Saya teringat seorang teman di tempat saya bekerja beberapa tahun yang lalu. Teman tersebut sebetulnya punya skill terhadap pekerjaan, namun sayang sikapnya menghadapi pekerjaan kelihatan ogah-ogahan. Datang ke kantor pun hampir tiap hari terlambat. Memang tempat kerja saya tersebut menerapkan fleksible time, sehingga bisa masuk kerja jam berapa saja asal dalam sebulannya memenuhi jam kerja yang telah ditetapkan.
Mengingat peraturan perusahaan yang menerapkan system fleksible time, sepintas sang teman tidak begitu kelihatan berbuat "kesalahan". Namun kenyataan mengatakan lain. Project terkadang berantakan gara-gara ketidak-teraturan jam nongol sang teman tersebut di kantor. Efektifitas pekerjaan yang memang dituntut dikerjakan secara tim, mau tak mau jadi negatif. Dan di situlah sebetulnya duduk permasalahannya. Anda datang jam berapa pun tidak masalah, toh peraturan membolehkan anda masuk kapan saja. Akan tetapi tatkala anda bekerja secara tim, di saat itu lah sebagai seorang pekerja profesional, anda dituntut untuk bisa berbuat tidak hanya sekedar melepaskan kewajiban secara makro. Karena ternyata banyak kewajiban-kewajiban mikro yang mau tak mau anda harus ikuti. Kalau tidak, bukan saja anda secara pribadi yang gagal, tim anda secara keseluruhan akan berantakan. Performa pekerjaan menjadi menurun drastis, dan andalah penyebab utamanya.
Sang teman pun punya "alasan" untuk ogah-ogahan bekerja. Konon, berdasarkan keluhannya yang hampir tiap hari berdesis dari mulutnya adalah, reward yang beliau dapatkan tidak sebanding dengan skill yang dia miliki. Dan orang-orang yang menghadapi kenyataan seperti ini sungguh tidak jarang kita temui. Akibatnya tidak bisa allout dalam melaksanakan tugas. Apa yang bisa dikerjakan hari ini, jangan ditangguhkan sampai besok, ternyata tidak berlaku buat mereka. Prinsif yang paling cocok buat mereka mungkin adalah, "I expect nothing, so I do nothing".
Tapi benarkah selalu demikian? Ternyata tidak selalu benar. Dengan memenuhi reward dari pekerjaan sang teman, apakah ada jaminan sikapnya terhadap pekerjaan akan berubah drastis? Tidak ada jaminan sama sekali. Dan yang terbayang adalah, di saat awal-awal "kenaikan golongan dan gaji", mungkin saja beliau puas lalu bekerja sebagaimana mestinya. Namun biasanya, waktu begulir sedikit saja, penyakit lama mereka akan kembali kumat. Kembali lagi menjalani hidup bekerja dengan selimut ketidakpuasan. Wong namanya manusia, tidak akan pernah merasakan yang namanya puas total. Punya satu pengen dua, punya dua pengen tiga. Memiliki sepeda pengen motor, motor kebeli angan-angan mengarah ke kendaraan roda empat, demikianlah seterusnya.
Dan ternyata sang teman memang demikian. Golongan didongkrak, tapi secara jangka panjang, etika bekerjanya tidak berubah sama sekali. Kebiasaan datang terlambat tetap dilakoni. Teman-teman se tim-nya tetap saja mengeluh akan sikapnya yang tetap ogah-ogahan. Project bersama-pun kembali berantakan, tidak efesien. Di awal kenaikan golongan, beliau keliatan bermuka manis dan bersemangat. Tapi hal itu tidak berlangsung lama. Karena hatinya memang tidak pernah berkomitmen untuk berbuat yang terbaik dalam pekerjaannya.
Seorang pekerja profesional, akan selalu berbuat yang terbaik terhadap tugas yang diembannya. Terlepas reward sesaat yang beliau dapatkan sesuai atau tidak. Karena mereka berprinsif, "apa yang bisa saya persembahkan demi kemajuan organisasiku....?" sebelum "apa yang aku bisa dapatkan dari organisasiku". Terkesan idealis, tapi memang begitulah yang seharusnya. Toh, mereka berprinsif, kemajuan perusahaan atau organisasi, secara otomatis akan berimbas kepada kemajuan diri sendiri secara pribadi. Toh dengan prestasi kerja yang di atas rata-rata sudah pasti akan mendapatkan perhatian dari sang atasan, dan minimal tahun berikutnya "reward" yang sesungguhnya akan kembali ke diri sendiri.
Kadang ada orang yang merasa dirinya pintar, bisa bekerja, sehingga menuntut macam-macam. Padahal sudah jelas-jelas ke"bisa"an-nya itu belum pernah dibuktikan dalam lingkungan kerja yang sekarang. Kalau anda merasa berbuat yang brilian di tempat kerja lama, mintalah reward ke sana, dan bukan ke tempat kerja baru. Tempat kerja baru hanya akan memberikan reward yang signifikan, bila anda sudah bisa memperlihatkan hasil yang memang betul-betul brilian. Jadi bukan dari hasil omongan anda. Oleh karena itu, perlihatkanlah bahwa anda bisa, sebelum menuntut macam-macam. Walau toh, perusahaan tetap akan merefer apa-apa yang telah anda laksanakan selama ini.
