Fallujah, Fakta Pembantaian



The Herald, sebuah harian Scotland, pada edisi hari minggu 14 November 2004, memuat tentang pengakuan seorang wanita Iraq yang dibantai oleh militer pencaplok amerika tanpa batas perikemanusiaan. .......

Lapang Dada, Sumber Ketenangan Jiwa

"Tidak perlu mengkhawatirkan keadaan saya. Tapi prihatinlah sama penderitaan rakyat Palestina yang tiap detik dirongrong oleh kedzaliman teroris Israel!" Kata-kata ini keluar dari mulut sang "Middle East Phoenix" tatkala beberapa LSM dan media menanyakan keadaannya ditengah kepungan alat militer super canggih si Zionis di Ramallah beberapa waktu yang lalu. Yasser Arafat, Burung nan gagah perkasa itu kini telah rontok meninggalkan segunung duka di hati rakyat terusir Palestina. Yang penyebab kematiannyapun banyak mengundang teka-teki.

Memang banyak yang pro-kontra terhadap beberapa tindakan pengusung PLO ini. Tapi setidaknya bahwa tatkala liungan suara rudal terus terngiang di atas kepalanya, masih sempat menunjukkan jiwa besarnya, memikirkan rakyat yang tiada henti menjadi obyek observasi hasil industri militer sang Adikuasa. Masih bisa lapang dada, sabar sementara tank-tank sang Zionis sudah menghancurkan sebagian bangunan tempatnya beraktivitas.

Fudhail bin Iyadh, seorang tokoh di zaman generasi Tabi'in bercerita bahwa suatu ketika, saat berada di Masjidil Haram, ia didatangi seseorang yang menangis. Fudhail bertanya,"Kenapa engkau menangis?" Orang itu menjawab, "Aku kehilangan beberapa dinar dan aku tahu ternyata uangku dicuri orang". Fudhail mengatakan,"Apakah engkau menangis hanya karena dinar itu?" Ia menjawab,"Tidak, aku menangis karena aku tahu bahwa kelak aku akan berada di hadapan Allah, dengan pencuri itu. Aku kasihan dengan pencuri itu, itulah yang menyebabkan aku menangis..."

Banyak kisah-kisah kelapangan dada dan kemudahan memaafkan dalam perjalanan hidup para salafushalih. Suatu ketika kuda Rabi' bin Khaitsam dicuri orang, tapi Fudhail malah memberinya uang 20 ribu dinar kepada Rabi'. Lalu Beliau mengatakan,"Berdo'alah kepada Allah buat yang mencuri itu." Rabi' kemudian berdo'a,"Ya Allah, jika ia orang kaya maka ampunilah dosanya, dan jika ia orang miskin maka jadikanlah ia orang kaya."

Lapang dada menuntun hidup ini menjadi tenang. Dalam menjalani hidup bermasyarakat, rasa sedih, kecewa, atau bahkan tersulut sedikit rasa amarah, menjadi kerikil-kerikil yang selalu hadir mendekati hati. Tapi bagi orang yang berhati luas, akan mampu menguasai hatinya kembali. Hati mereka tetap ridha, mata mereka tetap teduh, ketenangan mereka sama sekali tidak terusik. Betapa indahnya.

Lapang dada....., Mengucapkannya begitu gampang. Tapi implementasinya dalam kehidupan butuh kadar iman yang cukup tertempa.

Suatu saat ada seorang sanak saudara minta bantuan untuk ditambahi modal usahanya. Dengan modal "proposal" yang cukup meyakinkan, ternyata mampu meluluhkan hati keras saya. Sifat kikir saya ternyata takluk oleh untaian bla-bla-nya. Dengan berat hati saya melapor ke sang bini, kalau permintaan sang famili itu cukup realistis, dan akan saya kabulkan. Sang istri yang memang tergolong penurut, langsung mengiyakan walau diikuti kata-kata peringatan agar hati-hati, karena kita sendiri belumlah tergolong berlebih, demikian alasannya. OK, uang siap, langsung dikirim ke Indonesia dengan pos. Lalu sabang hari nelpon menanyakan apa uang-nya sudah sampai. Bulan berganti, ternyata uangnya tidak sampai-sampai juga. Ditanya ke kantor POS, dipingpong ke bea cukai, begitulah seterusnya. Padahal menurut keterangan POS di tempat saya mengirim, kirimannya sudah sampai. Sang famili sudah capek pulang-balik Selayar-Makassar, tapi urusan ini tidak pernah membuahkan hasil. Yah...., uangnya hangus menguap hilang entah kemana, entah masuk ke kantong pegawai bea cukai atau kantor POS. Padahal di keluarga, uang sebesar 17 jutaan itu tidaklah termasuk bilangan yang kecil.

