang sibuk sekali, bahkan sejak sekembalinya dari Makassar, mail dari milis AM-pun belum sempat dia baca.

Bahkan beliau mohon maaf karena keterbatasannya itu. Dan yang pasti, tetap berharap untuk bisa bersilaturrahim dengan warga AM di Jakarta. "Kabarin klo ada kumpul2 AM di Jkt", pesannya. Saya pun sedikit lega dengan pernyataan beliau itu. Setidaknya, saya berpikir bahwa AM tidak boleh kehilangan seorang Teeza, dimanapun dia berada. "Iyah Teeza, insya Allah akan kita kabari", gumanku dalam hati.(AF@Jkt, 12 Januari 2008)

***Gambar ditampilin dari Blognya Teeza

Yuks..., Nonton Dangdutan Yuk!

Judul di atas bukanlah ajakan untuk nonton acara dangdut di Televisi Nasional yang makin marak saat ini. Pun bukan potongan syair lagu dangdut yang dibawakan dengan suara kurang mendukung oleh seorang Titi Kamal dalam film Mendadak Dangdut. Melainkan ajakan memelas seorang anak kecil bernama Farhan.

Yah, saya dibuat terkejut tatkala Farhan merengek minta diantar ke pesta dangdutan FBR(Form Betawi Rembug) tak begitu jauh dari rumah. "Nonton dangdut dong pa!". Padahal saya yakin, dia belum tau persis apa yang akan ditonton.

"Kenapa koq mendadak dangdut kek Titi Kamal sih", pikirku dalam hati. Dan usut punya usut, sepertinya Farhan terpengaruh sama teman-temannya anak tetangga yang heboh berbondong-bondong sama keluarga-nya pergi nonton dandutan. Padahal, tau sendiri, pesta dangdut seperti itu sangat tidak pantas ditonton oleh seorang anak kecil. Pakaian yang serba minim. Goyangan yang jauh lebih hot dari goyang ngebor-nya Inul Daratista, serta ditambah adegan sang penyanyi berpenampilan seronok dikerubuni cowok-cowok yang seakan sudah fly dengan gepokan lembar se-ceng di tangan nyawer, pernah membuatku merasa geli menyaksikannya.

Berbagai cara saya tempuh untuk sekedar mengelabui keinginan Farhan, tidak membuahkan hasil apa-apa. Akhirnya saya menyerah. "Panggil kak Intan, biar ada yang nemanin!", ucapku dengan wajah cemberut. Ternyata si Intan, yang mengasuh Farhan pun sepertinya memang berniat untuk pergi nonton. Kukeluarkan motor bebek dari garasi, lalu membonceng mereka berdua menuju tempat sang pesta digelar.

Jalanan sudah penuh sesak oleh pejalan kaki, motor hingga mobil-mobil yang mau lewat. Terlihat jelas, betapa masyarakat kampung yang masih mayoritas betawi ini begitu bersemangat menyambutnya. Pun bisa berarti potret kehidupan ril bahwa mereka memang haus akan sebuah hiburan. Abang-none, nyak-babe, ngkong-bocah tumpah ruah di jalanan.

Farhan dan Intan saya drop, lalu pulang ke rumah sendirian. Namun baru beberapa menit saya baring-baring di kamar, ada miscall masuk di Handphone saya, dari si Intan. Saya telpon balik, ternyata Farhan sudah tidak betah, pengen pulang.

Sambil menggerutu, saya menancap gas motor bebek menjemput mereka. Dari kejauhan sudah kelihatan Farhan dengan topeng karet di tangan bersama Intan. Ternyata Farhan jajan, namun yang dibeli bukanlah jajanan makanan, melainkan sebuah topeng yang entah kapan mau digunakan. Tatkala saya tanya kenapa cepat pulang, Farhan hanya bisa terdiam.

Sesampai dirumah, saya ulangi pertanyaanku,"Kenapa cepat pulang?".
Dia hanya berujar singkat, "males...".
"Nonton gak dangdutnya?", selidikku bak seorang interogator.
"Nggak", jawabnya tanpa ekspresi.
"Kenapa?"
"Berisik, tenggorokanku jadi sakit"
"Tenggorokan? Apa hubungannya? Emang Farhan ikutan nyanyi sampe tenggorokannya sakit?", Aku mengajukan pertanyaan beruntun.
"Gak", sahutnya sambil memilin-milin topeng karet yang dia beli.
"Lalu kenapa tenggorokan Farhan yang sakit?"
"Berisik. Lagunya berisik. Bunyi gitarnya berisik"

Saya masih tidak tau hubungannya, kenapa lagu yang berisik, lalu tenggorokan pendengarnya yang sakit. Yang pasti, semakin ketahuan kalau Farhan jadi ikutan latah pengen nonton dangdutan hanya karena pengaruh teman. Buktinya, di sana dia bukannya nonton, malah penjual mainan yang ikut berharap kucuran rezeki dari sebuah pesta dangdutan itu yang menarik perhatiannya. Namun dalam hati sedikit merasa gembira juga, ketauan bahwa ingin perginya bukan karena memang sudah tergila-gila sama pesta dangdutan.