Anda sendiri yang memilih untuk masuk ke perusahaan tersebut, oleh karena itu, jalani saja dulu dengan komitmen tinggi, ikut memajukan perusahaan. Berbuat yang terbaik untuk semua. Dengan itu, tanpa mengemis-pun anda akan diberikan reward terhadap apa yang telah anda persembahkan. Ibarat, anda harus bekerja dulu baru dikasih upah. Jangan belum bekerja sudah menuntut upah, dengan beribu-ribu janji yang muluk-muluk. Toh seorang petani pun tidak pernah mendapatkan hasil sebelum bercocok tanam, memeliharanya hingga pada saat sang tanaman sudah bisa dituai. Demikian juga anda, tidak "dibenarkan" meminta balasan sebelum bekerja dan membuahkan hasil yang tentu secara perusahaan menguntungkan. Kalau tidak seperti itu, mendapatkan reward-pun statusnya mirif dengan sebuah hadiah pemberian cuma-cuma. Wong belum berbuat apa-apa terhadap kemajuan perusahaan. Artinya, sekecil apapun, sudah seharusnya anda mensyukurinya.
Jadi bukan cerita "mana lebih dulu ayam atau telur". Karena reward kecil, bekerja jadi malas-malasan, dan hal itu akan mengantarkan anda kepada sebuah lingkaran setan. Bisa jadi, di tahun berikutnya golongan anda malah menurun, sehingga justru makin tidak memuaskan buat anda. Tapi berbuatlah yang terbaik, niscaya reward akan datang dengan sendirinya. Kalau saja anda telah berbuat yang terbaik dan hasilnya pun secara organisasi bagus, lalu reward anda tetap tidak memuaskan buat anda, lebih baik bersiap-siap lah untuk angkat kaki dari lingkungan tersebut. Tempat anda ternyata bukan di sana. (af@jkt, 1 Desember 2006)
Rumah sederhana - justru banyak orang sekarang yang mendambakan konsep rumah sederhana untuk desain arsitektur rumahnya. Beberapa faktor yang membuat seseorang lebih menyukai rumah sederhana ketimbang rumah besar, antara lain sebagai berikut
Kolaborasi Tua-Muda
Dalam sebuah organisasi/perusahaan umum dan besar, orang-orangnya bisa dikelompokkan pada 2 kelompok besar sesuai dengan generasi mereka. Generasi baby boomers yang mewakili kelompok senior, dan generasi millenial yang mewakili golongan junior. Masing-masing dengan karasteristik umum yang menampakkan perbedaan. Demikian juga life style yang memang berasal dari karasteristik tersebut.Generasi baby boomers
Generasi ini sarat akan pengalaman dan know-how. Menjadi pembuat kebijakan dan penentu utama gerak sebuah organisasi. Ketinggian tacit knowledge mampu beradaptasi dengan baik terhadap kerumitan tatanan birokrasi. Pun mereka punya tingkatan loyalitas yang tinggi pada organisasi. Dan yang pasti, generasi ini cenderung bisa mengontrol diri terhadap berbagai permasalahan yang dihadapi.
Salah satu kekurangan generasi baby boomers ini adalah, kecenderungan otoriter. Kurang begitu suka menerima masukan terutama dari generasi yang memang lebih cocok jadi anak-anak mereka. Dan yang pasti, kemampuan untuk menyerap teknologi-teknologi baru, tertinggal dari generasi berikutnya. Menganggap perangkat komputer adalah barang mewah nan sensitif, sehingga ada kekhawatiran rusak bila mereka memaksakan diri menyentuhnya. Sehingga tatkala generasi millenial sudah menganggap internet sebagai sebuah kebutuhan, mereka masih mengira 'barang' itu hanya sebagai media untuk bisa mem-plototi gambar-gambar cabul tak ber-etika.
Generasi Millenial
Generasi millenial yang lahir di sekitar tahun 1980-an atau tamat kuliah tidak jauh dari pergantian millenia tahun 2000 yang lalu, tergolong haus, ambisius dan gila belajar. Yang pasti, secara teori-pun daya tangkap dan daya serap mereka cenderung lebih tajam daripada generasi pertama.
Generasi terakhir ini memang punya daya orientasi yang lebih kuat, lebih berani "hands on", fleksibel dan bisa bekerja tim. Mereka pun lebih senang belajar secara praktis daripada teoritis. Kecenderungan mereka lebih suka menghabiskan waktu di depan komputer, daripada menghadiri acara arisan keluarga. Mereka lebih enjoy ngobrol via internet dengan lawan diskusi yang tidak kenal batas negara dibandingkan ikut rapat kerjabakti kelurahan di rumah Pak RT. Intinya, mereka gemar teknologi.
Salah satu kelemahan generasi ini adalah, sikap 'sok tahu', atau bahkan 'ngocol', ceplas-ceplos, kontrol diri lemah dan cenderung membabi-buta. Kadang tidak sabar mendengarkan wejangan-wejangan dari para senior yang merasa 'perlu' memberikan arahan. Juga tidak begitu menyukai kompleks-nya birokrasi yang ada dengan jiwa besar.