Jadi "wajar", kalau saya sempat ngumpat-ngumpit sana sini. Dasar pencuri...., Kasian keluarganya dikasih makan dari duit hasil rampokan. Dan sejuta kata-kata yang tidak begitu pantas diucapkan. Tujuan saya sebetulnya ada satu, biar istri tidak balik memarahi saya. Tapi entah dapat ilham dari mana, sang istri cuman bisa nyengir, tersenyum masem-masem sambil berucap, sudahlah.... mau ngamuk juga tidak bakalan dapat memecahkan masalah. Hati sedikit lega, tidak kebagian semprot dari istri. Ternyata pepatah "Sudah jatuh dihimpit tangga" masih minder menghampiri saya.

Lewat kejadian itu, saya kembali sadar, bahwa ternyata derajat kesabaran ini masih sangat rendah. Rada lapang dada masih sebatas ucapan di mulut. Ego ini masih terlalu tinggi, masih rabun terhadap keadaan sekeliling. Ternyata saya sama sekali jauh dari mampu berdoa ala Rabi' bin Khaitsam. Jadi pantas, kalau dalam menjalani kehidupan ini, masih banyak diselimuti oleh perasaan keluh-kesah. Hati ini masih susah untuk diajak tentram. Padahal amal-amal yang besar, hanya bisa lahir dari jiwa yang tenang, hati yang lapang, penuh ridha, pikiran yang jernih.

Di detik ini, di malam di mana Takbir berkumangdang, untaian dzikir mengagungkan kebesaran Allah, hati ini kembali mengevaluasi dini. Akankah setelah hari kemenangan esok, hati bisa menjadi lebih tentram. Kesabaran akan ber"grade up". Kekhawatiran kembali muncul, jangan-jangan Ramadhan yang baru saja berlalu ini, tidak ada ubahnya dengan Ramadhan-ramadhan sebelumnya, akan hilang tanpa bekas. Padahal barometer keberhasilan ibadah Ramadhan kita adalah meningkatnya rasa keimanan yang ada di dada. Meningkatnya rasa lapang dada, kesabaran, yang seterusnya akan membuahkan jiwa yang semakin tenang menghadapi seluk-beluk berkehidupan. (AF, Yokohama)

Islam Anti Demokrasi?


Siapa bilang Islam anti demokrasi? Label anti demokrasinya Islam sebetulnya sedikit banyak hanyalah bualan barat yang dengan jelas-jelas selalu berniat untuk memojokkan, yang lalu kemudian akan dijadikan alasan untuk menghancurkannya. Penerapan syariat Islam sama dengan menginjak-nginjak HAM? Lagi-lagi gazwul fikri barat terhadap Islam.

Demokrasi yang sejati bukanlah demokrasi ala Amerika dan sekutunya yang diusung sebagai bahan pembenaran pembantaian yang terjadi di seluruh penjuru dunia, terutama di tanah-tanah Islam. Negara "hyperpower" itu memang sedang menjalankan plotik luar negeri agressif-nya. Mengekspor sistem nilai mereka, menentukan negara mana yang beradab, rasional, dan demokratis. Bahkan, mana yang manusiawi dan tidak. Sama sekali tidak. Semua manusia beradab di dunia ini pasti menggelengkan kepala bila mana negara yang menjuluki diri penjunjung HAM itu berteriak, "Inilah sosok demokrasi yang sesungguhnya!".

Ketidakadilan ini setidaknya sudah dijelaskan oleh seorang antropologist bernama Merryl Wyn Davies dalam bukunya "American Dream, Global Nightmare". Yah...., Mimpi Amerika untuk mencaplok dunia ketiga dengan dali penegakan HAM, yang bahkan sampai detik ini belum terdefinisikan itu telah menjadi mimpi buruk peradaban umat manusia. Karena politik luar negerinya tetap masih merefer pada pendapat "Archiavelli" bahwa politik itu adalah menghalalkan segala cara. Alasan klasik memerangi terorisme yang sampai dekit ini tidak mampu terdefinisikan itu, tidak lebih dari sebuah bualan anak ingusan.

Kalau saja negara-negara Barat berniat menegakkan yang namanya demokrasi, hal awal yang perlu dibenahi adalah, Dewan Keamanan PBB. Hapus yang namanya hak veto, karena ini praktek nyata yang jelas-jelas melecehkan apa itu demokrasi. Musnahkan senjata pemusnah massal yang secara quantity hampir semua dimiliki oleh Amerika dan sekutu-sekutunya. Baru memanggil dunia untuk tidak bermain api dengan apa yang disebut senjata pemusnah massal.