Jadi, rengekan si Farhan semestinya bukan,"yuk, nonton dangdutan yuk", melainkan,"beli mainan di lokasi pesta dandutan yuk". Kalau dari awal permintaannya itu, saya mungkin tidak sengotot itu bertahan. Artinya, lingkungan memang sangat berpengaruh sama keinginan seseorang akan sesuatu, apalagi anak kecil yang masih sangat polos. Makanya para bapak, waspadalah....! (AF@Jkt, 11 Januari 2008)

Janjimu Tetap Sepi

Pagi-pagi, tatkala raga ini susah untuk diajak beraktifitas, yang bahasa keren-nya ta'loko, saya iseng-iseng memberi status YM dengan kata-kata yang identik dengan "Ta'loko di kamar". Tiba-tiba Daeng Nuntung, seorang blogger yang sangat saya kagumi, menyapa, "Sudah mi kita baca sajak dari saya?"

Saya kaget, tidak mengerti sajak apaan yang beliau maksud. Setelah mendengar penjelasannya, ternyata sajak itu di kirim ke milis Anging Mammiri. Sajak itu buat DM dan DN katanya. Sepertinya, dalam satu sudut, saya senasib dengan DN, tinggal berjauhan dengan Keluarga. Kalau beliau lagi beraktifitas di Aceh, saya sendiri di Jakarta. Sementara keluarga, sama-sama ada di Sulawesi.

Saya terkagum-kagum melihat sajak singkat dengan bahasa cantik sarat makna itu. Benar-benar Daeng yang satu ini, sanggup 'memaniskan' suasana yang pahit sekalipun. Maksudnya, melampiaskannya dengan kata-kata yang manis dan sebuah karya sastra singkat.

Karena terpesona dengan sajak itu, sayapun lalu minta izin sama beliau untuk menampilkannya di Blog saya, walau sudah beliau posting juga . Dan dengan senang hati dia menerima permohonan saya tersebut. Terima kasih Daeng. Berikut adalah sajak yang saya maksud.


Janjimu Tetap Sepi
:: buat lelaki di seberang tol

di luar dingin
angin basah bernyanyi senyap
pada selimut janji
yang tersisa, yang dikau titip di ujung tahun
dan kini gigil menyerangku

di dalamnya masih kurasa aneh
hatiku tetap malam selalu
galau diiris gerimis
yang menari diatas ruangku
ketika aku rindu
dia masih hembuskan wewangian

lewat janji dan sapaan

Banda Atjeh! jan 8, 2008

Nakke Bisa Berlogat Dong!

Saya sedikit terkejut, tatkala seorang saudara bercerita, "anak ta itu kalo dah dari Jakarta, belagu banget berlogat ibukota kalo bicara". "Iyah kah?", saya sedikit tidak percaya.

Hana, demikian nama panggilan sang putri tersayang yang baru berusia 3 tahun lebih itu. Beraninya minta ampun. Tidak ada yg ditakuti. Tatkala ada prilakunya yang kurang saya sukai, dan secara refleks saya beraksi pertanda marah, reaksinya benar2 menakutkan dengan lirikan tajam matanya yg bulat, sambil mengepalkan tinjunya, seakan menantang. Bahkan sampai si Farhan pun kadang 'takut' menghadapinya.

Iseng-iseng, saya menelpon lewat nomor HP mamie, nama panggilan Rahmi yang mengasuhnya, dan minta Hana yg bicara. "Hana sudah makan belum?", demikian kira2 sapaan pertamaku, layaknya seorang orang tua sama anak balitanya. Spontan dia menjawab, "Nakke kan sekarang lagi makan". "Lagi makan nasi?", sambungku. "Nggak, lagi makan poteto chips", balasnya dengan nada lugu. Sayapun menasehatinya agar makan nasi, namun refleks dijawab, "malas akh...makan nasi".