Manajemen Multigenerasi
Di Indonesia, terutama di BUMN-BUMN, masih cenderung memandang sinis generasi millenial sebagai anak bawang. Belum tahu apa-apa. Dan mungkin masih ada kekhawatiran berlebihan mengingat tabiat generasi ini yang memang terkadang cenderung lepas kontrol. Akibatnya, masih ada misalnya perusahaan yang seluruh karyawan di bawah 40 tahun sekedar diserahi posisi staff, atau bahkan yang lebih rendah.
Ada kecenderungan jajaran manajemen di perusahaan-perusahaan besar di negara maju mulai menerapkan 'manajemen multigenerasi', sebuah format manajemen yang merupakan perpaduan kedua generasi tersebut. Tingkat usia generasi baby boomers yang sudah menjelang pensiun, mau tak mau memaksanya untuk 'sharing knowledge' kepada generasi-generasi berikutnya. Karena bayangkan tanpa tindakan seperti itu, sementara manajemen yang ada sudah memasuki detik-detik terakhir. Sehingga tanpa regenerasi, akan sulit mencari pengganti generasi-generasi terdahulu untuk menduduki posisi-posisi penentu kebijakan.
Manajemen multigenerasi ini seharusnya menghasilkan sebuah kolaborasi yang sangat potensial. Itu kalau kedua pihak mau memperlihatkan niat baik untuk saling mengisi. Karena kelebihan di satu sisi, bisa mengisi kekurangan di sisi lain, dan demikian pula sebaliknya. Hanya saja, kita masih melihat bahwa individu-individu senior di dalam organisasinya belum tentu semuanya siap dan sadar akan perlunya 'menurunkan' pengalaman dan 'know-how'nya pada yang muda-muda yang nota bene haus dan gila belajar itu. Padahal regenerasi adalah sebuah keharusan, karena kalau tidak keselamatan eksistensi organisasi akan menghadapi ancaman serius.
Kegiatan seperti forum eksekutif adalah sarana "sharing knowledge" yang dapat membantu para junior belajar melakukan 'networking' dan memperluas wawasan bisnis riil dalam suasana sejajar dan bukan terang-terangan belajar. Proyek bersama antargenerasi, seperti mencobakan produk baru, R&D, dan yang lain-lainnya, wajib 'hukum'nya sehingga setiap pihak bisa belajar dari yang lain. Dan biasanya, kalau ukuran kelompok termasuk kecil dan sasaran yang jelas, maka generasi yang berbedapun bisa bekerja sama lebih cepat. 'Professor' perusahaan atau organisasi harus mau mendengarkan dan mengarahkan langsung para junior, sehingga merekapun bisa tahu persis apa tujuan, visi, dan misi perusahaan.
Masalahnya adalah, bisakah 'memasangkan' individu senior yang sarat integritas dan pengalaman dengan para juniornya? Mengelolah berbagai generasi berarti mengelolah calon pensiunan yang sedang mekar-mekarnya, yang penuh kematangan yang cenderung kaku dengan generasi yang dinamis dan gemar teknologi serta gila belajar bahkan terkesan cuekitu? Bisakah kita menciptakan suasana kerja menciptakan suasana kerja yang nyaman buat setiap generasi? Bisakah para senior sabar menghadapi para junior yang 'sok tahu' yang bahkan kadang tanpa rasa bersalah melabrak "'etika' yang ada? Bisakah anak muda sabar mendengarkan 'petuah-petuah' yang cenderung mem-birokrasi dengan jiwa besar? Bisakah tua dan muda yang berbeda karasteristik itu ber-kolaborasi? Pertanyaannya, "Bisakah?", tapi jawabannya bukan "iya" dan bukan pula "tidak", melainkan "HARUS". (af@jkt 24 Desember 2006)
Kalau Saya Gimana?
Salah satu jalan untuk cepat maju adalah memperbanyak pertanyaan "seandainya...". "Seandainya" di sini dalam artian yang positif. Bukan membual semacam, "seandainya saya jadi suami si seksi latino Jennifer Lopez" misalnya, "seandainya saya yang jadi presiden di negara Pelanggar Ham terparah Amerika Serikat", sementara kenyataan bilang saya adalah anak negeri kelas bawah di sebuah negara yang serba amburadul Indonesia ini. Sementara kapasitas otak pun tidak tergolong di atas rata-rata. "Seandainya" model ini adalah "seandainya" yang masuk kategori "mimpi di siang bolong", sangat tidak realistis."Seandainya" pemicu maju adalah "seandainya positif dan masuk akal". Seandainya manager saya yang menghadapi masalah ini, kira-kira apa yang akan dilakukan. Seandainya saya yang meng-handle proyek besar itu, langkah-langkah apa yang seharusnya saya tempuh. "seandainya"-"seandainya" macam ini adalah positif. Memang itupun baru berupa angan-angan yang tidak ril, tapi setidaknya bisa mengajak otak berpikir. Toh, konon otakpun makin sering dirangsang makin meningkat kinerjanya. Sebaliknya sel-sel otak yang tidak dipakai dengan sendirinya akan mati, atau minimal menciut tidak bisa bekerja dengan baik.