Sebetulnya demokrasi yang masih bersih memang bagus. Tapi kalau ditilik lebih dalam, ternyata tidak lebih mulia dari yang bernama "keadilan" yang banyak diulang-ulang dalam ajaran Islam.



1 Demokrasi dan Syuro memang ada perbedaanya. Demokrasi selalu berorentasi pada suara terbanyak walaupun salah. Misalnya jika pada masyarakat mayoritasnya pencuri/ korupsi, maka suara terbanyak untuk menjadi pemimpin adalah mereka yang terbiasa mencuri/ korupsi. Dan kita sepakat bahwa mencuri dan korupsi itu salah. Sedangkan syuro berorientasi pada kebenaran walaupun suara kebenaran itu sedikit. Pada syuro tidak boleh bertentangan dengan Sumber hukum Islam yaitu Al-Qur'an dan Hadits. Sedang Demokrasi tidak punya standar kebenaran.

Tamatnya Garuda Jalur Eropa


Awal Nopember menjadi hari sedih buat pencinta penerbangan Garuda-Amsterdam karena Dody Yasendri, Manajer Umum Garuda untuk Benelux, Swis, Skandinavia dan Prancis mengumumkan bahwa jalur Jakarta-Amsterdam yang merupakan jalur terakhir ke Eropa itu ditutup karena rugi. Padatnya penumpang yang oleh pihak garuda disebuat bahwa hampir semua di kelas ekonomi, tidak mampu membendung jalur ini tidak 'lipat sayap'. Penjualan kelas bisnis selalu seret, sehingga Garuda terus-menerus mengalami kerugian dalam mengoperasikan jalur Jakarta-Amsterdam. Lebih lanjut Dody menyebut bahwa kepelikan yang dihadapi Garuda saat ini sebenarnya buntut masalah warisan manajemen lama. Pencarian kambing hitam seperti ini sering juga terdengar tatkala Megawati berkuasa. Ekonomi yang morat-marit adalah warisan pemerintah yang lalu. Padahal kalau mau jujur, banyak BUMN hasil karya pemerintahan yang lalu, yang justru seenaknya digadaikan oleh Mega dan konco-konconya. Dan yang paling parah, bahwa hasil penggadaian itu tidak 100% masuk ke kas Negara. Konon banyak yang mencrat ke sana-sini, ke kantong-kantong pemegang kekuasaan. Mungkin sudah menjadi tabiat masyarakat kita yang hanya pandai menunjuk sumber kesalahan tanpa bisa berbuat sesuatu untuk perbaikan.

Salah satu hasil analisis pihak garuda sehingga tidak bisa menggaet penumpang kelas bisnis, adalah fasilitas tempat dukuk kelas bisnis yang sudah sangat jauh dari fasilitas kelas yang sama pada penerbangan lain seperti SQ(Singapore), atau MAS(Malaysia). Ketidakmampuan memperbaiki fasilitas ini, disebabkan keadaan kondisi keuangan Garuda yang lebih banyak minus sejak pertengahan tahun 90-an yang lalu.

Dari sudut pandang pencinta kelas ekonomi, ada beberapa keanehan yang terlihat dalam pengelolahan Garuda selama ini, khususnya jalur Jakarta-Tokyo.

Yang pertama, bahwa ternyata ticket discount buat pelajar dari garuda sekalipun, masih lebih mahal dari ticket discount biasa dari penerbangan lain. Padahal sebagai pelajar yang punya ketebalan kantong terbatas, sudah pasti bahwa penerbangan dipilih berdasarkan murahnya biaya. Maka jangan heran kalau orang Indonesia mau pulang ke negara sendiri, lebih banyak terbang dengan pesawat lain seperti penerbangan milik Singapore, Malaysia, Korea, atau yang lainnya. Bahkan sekitar 10 tahunan yang lalu, sempat booming pulang kampung dengan penerbangan Bangladesh.

Dari segi pelayananpun, Garuda menempati tingkat kesopanan pelayanan rendah, minimal diband

John Kerry dan PKS

Apa hubungan mantan capres Partai Demokrat John Kerry, yang dikalahkan oleh George W Bush pada pilpres yang baru saja usai di negeri pamam sam itu dengan PKS. Kerry sudah hampir pasti tidak mengenal apa itu PKS. Sementara PKS-pun tidak pernah kedengaran melobi tim sukses-nya Kerry-Edwards.

Kerry, yang menyaksikan perhitungan suara hasil pilpres setelah memprediksi bahwa peluang kemenangannya sudah hampir tidak ada, langsung nelpon Bush mengucapkan kata selamat kepadanya dengan gentle. Sangat beda jauh dengan apa yang kita saksikan di tanah air.