Ternyata bener, si Hana sudah 'jago' berlogat. Padahal kalau ke Jakarta, paling hanya sekitar 2-3 mingguan. Dan kelihatan sekali, dia berlogat dengan perasaan bangga, soq anak kota. Padahal sehari-hari tinggal di desa terpencil yang sinyal GSM pun belum sepenuhnya ter-cover. Saya sendiri sampai kaget. Dan bukan cuman itu, kekagetan saya bercampur dengan rasa geli, mendengar kalimat dengan kata-kata semacam"akh..., dong..., nggak", tapi tetap dalam intonasi bahasa Selayar. Bahkan dalam logat Jakarte-nya, kadang terselip kata-kata bahasa Selayar. Hana....hana...., sini aku cium akh...!

Lain Hana, lain juga dengan ulah si Farhan. Mendengar perbincangan tentang Hana yang latah berbicara pakai logat, dia pun tidak mau ketinggalan. Mungkin dalam hatinya berguman, "adik saya saja bisa, kenapa saya tidak. Malu dong sebagai seorang kakak".

Tatkala mama-nya datang, giliran Farhan yang 'berulah'. Secara diam-diam dia dengarkan intonasi ala bahasa Selayar dari Mamanya. Dan mulai praktek ke kakak Intan-nya. Mungkin setelah agak PD, baru dia mencoba show force sama papa-nya.

Sayapun jadi tertawa cengengesan dibuatnya. Mulailah dia memperlihatkan kelihaiannya bermanja-manja ke mamanya, berbicara dengan intonasi logat Makassar(selayar). Benar-benar kedengaran lucu.

Dan anehnya, dia seakan berbangga menggunakan logat itu kepada teman-teman mainnya yang rata-rata anak Betawi. Yang aneh, pemakaian 'ki', 'ji', 'mi'-nya yang nyampur-aduk, tidak pada tempatnya. "Main game ki dulu saya nah papa, abis itu baru ngerjain PR". Setelah saya 'protes' bilang, pemakaiannya salah, dia bersiap-siap dengan jurus barunya, mengganti 'ki' jadi 'pi', demikian seterusnya.

Tatkala saya protes, "Gak usah berlogat Makassar kalo gak tau penempatannya deh", dia pun berusaha menggantinya sesuai tambahan2 kata lain yg pernah dia dengar. "Main game ji dulu". Saya pun menimpali, "salah tuh". Langsung diganti lagi, "main game ji". Capek deh...., gak ada yang benar.

"Biar mi papa. Asal saya bisa bahasa Makassar". Kali ini pemakaiannya sudah lumayan benar., tapi sayang bahasa Indonesia yg berlogat Makassar, dia kira bahasa Makassar. Dan yang pasti, dia bangga dengan itu semua. Yare....yare...., ii zou Farhan kun! (AF, 07 Januari 2007)

Buruk Rupa, Cermin Ditonjok

"Kita bukan bermaksud mencari siapa yang salah. Yang utama sekarang adalah apa solusi dari permasalahan yang dihadapi." Sebuah ungkapan yang sering saya dengar tatkala berdiskusi dengan seorang teman tentang suatu permasalahan yang dihadapi. Pernyataan itu sangat tepat buat mereka yang berpikiran maju. Walau kadang, untuk menggali sebuah solusi jitu, mau tak mau harus mengangkat siapa yang salah dan apa penyebab kesalahannya. Dan hal ini kadang bak rel kereta api panjang, yang menghubungkan satu stasiun dengan stasiun lain, sambung menyambung. Sehingga untuk mencari titik awal sebuah kesalahan, kadang sangat melelahkan. Tapi itu tetap penting dilakukan, karena meng-cover sebuah permasalahan dengan jalan pintas, cenderung hanya berdampak sesaat, sehingga efek negatif yang ditimbulkan oleh kesalahan dimaksud, tetap akan berulang walau mungkin dalam wujud lain.

Namun, tabiat masyarakat kita, praktis lebih suka menempuh jalan pintas, tanpa niat mencari solusi dengan membenahi hal yang menjadi akar dari permasalahan yang ada. Tatkala menghadapi sebuah masalah, yang sibuk dipikirkan adalah siapa yang bisa dijadikan kambing hitam atas masalah tersebut. Atau kalau masih bisa, berusaha berkelik dengan kata-kata, "Mungkin sudah dari sononya", "Ini sebuah bencana", atau ungkapan-ungkapan lain yang lebih bersifat sebuah kepasrahan atau pembenaran.