Pertanyaan "kalau saya gimana?", akan mengarahkan diri kepada sebuah pikiran orijinal. Sehingga tidak selalu hanya diposisikan dalam status pengekor atau penjiplak. Dari pertanyaan itulah akan keluar ide-ide brilian baru, yang mungkin saja lebih berkwalitas dari pemikiran yang ada selama ini. Menurut Kenji Mizutani, seorang ekonom berkebangsaan Jepang berpendapat bahwa penciptaan orijinalitas banyak tertularkan dari pertanyaan "kalau saya gimana?" ini. Dan kreatifitas semacam itu adalah sesuatu yang bisa dilatih untuk mengembangkannya.
Salah satu cara melatih pembentukan ide orijinal adalah dengan memperbanyak mendengarkan berita, mendengarkan komentar para pengamat di bidang tersebut. Dan tatkala mendengarnya, "tidak" dibenarkan mengiyakan komentar atau berita itu, seberapa terpercaya pun sumbernya. Perlu selalu ditanamkan rasa "kecurigaan" akan kebenaran berita atau komentar tersebut. Dan pada saat itu juga menelaah dan memikirkan dengan seksama yang selanjutnya merangkum pemikiran sendiri. Dengan itu, akan selalu ada jawaban dari pertanyaan "kalau saya gimana?". Dan selanjutnya dari situlah asal dari sebuah pemikiran orijinal.
Contoh kongkrit dalam kehidupan sehari-hari misalnya, tatkala seorang teman mendapatkan sebuah tugas, cobalah dipikirkan, "Kalau saya bertugas seperti itu, akan menempuh jalan ini". Kalau cara yang dipikirkan itu bisa berhasil, urusannya selesai karena memang itu yang diharafkan. Kalaupun ternyata cara yang dipikirkan itu mendapatkan jalan buntu alias tidak berhasil, tidak masalah. Asal selanjutnya ada tindak lanjut evaluasi, kenapa cara tersebut tidak berhasil.
Yang paling diharapkan walaupun case seperti ini pasti termasuk jarang, adalah bilamana cara yang dipikirkan ternyata lebih berhasil dari cara yang umum dipakai. Pada saat inilah diharuskan mengkaji dengan seksama faktor sebab akibat ke-lebih berhasil-an itu. Karena itulah sebetulnya pemikiran orijinal yang diharapkan.
Pun pada dasarnya, kemampuan mengajukan jawaban "kalau saya gimana?", akan mampu membius orang-orang sekeliling untuk hormat pada anda. Karena lingkungan cenderung menghormati orang-orang yang punya pendirian sendiri dibanding yang hanya mampu ikut-ikutan. Juga kemampuan memberikan jawaban "kalau saya gimana?", bisa memberikan rasa kepercayaan seorang atasan kepada anda. Lalu keluarlah kesimpulan sang atasan, "OK, kita percayakan anda menghandle pekerjaan ini". Dengan itu, peluang ber-inovasi pun makin terbuka lebar. Kesempatan berkarya makin banyak, dan tentu akan berimbas kepada semakin meningkatnya karir anda dalam organisasi/perusahaan yang ada ikuti. (af@jkt, 26 Desember 2006)
Marahilah Aku!
"Shikararete iru uchi ha Hana", demikian sebuah ungkapan pemacu semangat yang sering terlontar dalam masyarakat Jepang. Ungkapan itu mengajarkan agar bila seseorang memarahi anda, anggap saja itu sebuah pemberian berupa sekutum bunga.Di lingkungan yang masyarakatnya bertempramen keras, mungkin akan sulit menerima sebuah kemarahan untuk disambut bak menerima pemberian setangkai bunga. Karena memang kecenderungan bahwa tatkala seseorang memarahi kita, rasa harga diri terusik, laksana luka kesiram cuka, pedis tak tertahankan. Sekali lagi, ini sedikit banyak disebabkan oleh rasa ego dan harga diri yang tidak pada tempatnya.
Saya teringat kejadian beberapa tahun yang lalu, sempat dibikin "repot" sama seorang teman yang lagi magang di sebuah pabrik di kota kecil tak jauh tempat saya tinggal. Masalahnya karena tidak menerima atasan di pabrik memarahinya. Sementara bahasa Jepang mereka masih belum mampu untuk sebuah pembicaraan yang agak berat. Karena memang saya termasuk akrab sama teman-teman tersebut, dan orang-orang tempat mereka bekerja-pun sudah kenal, saya dipanggil sebagai penengah, biar bisa saling menjelaskan dengan baik permasalahan yang ada, agar arahnya bisa menjadi positif. Dan kalau saya berusaha menyimpulkan, bahwa kemarahan sang atasan sebetulnya memang untuk mendidik. Hanya saja budaya kita yang sedikit beda dari mereka yang menjadi biang pengeruh suasana. Intinya, kita memang kurang bisa menerima sebuah kemarahan dengan positif.