Lalu unsur apa yang memperlihatkan keidentikan Kerry di negeri pengusung HAM dan sekaligus penginjak-injak HAM itu sendiri dengan PKS di negeri yang wakil rakyatnya saling gontok-gontokan itu?

PKS memenangkan pemilu di DKI Jakarta dan Luar negeri yang mayoritas pemilihnya adalah orang-orang perpendidikan. Hal itu yang menjadikan PKS dijuluki menang pemilu versi rasional. Konstituen-konstituen yang sudah mulai menggunakan pikiran ketimbang taklik buta, emosi kedaerahan dan atas dasar ketokohan dan karisma lebih cendrung memilih PKS dengan track record dan unsur moral yang lebih unggul.

Kerry memenangkan daerah-daerah yang tingkat inteligensi-nya relatif tinggi. Sementara Bush banyak mendulang suara dari daerah yang relatif terbelakang. Pantai barat dari California ke arah Washinton dimenangkan oleh Kerry. Demikian juga di bagian timur seperti Washinton DC dan New York dimenangkan kubu Kerry. Sementara Bush unggul mutlak di daerah tengah seperti Colorado, Kansas dan daerah-daerah sekitarnya. Demikian juga di bagian selatan seperti Texas, Florida juga dimenangkan oleh Bush.

Warga dunia-pun begitu kecewa dengan kemenangan Bush kali ini. Mereka-mereka bukannya pro terhadap Kerry, melainkan karena sudah semakin benci dengan kebijakan bar-bar yang dilakonkan oleh sang Koboy Bush dan konco-konconya. Daily Mirror pada edisi 4 Nopember, menampilkan gambar besar Bush di halaman utamanya, dengan judul utama "How can 59,054,087 people be so DUMB?". Seakan mewakili warga dunia dalam melihat hasil pilpres di satu-satunya negara adidaya itu.

Bukan cuma warga dunia yang tercengang, tidak habis mengerti mengapa hasil pilpres seperti itu. Warga Amerika sendiri banyak yang "dumb", mulutnya kaku menyaksikan kemenangan pencabut nyawa 100 ribuan warga Iraq ini. Di Amerika sendiri, banyak yang marah melihat hasil ini. Michael Moore, sutradara film Fahrenheit 911 yang memang terkenal muak dengan kebijakan Bush ini langsung mencak-mencak tidak percaya akan "kebodohan" sebagian besar warga Amerika dalam memilih presiden-nya.

Masyarakat umumpun banyak tidak mau menerima kemenangan Bush ini. Philip Kruh, seorang warga Ohio, dalam emailnya mengatakan,"I am planning on moving to England before this country completely goes to hell". Dan memang setelah kemenangan Bush, peminat pindah kewarganegaraan ke Kanada naik drastis. Yang lebih ekstrim lagi adalah seseorang yang mengaku bernama Jeff dari San Fransisco mengatakan,"Europe, please invade us. We need a regime change".

Kita memang tidak bisa berharap banyak, seandainya Kerry-pun memenangkan kursi 1 USA itu. Tapi setidaknya kita sudah tau, seberapa besar tingkat ke-manusia-an seorang presiden yang bernama Bush. Menyuplai senjata canggihnya ke Israel untuk membunuhi anak-anak, orang tua, wanita-wanita Palestina. Menghancurkan manusia dan kemanusiaan di Afganistan, Iraq dengan dalih terorisme. Lalu setelah Iraq sudah 100% dalam caplokannya, resistant sudah pada menyerah, maka giliran Iran yang akan menunggu nasib yang sama. Sementara kita hanya bisa menyaksikan, dengan hati yang sedih tanpa bisa berbuat apa-apa. Karena yang lebih baik tidak selamanya akan keluar sebagai pemenang dalam sebuah pertarungan.(AF, Yokohama)

Tantangan Pemberantasan KKN

Pasangan SBY-JK mencapai kursi Indonesia I-II dengan sebuah slogan "100 Hari Pertama". Penanganan korupsi, pembersihan aparat penegak hukum harus bisa menunjukkan hasil signifikan dalam periode 100 hari pertama itu. Demikian SBY meyakinkan seluruh rakyat Indonesia kalau presiden pilihan mereka itu tidak main-main. Dengan target itu, rakyat punya pedoman jelas, apakah benar tidak salah memilih pemimpin mereka, atau seperti sediakala akan kecewa dengan janji-janji palsu yang selalu terlupakan tatkala kehidupan elit di Istana negara terlanjur dinikmati.