Bencana Lumpur Lapindo misalnya, akhirnya 'sukses' ditutupi dengan dalil itu sebuah bencana alam. Kita yang berbuat khilaf, jalan keluarnya, alam yang disalahkan. Karena political power pemilik di pemerintahan kuat, negara yang justru berkorban banyak untuk menanganinya. Sisi hukum yang semestinya ditegakkan pun jadi kabur. Intinya, yang salah dalam kasus ini adalah alam yang tega menyemburkan bencananya. Pelaku industri yang sudah berbuat asal hantam demi meningkatkan profit, yang kemungkinan sudah tidak menerapkan prosedur yang semestinya, masih tetap bisa tidur nyenyak, sementara masyarakat setempat tidak bisa tidur berdesak-desakan di tenda-tenda penampungan.

Larinya para investor asing ke negara tetangga, pun bisa menjadi salah satu cermin bahwa kita memang terlampau lelet untuk sedikit berfikir maju. Kita sendiri yang membuat mereka lari. Setelah itu, kembali menyusun anggaran yang tidak sedikit, untuk ber-promosi kembali dengan harapan para investor akan berbondong-bondong menanamkan modalnya di negeri yang katanya kaya raya ini. Padahal kalau mau jujur, di dalam promosi itu terkadang ada unsur penipuan. Yang penting, kalian datang dulu ber-invest. Padahal iklim investasi yang paling diharapkan para investor kurang mendapatkan perhatian.


Larangan Terbang Maskapai Nasional Oleh UE
Dalam dokumen Delegation of the European Commission tertanggal 16 Juli 2007 yang bersubyek "Memorandum on Update of the Community List of Air Carries on Which the European has Imposed an Operating Ban", Indonesia termasuk dalam Community List di UE. Iyah..., Maskapai nasional, dilarang terbang di bumi Eropa.

Pemerintah jadi kegerahan dibuatnya. Menyalahkan sang pembuat dokumen yang katanya memutuskan secara sepihak. Bukannya melihat apa standar dari keputusan itu. Padahal kalau dilihat, sepertinya maskapai penerbangan kita memang termasuk deretan penerbangan paling tidak safety. Hanya saja, di dalam negeri, hal tersebut sudah tidak terlalu kentara dikarenakan sudah membiasa. Kalau begitu, bukankah pembuat keputusan itu jauh lebih manusiawi dari instansi yang harusnya mengurusi masalah transportasi kita? Bahkan konon Directorate General of Transport and Energy di European Commission, sudah beberapa kali menghubungi pemerintah Indonesia untuk memberikan fakta bantahan atas 'tuduhan' mereka, tapi tidak digubris. Jadi siapa yang salah?

Lalu bagaimana respon pemerintah Indonesia? Jusman Syafii Djamal, sang Menteri Perhubungan mengatakan akan mengupayakan dialog agar larangan terbang Uni Eropa dicabut. Namun yang aneh, beliau menambahkan bahwa jika itu gagal, pemerintah mengancam bakal melarang balik Uni Eropa terbang. Sepertinya kita sudah terlanjur terbiasa menyelesaikan masalah bukan dengan hukum, melainkan kekuatan fisik atau kong kalikong. Bukankah kriteria yang mereka pakai untuk pe-label-an itu sudah baku? Kalau begitu, itulah dasar hukumnya. Kalau mau layak terbang, ikuti standar safety yang mereka jadikan dasar. Apakah kita sanggup melarang maskapai mereka terbang, sementara mereka memang layak terbang? Tidak mungkin dan seperti kata Agung Laksono, langkah itu sangat kekanak-kanakan.

Bahkan rencana kunjungan SBY ke Eropa ditunda gara-gara masalah pelarangan terbang itu. Terkait kunjungan yang tertunda ini, Dino Patti Djalal, juru bicara Kepresidenan mengungkapkan bahwa kita bisa merencanakan kembali perjalanan ke Eropa yang tertunda, kalau airline ban carrier sudah diangkat. Sekali lagi bukannya kita melakukan pembenahan, agar maskapai kita layak terbang, kita malah mengancam UE terhadap kasus pem-ban-an ini.

Kita kadang sibuk melimpahkan kesalahan pada orang lain. Itu sepertinya sudah men-darah-daging dalam kehidupan masyarakat di negeri ini. Wong pemerintahnya saja seperti itu. Sudah jelas-jelas kesalahan ada sama kita, malah menempuh jalan yang justru akan menimbulkan masalah baru. Ibarat lagi berhias di depan cermin, tampang yang penuh bopeng, malah cermin yang kita hancurkan. Tidak bisa menerima kesalahan sendiri, tapi tidak memperbaikinya.

HermanLaja.COM