Kemarahan adalah wujud kepedulian. Karena peduli dengan anda maka atasan mau memarahi anda bila ada sesuatu yang kurang sesuai dengan jalur yang seharusnya. Karena sebetulnya marah itu sendiri adalah suatu pekerjaan yang sangat menguras tenaga. Jauh lebih enteng memuji teman daripada memarahinya. Akan tetapi kadang hal tersebut terpaksa dilakukan, demi organisasi dan demi orang yang bersangkutan.
Anda bisa bayangkan, seorang karyawan yang minggu depan pensiun misalnya, berbuat kesalahan pun paling atasan bilang, "yah....kamu lagi!". Karena sang atasan memang tidak begitu menaruh harapan akan perbaikan pada orang yang bersangkutan. Oleh karena itu, daripada membuang energi dan waktu untuk acara "marah-marah", mereka lebih memilih diam dan mencari alternatif lain yang bisa meng-cover kesaalahan tersebut. Lain halnya kalau yang berbuat kesalahan tersebut adalah karyawan baru misalnya. Karena ada satu keinginan agar kesalahan tersebut tidak terulang lagi di masa yang akan datang.
Tindakan yang paling bijak bagi seseorang yang menjadi obyek kemarahan adalah, mulai berfikir dari sudut pandang orang yang marah. Dengan itu akan lebih membuka pandangan apa yang salah, dan apa yang memang seharusnya diperbaiki. Jadi, sekali lagi tidak perlu memasang harga diri karena itu tidak pada tempatnya. Dan yakilah, anda dimarahi sebetulnya lebih banyak untuk kepentingan anda sendiri.
Adapun sebuah kemarahan, juga harus profesional. Tidak boleh juga asal "ngamuk" tanpa sebab yang masuk diakal. Tanpa ada niat dan harapan untuk sebuah perbaikan. Dan yang jelas, kemarahan bukan untuk mencari kesalahan individu, melainkan mencari penyelesaian permasalahan. Cuman mungkin obyeknya sebuah individu. Tapi bukan berarti kesalahannya yang ditonjolkan, melainkan solusi perbaikan ke depan. Kalau memang niatnya adalah sebuah solusi, obyek kemarahan pun akan lebih terbuka dan menerima. Walau yang namanya tindakan manusia, tidak hanya terbentuk dari unsur logika realita, melainkan juga ada unsur rasa yang ikut. Dan menghilangkan sama sekali rasa tersebut, bukanlah pekerjaan yang gampang. Dan kelihaian seseorang menyeimbangkan kedua unsur tersebut menandakan kedewasaan dan ketinggian tingkat profesionalitas yang bersangkutan.
Kemarahan dalam lingkungan kerja yang sehat dan profesional adalah hal yang biasa. Sekali lagi demi perbaikan individu-individu penopang organisasi, karena kemajuan sebuah organisasi atau perusahaan bukan hanya dikarenakan kemajuan strategy dan visi-misi yang dimiliki, melainkan bagaimana orang-orang yang membentuk organisasi atau perusahaan tersebut. Oleh karena itu, bersikap "welcome"lah bila atasan memarahi anda. Tapi bukan berarti, masuk di telinga kanan, keluar di telinga kiri. (af@jkt, 21 Desember 2006)
Keinginan or Keharusan
Anda mungkin pernah ada pikiran, "Si A enak banget yah. Bisa bekerja sesuai dengan hobby-nya". Pikiran itu sih, benar-benar saja, walau tidak 100% benar.
Orang yang bekerja sesuai "hobby"-nya sekalipun tidak ada jaminan orang tersebut enjoy dengan pekerjaannya, seperti yang orang lain bayangkan. Karena dunia kerja memang terkadang tidak sama dengan dunia hobby. Dan kenyataan itu mayoritas.
Dunia kerja adalah dunia yang penuh tekanan. Mau tak mau itu harus dimaklumi terutama buat mereka yang berkeinginan kerja secara profesional. Stress adalah makanan sehari-hari. Tinggal tergantung kepada diri sendiri, bisa me-manage rasa stress tersebut agar menghasil output yang positif atau tidak. Makin lihai seseorang bermain-main dengan stress, makin tinggi level-nya sebagai seorang pekerja profesional.
Dari segi asal-muasal, pekerjaan terbagi atas dua macam yakni, "pekerjaan keinginan" dan "pekerjaan keharusan". Dan relatif lebih banyak justru point yang kedua. Saya mengerjakannya bukan karena punya keinginan mengerjakannya, tapi karena keharusan. Tidak berminat pun kalau sudah menjadi keharusan, memang harus dikerjakan. Dan seperti itulah wajah lingkungan kerja pada umumnya. Kecuali mungkin anda menjadi seorang seniman atau semacamnya yang tidak menuntut bekerja sama dengan orang lain. Tapi golongan yang ber-profesi seperti itu bisa dihitung dengan jari, sangat sedikit. Lebih banyak, kita memang dipaksa untuk mengerjakan sesuatu. Bawahan dipaksa sama atasan, dan orang yang tidak punya atasan bisa jadi dipaksa oleh keadaan.