Langkah pertama yang SBY tempuh, adalah memanggil satu-satu pimpinan instansi terkait untuk ditatar agar segera melakukan perbaikan di lingkungan masing-masing. SBY sadar betul, bahwa langkah kongkrit itu harus segera dimulai, sebelum rakyat kembali kehilangan kepercayaan terhadap pemerintah. Bahkan instansi yang selama ini dinilai rawang sebagai biang keladi merajalelanya praktek KKN, langsung diberikan target nyata. Sesuatu hal yang hampir mustahil dilakukan oleh senior-senior-nya. Langkah ini dengan jujur patut kita hargai, karena tidak akan ada perjalanan jauh tampa sebuah langkah pertama. Atau tidak akan ada uang 1 juta bila tidak dimulai dari recehan 100 perak.

Banyak yang berwajah sinis, melihat tampang-tampang menteri yang dipasang oleh SBY, terutama di seputar bidang perekonomian. Tapi selama keputusan sudah ditandatangani, dan diumumkan ke publik, seberapa tinggi nada protes sekalipun sudah susah untuk bongkar pasang secara instan. Oleh karena itu, tindakan yang paling bijak adalah menyokong apa yang sudah ada, dengan tidak melupakan untuk tetap kritis, mengoreksi setiap langkah-langkah yang mereka tempuh.

Ternyata kemulusan langkah pertama lembaga kepresidenan, tidak diikuti oleh wakil-wakil rakyat di gedung senayan sana. Mereka membuat 2 kubu yang terkesan saling berebutan posisi strategis. Kaolisi kebangsaan ternyata berambisi menyapu bersih ketua-ketua komisi dengan mengambil keputusan sepihak memilih mengubah tata tertib yang ada dan memilih ketua-ketua komisi, meski tidak memenuhi kuorum. Maka sungguh cukup beralasan bila Mochtar Pabottingi, seorang pengamat politik ternama, merasa curiga akan adanya upaya menjegal pemerintah oleh kaolisi kebangsaan ini.

Tapi bukan berarti dendam politik menjadi pemicu utama ngototnya kaolisi kebangsaan untuk merampas semua kursi ketua komisi itu. Bisa saja keseriusan pemerintah untuk memberantas korupsi terlihat bagai kerikil-kerikil tajam di depan mata mereka, sehingga mereka menginginkan agar agenda pemerintah terhadap pemberantasan KKN bisa kandas di tengah jalan. Seperti Pabottingi sampaikan dalam bincang-bincang dengan eramuslim online, "Saya curiga, Koalisi Kebangsaan yang begitu ngotot untuk menyapu bersih kursi ketua komisi di DPR justru untuk menjegal jangan sampai KKN diberantas, karena siapa tahu mereka bakal kena." Karena memang sudah menjadi rahasia umum, manakala selama 3 tahun terakhir DPR sudah dikenal rakyat sebagai Dewan Penipu Rakyat atau Dewan Perwakilan Rampok. Terlihat dengan jelas betapa kaya rayanya anggota DPR itu, bagaimana undang-undang dimainkan, proyek dimainkan, dan semacamnya yang kesemuanya mengarah kepada praktek merampok rakyat.

Bisa disaksikan betapa banyaknya wakil rakyat terutama di daerah yang sudah diseret ke pengadilan. Dan ada sebuah keyakinan, bahwa semua itu baru sebatas prologe. Akan semakin banyak bila para wakil rakyat itu sudah tidak mempunyai tempat duduk di kursi dewan. Dan yang perlu diingat bahwa wakil rakyat dan mantan wakil rakyat di tingkat pusat hampir belum tersentuh. Golkar dan PDIP adalah sangat dominan di kaolisi kebangsaan. Dan seperti kita tahu, mereka lah biang korupsi-korupsi besar. Bukankah Kwik Kian Gie, tokoh PDIP saja pernah mengakui beberapa tahun yang lalu, bahwa partainya partai terkorup. Sementara Golkar sendiri sudah punya sangat banyak catatan besar terkait dengan KKN ini.

Secara jumlah, mayority Golkar dan PDIP di parlemen bisa menjadi batu sandungan yang cukup berarti dalam mengimplementasikan agenda-agenda pemerintah dalam pemberantasan KKN. Karena golongan penyeimbang, kaolisi kerakyatan punya keterbatasan dari segi jumlah anggota. Modal ketenangan SBY dalam mengambil kebijakan juga bisa menjadi salah satu unsur penangkal intervensi ke arah negatif yang datang dari parlemen. Dan yang utama adalah ke-istiqomah-an golongan putih dalam menggunakan hati nurani dalam bertindak terhadap sesuatu yang berhubungan langsung dengan hajat hidup masyarakat secara keseluruhan. Dan tentu peran seluruh masyarakat untuk selalu memonitor gerak langkah penguasa dan wakil rakyat menjadi dasar itama, kita akan tetap melangkah ke arah lebih maju, atau justru kembali ke masa zaman kuda gigit besi. (AF, Yokohama)

Uchi Wa Bimbo Dakara....