Pernahkan anda mendengar seseorang yang menginjakkan kaki ke dunia kerja mengeluh karena tidak bisa mengaktualisasikan dirinya? Ternyata apa yang menjadi job des-nya tidak sesuai dengan angan-angan yang nempel di kepalanya saat memilih tempat kerja tersebut? Lalu merasa dihianati? Harga dirinya seakan terinjak-injak? Kesempatannya untuk berkembang dinilai terkebiri? Daya kreasinya bak diperkosa? Belum lagi pride sebagai keluaran universitas ternama dibawa-bawa. Lengkap sudah.
Dunia kerja secara profesional adalah dunia yang menuntut manusia yang serba bisa. Bukan manusia yang hanya bisa ngomong, "Aku bisa di bidang ini, maka beri aku pekerjaan seperti itu!". Apalagi manusia yang hanya bisa ngomong, sementara aplikasinya nol besar. Tapi sudah pasti tidak ada manusia yang serba bisa. Lingkungan kerja-pun maklum akan hal itu. Dengan itupun, secara profesional pekerjaan menuntut setiap individu untuk selalu belajar, belajar dan belajar. Bahkan dalam lingkungan kerja di negara maju seperti Jepang, justru kwalitas belajar tatkala memasuki dunia kerja, jauh lebih dituntut dibandingkan waktu masih berstatus sebagai pelajar atau mahasiswa. Artinya, di lingkungan profesional, ke-enggan-an belajar identik dengan membuang diri sendiri ke liang kubur. Jadi tuntutan belajar pun bisa jadi sudah berlabel sebuah keharusan. Karena dunia begitu bengis melindas mereka-mereka yang jalan di tempat. Teknologi yang katanya paling canggih kemarin, belum tentu masih bisa terpakai hari ini. Bisa jadi itu tinggal penghias buku-buku pegangan di bangku sekolahan.
Artinya, tatkala berada di lingkungan kerja, tidak ada alasan untuk milih-milih pekerjaan. Dan yakinlah bahwa atasan yang lebih tau, pekerjaan mana yang paling cocok buat anda saat itu. Jangan belum tau apa-apa sudah merasa serba bisa. Karena dunia kerja bukan dunia yang mengedepankan rasa. Logika yang paling dominan jalan. Dan logika tidak mengenal kata "sepertinya". Logika enggan diajak bermain di sekitar kata "kira-kira", "kurang lebih". Karena logika memang hanya bisa diekspressikan dengan angka 0 dan 1, bisa atau tidak. Tunjukkan dengan angka satu bahwa kamu bisa.
Kadang ada juga suara sumbang, "wong aku tidak diberi kesempatan". Tolong dicamkan, lihat ke diri sendiri, dan jangan cuma bisa menyalahkan. Apa anda sudah "lulus tes" di level sebelumnya? Kalau anda bilang, "ahhh.., itu mah kecil!", buktikan, kembali dengan angka satu. Begitulah seterusnya. Dan yakinlah, lingkungan kerja yang profesional, tidak akan rela menekan membernya yang "bisa". Karena sebuah organisasi akan maju karena orang-orang yang menjalankan organisasi itu. Dan kenyataan pun banyak mengajarkan, orang yang bisa menyelesaikan dengan baik hal-hal kecil, kemungkinan besar bisa mengerjakan dengan baik hal-hal yang besar. Sebaliknya pun demikian.
Kembali lagi bahwa dunia profesional, memang kebanyakan menuntut tiap individu untuk sebuah pekerjaan keharusan, dan bukan keinginan. Dan kalau anda malas beradaptasi dengan keadaan seperti itu, berarti dunia profesinal tidak cocok dengan anda. Kalaupun memang kadang ada pekerjaan yang berstatus "keinginan", yakinlah bahwa itu tidak banyak. Dan tatkala sebuah hobby atau keinginan berubah wujud menjadi pekerjaan-pun, kadang akan banyak ikut atribut-atribut sampingan yang berstatus keharusan. Jadi, jangan ngotot sama sebuah keingingan. Karena kalau anda ngotot, akan kembali menampar muka anda sendiri. Apalagi di negara dan zaman yang serba sulit seperti sekarang ini, persaingan terlalu ketat. Ungkapan keenggangan menangani pekerjaan keharusan bisa jadi direspon sama sang atasan, "Kalo gak mau, keluar saja. Masih banyak yang lain lagi antri".
Anda berfikir dunia kerja profesional bengis? Bisa jadi benar. Toh dunia ini memang dari dulu sampai sekarang gak pernah berubah, tetap memakai hukum rimba. Siapa kuat, dia yang menang. Bedanya, sekarang sedikit dipoles sama peradaban, budaya dan etika. Jadi sekali lagi, jangan ngotot sama "keinginan", tapi miliki keinginan untuk mengerjakan pekerjaan keharusan. (af@jkt, 19 Desember 2006)
Orang yang bekerja sesuai "hobby"-nya sekalipun tidak ada jaminan orang tersebut enjoy dengan pekerjaannya, seperti yang orang lain bayangkan. Karena dunia kerja memang terkadang tidak sama dengan dunia hobby. Dan kenyataan itu mayoritas.
Dunia kerja adalah dunia yang penuh tekanan. Mau tak mau itu harus dimaklumi terutama buat mereka yang berkeinginan kerja secara profesional. Stress adalah makanan sehari-hari. Tinggal tergantung kepada diri sendiri, bisa me-manage rasa stress tersebut agar menghasil output yang positif atau tidak. Makin lihai seseorang bermain-main dengan stress, makin tinggi level-nya sebagai seorang pekerja profesional.
Dari segi asal-muasal, pekerjaan terbagi atas dua macam yakni, "pekerjaan keinginan" dan "pekerjaan keharusan". Dan relatif lebih banyak justru point yang kedua. Saya mengerjakannya bukan karena punya keinginan mengerjakannya, tapi karena keharusan. Tidak berminat pun kalau sudah menjadi keharusan, memang harus dikerjakan. Dan seperti itulah wajah lingkungan kerja pada umumnya. Kecuali mungkin anda menjadi seorang seniman atau semacamnya yang tidak menuntut bekerja sama dengan orang lain. Tapi golongan yang ber-profesi seperti itu bisa dihitung dengan jari, sangat sedikit. Lebih banyak, kita memang dipaksa untuk mengerjakan sesuatu. Bawahan dipaksa sama atasan, dan orang yang tidak punya atasan bisa jadi dipaksa oleh keadaan.
Pernahkan anda mendengar seseorang yang menginjakkan kaki ke dunia kerja mengeluh karena tidak bisa mengaktualisasikan dirinya? Ternyata apa yang menjadi job des-nya tidak sesuai dengan angan-angan yang nempel di kepalanya saat memilih tempat kerja tersebut? Lalu merasa dihianati? Harga dirinya seakan terinjak-injak? Kesempatannya untuk berkembang dinilai terkebiri? Daya kreasinya bak diperkosa? Belum lagi pride sebagai keluaran universitas ternama dibawa-bawa. Lengkap sudah.
Dunia kerja secara profesional adalah dunia yang menuntut manusia yang serba bisa. Bukan manusia yang hanya bisa ngomong, "Aku bisa di bidang ini, maka beri aku pekerjaan seperti itu!". Apalagi manusia yang hanya bisa ngomong, sementara aplikasinya nol besar. Tapi sudah pasti tidak ada manusia yang serba bisa. Lingkungan kerja-pun maklum akan hal itu. Dengan itupun, secara profesional pekerjaan menuntut setiap individu untuk selalu belajar, belajar dan belajar. Bahkan dalam lingkungan kerja di negara maju seperti Jepang, justru kwalitas belajar tatkala memasuki dunia kerja, jauh lebih dituntut dibandingkan waktu masih berstatus sebagai pelajar atau mahasiswa. Artinya, di lingkungan profesional, ke-enggan-an belajar identik dengan membuang diri sendiri ke liang kubur. Jadi tuntutan belajar pun bisa jadi sudah berlabel sebuah keharusan. Karena dunia begitu bengis melindas mereka-mereka yang jalan di tempat. Teknologi yang katanya paling canggih kemarin, belum tentu masih bisa terpakai hari ini. Bisa jadi itu tinggal penghias buku-buku pegangan di bangku sekolahan.
Artinya, tatkala berada di lingkungan kerja, tidak ada alasan untuk milih-milih pekerjaan. Dan yakinlah bahwa atasan yang lebih tau, pekerjaan mana yang paling cocok buat anda saat itu. Jangan belum tau apa-apa sudah merasa serba bisa. Karena dunia kerja bukan dunia yang mengedepankan rasa. Logika yang paling dominan jalan. Dan logika tidak mengenal kata "sepertinya". Logika enggan diajak bermain di sekitar kata "kira-kira", "kurang lebih". Karena logika memang hanya bisa diekspressikan dengan angka 0 dan 1, bisa atau tidak. Tunjukkan dengan angka satu bahwa kamu bisa.
Kadang ada juga suara sumbang, "wong aku tidak diberi kesempatan". Tolong dicamkan, lihat ke diri sendiri, dan jangan cuma bisa menyalahkan. Apa anda sudah "lulus tes" di level sebelumnya? Kalau anda bilang, "ahhh.., itu mah kecil!", buktikan, kembali dengan angka satu. Begitulah seterusnya. Dan yakinlah, lingkungan kerja yang profesional, tidak akan rela menekan membernya yang "bisa". Karena sebuah organisasi akan maju karena orang-orang yang menjalankan organisasi itu. Dan kenyataan pun banyak mengajarkan, orang yang bisa menyelesaikan dengan baik hal-hal kecil, kemungkinan besar bisa mengerjakan dengan baik hal-hal yang besar. Sebaliknya pun demikian.
Kembali lagi bahwa dunia profesional, memang kebanyakan menuntut tiap individu untuk sebuah pekerjaan keharusan, dan bukan keinginan. Dan kalau anda malas beradaptasi dengan keadaan seperti itu, berarti dunia profesinal tidak cocok dengan anda. Kalaupun memang kadang ada pekerjaan yang berstatus "keinginan", yakinlah bahwa itu tidak banyak. Dan tatkala sebuah hobby atau keinginan berubah wujud menjadi pekerjaan-pun, kadang akan banyak ikut atribut-atribut sampingan yang berstatus keharusan. Jadi, jangan ngotot sama sebuah keingingan. Karena kalau anda ngotot, akan kembali menampar muka anda sendiri. Apalagi di negara dan zaman yang serba sulit seperti sekarang ini, persaingan terlalu ketat. Ungkapan keenggangan menangani pekerjaan keharusan bisa jadi direspon sama sang atasan, "Kalo gak mau, keluar saja. Masih banyak yang lain lagi antri".