Sekumpulan anak SD pulang dengan jalan kaki dari sekolah. Di tengah jalan, ada sebagian yang mengeluarkan Ide untuk singgah sebentar bermain di sebuah game center. Tapi ternyata ada satu dua orang yang menolak ikut teman-temannya itu. Lalu ada yang bertanya,"Nandayo....". Tapi dijawabnya,"Gomen, Uchi wa bimbo dakara....". Pemandangan semacam ini tidak tergolong jarang dijumpai dalam kehidupan anak di Jepang.

Sebenarnya ongkos main game sekali-kali tidaklah begitu berarti, karena memang tergolong murah untuk standar hidup sebuah keluarga Jepang. Dan sebagai mana umumnya status sosial kehidupan masyarakat negara maju, hampir tidak ada jurang yang tinggi antar keluarga dari segi kemampuan ekonomi. Dan sudah hampir pasti bahwa fasilitas elektronik rumah tangga seperti tv,telpon,kulkas,mesin cuci tidak luput memberikan ke-praktisan dalam kehidupannya. Artinya semiskin-miskin mereka, masih jauh lebih kaya dari sebagian besar masyarakat kita.

Lalu kenapa sampai "pelit" untuk sekedar ikut teman main di game center, lalu tanpa rasa malu dengan enteng mengaku "bimbo"?

Ada dua nilai moral yang bisa diambil sebagai bahan pelajaran. Yang pertama adalah kemampuan menempatkan sesuatu sesuai dengan tingkat kepentingannya. Walaupun sebetulnya punya kemampuan untuk sekedar main game, tapi si anak SD tadi sadar kalau masih ada yang mesti lebih diprioritaskan.

Nilai moral yang kedua adalah ke-elegan-an mengakui ketidakmampuan dari segi ekonomi. Bukannya memunculkan rasa gengsi, lalu memaksakan sesuatu yang sebetulnya tingkat kepentingannya tidak begitu tinggi. Tau diri pada keadaan sendiri, dan bukan justru soq mampu dan memaksakan diri atau bahkan menyombongkan diri melebihi keadaan diri yang sebenarnya. Seperti apa yang banyak dipraktekkan oleh pejabat-pejabat di tanah air. Padahal agama telah mengajarkan bahwa Allah tidak suka pada orang kaya yang sombong, tapi lebih benci lagi pada orang miskin yang sombong.

Ada beberapa gebrakan politik dan moral yang praktekkan oleh ketua MPR terpilih, Hidayat NurWahid baru-baru ini. Menolak fasilitas kendaraan mewah volvo selayaknya sebagai pimpinan sebuah lembaga tinggi negara, dan juga enggan nginap di hotel mewah yang diperuntukkan buat anggota parlemen yang sedang mengikuti sidang di senayan.

Tapi ternyata langkah terpuji ini tidak serta merta mendapat pengakuan tulus oleh beberapa kalangan. Tidak kurang dari Ketua DPR RI Agung Laksono dan juga tokoh senior PDIP Sutardjo Surjoguritno memandang sikap penolakan fasilitas mewah bagi pimpinan lembaga tinggi negara itu tidak perlu. Dan tidak sedikit pula yang menuding bahwa gerakan itu hanya sekadar untuk mencari popularitas pribadi dan partai.

Tapi sebenarnya praktek seperti ini bukanlah barang baru buat anggota dewan dari partai pemenang pemilu di daerah barometer pemilihan rasional, seperti di DKI dan luar negeri yang mayoritas konstituennya adalah mahasiswa. Zirlyrosa Jamil, anggota DPR periode 1999-2004 dari Partai Keadilan beberapa kali dijumpai tengah bergelantungan di atas bis untuk berangkat atau pun pulang dari kantornya di Senayan. Mashadi SH, juga anggota DPR periode yang sama dengan Zirly, menolak fasilitas mobil anggota Dewan dan memilih berangkat ke Senayan menggunakan Vespa 'butut'nya. Sehingga pernah suatu ketika di awal periode seorang Satpam seenaknya menyingkirkan Vespa milik Mashadi tersebut dari tempat parkir karena dianggap salah tempat parkir.

Sebetulnya mereka-mereka inilah yang pantas digelari wakil rakyat. Mereka mengerti bahwa rakyat yang diwakilinya itu adalah rakyat yang mayoritas tergolong miskin dari standar internasional. Orang-orang yang bukan hanya berteriak tentang hati nurani dikala berusaha menggaet hati pemilih, tapi insya Allah dengan hati tulus sadar akan apa yang keluar dari mulutnya itu. Orang-orang yang mampu ngomong "Gomen, Uchi wa bimbo dakara".

Tapi memang banyak yang kebakaran jenggot, terutama yang sudah kejangkitan virus "angan-angan mewahnya anggota dewan", tanpa mau peduli bahwa rakyat yang diwakilinya tengah bertarung meramal nasib, besok bisa menikmati sesuap nasi atau harus berpuasa.(AF, Yokohama)

* Nandayo (= Kenapa sih)
* Gomen, uchi wa bimbo dakara...(= Maaf, karena keluarga saya miskin)
* Bimbo (= Miskin)

Komputerisasi UKM


Di Asia Pasifik, Indonesia berada di urutan kedua terendah untuk komputerisasi UKM(Usaha Kecil Menengah), setingkat di atas posisi buncit yang dipegang oleh India. Demikian hasil riset IDC April 2004 yang lalu. Padahal menurut data yang ada, 99,97 persen dari total perusahaan yang ada di Indonesia masuk dalam kategori UKM. Padahal Indonesia termasuk posisi teratas kejahatan Informasi Teknologi.

Dari dua kenyataan yang tidak menggembirakan di atas, terlihat bahwa ternyata keuntungan jangka panjang dengan pemakaian komputer untuk bekerja lebih efisien, lebih kompetitif, masih kurang dilirik oleh masyarakat Indonesia. Justru minat masyarakat lebih menonjol ke arah bagaimana teknologi informasi ini bisa mendatangkan keuntungan jangka pendek. Oleh karena itu pencatutan kartu kredit merajalela. Masalah pembajakan software terlihat sebagai hal yang lumrah dikalangan pengguna teknologi informasi ini.

Penyebab
Keadaan kemampuan finansial untuk menggunakan software legal yang tergolong kurang menjadi pendorong rate pemakaian software bajakan tetap tinggi. Karena biaya teknologi informasi terutama dari segi perangkat lunak memang mahal dalam ukuran daya beli masyarakat Indonesia. Dan juga keadaan ekonomi yang koma sedikit banyak mendorong banyaknya praktek penyolongan lewat teknologi informasi ini. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah nilai moral yang tergolong sangat rendah. Sementara di kesempatan lain kita selalu mengklaim diri sebagai masyarakat religi.

Solusi
Solusi terpenting dan termujarrab, tentu tidak lain adalah meningkatnya daya beli. Yah, perbaikan keadaan ekonomi bangsa. Dan yang utama memang meningkatkan kesadaran akan baik-buruk dari segi moral dan agama, walau seperti anekdot "Sungguh susah berprilaku moral mulia tatkala perut dalam keadaan kosong", termasuk tidak gampang selagi kantong dalam keadaan tidak berisi. Salah satu solusi alternatif masuk akal dari segi teknologi adalah mengarahkan masyarakat untuk menggunakan produk IT yang berbasis open source. Untuk ukuran pengguna UKM, masih relatif mulus dari berurusan lisensi dan hak-hak paten dari open source ini. Pekerjaan rumah yang menunggu untuk bisa mengarahkan masyarakat IT ke open source adalah bagaimana memperbanyak ahli-ahli IT yang berbasis open source, karena kenyataan di lapangan bahwa tenaga IT yang berbasis open source termasuk minim. (AF,Yokohama)

Type Manusia

Beberapa tahun yang lalu, ada seorang teman yang mengklasifikasikan type dasar manusia berdasarkan region tempatnya berkomunitas. Type pertama adalah golongan yang suka ngomong dan suka kerja. Type ini diidentikkan dengan ras kulit putih di Amerika dan Eropa. Adapun etnis type kedua adalah kebalikan dari type pertama. Tidak suka ngomong dan malasnya juga tiada ketulungan. Etnis kulit hitam di Afrika sana menempati type kedua ini. Rumpun mata sipit mongoloid, terutama Jepang dicap sebagai golongan type ketiga, sedikit protes(bicara) banyak kerja.
Yang paling parah adalah golongan terakhir, banyak bicara malas kerja. Dan ternyata type ini didominasi oleh rumpun Asia tenggara terutama masyarakat Indonesia. Kita memang tidak bisa menapikan letter ini. Dikala kita dalam perjalanan berkeliling di Jakarta, akan nampak begitu banyak anak muda yang nongkrong di pinggir jalan, di depan rumah. Belum lagi kalau kita mengamati ke daerah-daerah, bahkan ke desa-desa. Kecendrungan ini akan makin tampak. Suatu pemandangan yang tergolong sulit disaksikan di negara-negara maju. Betapa banyak waktu yang terbuang percuma hanya untuk ngobrol ngalor-ngidul tiada karuan.
Sejak sekitar 10 tahun yang lalu, pemerintah lewat depnaker, mengirimkan beribu-ribu tenaga-tenaga mudanya mengikuti kegiatan "magang" di perusahaan-perusahaan skala menengah-kecil yang tersebar di seluruh penjuru Jepang. Program pemerintah ini memang termasuk bagus untuk ukuran saat ini. Pemerintah Indonesia bisa menyalurkan untuk sementara sedikit angka penganggurannya. Sementara perusahaan Jepang-pun gembira dengan pasokan tenaga murah yang bisa ditempatkan di bagian-bagian yang kurang diminati oleh tenaga lokal. Keluhan yang banyak terdengar dari para tenaga-tenaga magang itu adalah susahnya menyesuaikan etos kerja dengan tenaga lokal. Karena memang kebiasaan hidup santai di masyarakat kita, sangat tidak berlaku di pabrik-pabrik Jepang. Kebiasaan bergerak lunglai kayak jalan pasangan pengantin, tidak mungkin bisa ditolerir oleh atasan di tempat kerja. Banyaknya keluhan ini, bisa menjadi parameter, bahwa kita memang layak menyandang type manusia keempat.
Lalu, type mana yang terbaik, juga tidak gampang disimpulkan. Barometer unggul-terbelakang type manusia memang berdimensi banyak. Dan yang utama, bahwa tidak ada yang sempurna selagi masih berstatus sebagai mahluk. Akan tetapi, bukankah agama juga mengajarkan bahwa Allah tidak menilai apa yang kita katakan, melainkan apa yang kita telah perbuat. Tidak melihat setinggi apa ilmu yang kita punya, akan tetapi seberapa banyak karya nyata yang telah kita implementasikan dari ilmu yang kita punya. (AF, Yokohama)

Penulis Dambaan

Setiap orang tentu mempunyai gaya dalam melampiaskan pikirannya dalam tulisan. Akhir-akhir ini saya menyadari ternyata saya mencintai beberapa penulis di media massa ataupun penulis bebas di dunia maya.
Saya teringat, dari dulu di milis Apakabar, saya senang membaca tulisan bebasnya si Hasan "Proletar" Basri. Pria berdarah Minang kelahiran kelahiran Jakarta ini, termasuk suka melayangkan tulisan yang bernada pedas mengkritik pemikiran-pemikiran Islam. Walau begitu, pria yang minggat ke Amerika lalu kawin dengan betina bule yang bernama Vicky ini tetap mengaku sebagai Muslim. Terkadang banyak warga muslim yang sempat membaca tulisannya bagai luka kesiram cukai. Dia berani mengkritik sampai ke prihal yang relatif tabu diperdebatkan. Banyak memang isi tulisannya yang membuat muka merah menahan amarah, tatkala membacanya. Tapi, saya sendiri menghargai pemikirannya, walau bukan berarti setuju dengan semua prinsif yang dia pegang. Tulisannyapun enak dibaca, bahkan terkadang sedikit kocak. Demikian banyak yang mencap-nya sebagai musuh dalam selimut. Tapi sekali lagi, saya menghargai ketulusannya dalam membeberkan isi hati, tampa dihantui oleh kemungkinan reaksi pro-kontra yang selalu membanjir.
Di harian Fajar, ada kolom-nya Rahman Arge. Wartawan senior ini juga termasuk jenius memaparkan pemikiran dalam tulisan. Saya termasuk pengagum tulisan-tulisannya. Sayang, akhir-akhir ini saya harus puasa menikmati karya penanya. Di Fajar Online terutama setelah web site-nya direnovasi, tulisannya tidak pernah terlink lagi. Padalah sabang hari saya mengecek, karena memang selalu menantikan adanya tulisan barunya. Lagi-lagi tulisan-tulisan Rahman Arge, enak dibaca buat kalangan pembaca kelas teri semacam saya. Tidak ada penjelasan yang bertele-tele, soq cendekia, yang justru menggiring pembacanya ke alam kebingungan.
Di Majalah Gatra versi Online, ada Widi Yarmanto, yang juga punya kolom sendiri. Tulisan terbarunya selalu nongol setiap awal pekan. Saya sampai ketagihan, dan selalu menantikan tulisannya setiap pekan berganti. Untaian kata-katanya gampang dan enak dibaca. Lebih memfokuskan diri pada aspek moral dalam berkehidupan. Dan yang utama adalah, keluasan cakrawala berfikirnya mengesankan dirinya berotak jauh di atas orang kebanyakan. Lebih dari itu, nilai-nilai moral yang dianutnya termasuk golongan kelas wahid di tengah pertarungan memperebutkan kedudukan dan harga diri dalam realita kemasyarakatan yang bermoral acak-acakan di hamparan bumi persada yang berlabel NUSANTARA ini.
Siapa penulis idola anda?(AF, Yokohama)

HermanLaja.COM