Anda berfikir dunia kerja profesional bengis? Bisa jadi benar. Toh dunia ini memang dari dulu sampai sekarang gak pernah berubah, tetap memakai hukum rimba. Siapa kuat, dia yang menang. Bedanya, sekarang sedikit dipoles sama peradaban, budaya dan etika. Jadi sekali lagi, jangan ngotot sama "keinginan", tapi miliki keinginan untuk mengerjakan pekerjaan keharusan. (af@jkt, 19 Desember 2006)
Mulailah Dari Hal Kecil
Di suatu kesempatan, seorang rekan mengeluh, "saya hanya dapat kerjaan serabutan". Padahal katanya beliau berkeinginan mengembangkan daya kreasinya pada tugas-tugas yang besar, menantang, sesuatu yang ada tanggung-jawabnya. Saya hanya tersenyum mendengarnya. Dalam hati saya berguman, semua tugas atau pekerjaan, sudah pasti ada unsur pertanggungjawabannya, terlepas itu besar atau kecil.
Sebagai manusia, kadang kita dikuasai ego "keakuan". Belum apa-apa sudah merasa mampu melakukan hal-hal yang butuh tingkat pertanggungjawaban yang tinggi. Sebagai karyawan baru di sebuah kantor, kadang ada orang "gengsi" kalau hanya diminta membersihkan kantor sendiri. Dalam hati mendumel, ini pekerjaan tukang sapu, dan aku masuk ke sini bukan untuk menjadi tukang sapu. Belum lagi kalau "harga diri" sebagai alumni universitas ternama dibawa-bawa. Permintaan men-fotocopy bahan rapat dari atasan, direspon dengan hati gondok, "yah..., jadi tukang fotocopy lagi...". Lalu pekerjaan itu diselesaikan seadanya, setengah hati. Merasa diri sudah jago, yang mana jenis pekerjaan serabutan tidak level lagi. Akibatnya, output yang dihasilkanpun asal jadi. Tanpa ada kreasi tersendiri untuk berusaha merapikan hasil fotocopy-an tersebut.
Dalam budaya kerja perusahaan di Jepang, karyawan baru tetap karyawan baru. Tidak ada hubungan dengan usia. Demikian juga dengan tingkat pendidikan. Tahun pertama tetap menjadi "SOUJI TOBAN", petugas bersih-bersih kantor. Karena memang di dunia professional, tidak ada golongan yang merupakan hasil produk tingkat pendidikan dan usia. Apalagi hanya mengandalkan pride tamatan universitas ternama. Hierarki kedudukan lebih tercermin dari kemampuan bekerja, menyelesaikan masalah. Kepintaran otak tidak berpengaruh kalau hanya berhenti pada derajat kejeniusan, tanpa bisa berimbas kepada "kebisaan" bekerja.
"Bimbo Kuji" & "Atari Kuji"
Tatkala ada permintaan kerjaan serabutan dari atasan, cara pandang tiap orang berbeda terhadap tugas tersebut. Ada yang dengan gembira menyambut "perintah" itu, apapun jenisnya, termasuk permintaan menghapus white board misalnya. Karena orang-orang type ini, menganggap itu sebagai pekerjaan yang mulia, toh white board tidak bisa digunakan bilamana tidak dihapus dulu. Perintah itu diterima sebagai sebuah "tugas mulia", karena bisa jadi itu juga merupakan bagian terkecil dari sebuah proyek besar. Dengan itu, sedikit banyak ikut berkontribusi. Sehingga hal itupun dikerjakan dengan hati lapang, gembira. Ada niat untuk menyelesaikannya sebaik mungkin. Spidol yang tidak berfungsi lagi disingkirkan, dan diganti dengan yang baru misalnya. Penghapus white board-pun disiapkan dengan rapi sehingga orang yang akan memakai white board tersebut bisa merasa lebih enak. Type karyawan seperti ini yang dalam bahasa Jepang disebut berprinsif "atari kuji". Merasa beruntung kebagian tugas tersebut.
Di lain pihak, kerjaan serabutan dianggap penghinaan. Merasa harga diri diperkosa. Jadinya ada jiwa penolakan di dalam hati. Padahal sebetulnya belum tahu, apa yang sebetulnya bisa dikerjakan. Atasan-pun tidak mau mengambil resiko memberinya beban perkerjaan yang sama sekali belum tau, bisa atau tidak. Ini semua diakibatkan oleh rasa keegoan yang tinggi. Merasa bisa, padahal belum pernah dibuktikan. Akibatnya, dalam hati dipenuhi oleh rasa ketidakpuasan merasa seakan-akan jadi suruhan. Semuanya dianggap negatif. Inilah yang biasa disebut berprinsif "Bimbo Kuji".
Intinya, terutama buat mereka yang mau maju, lebih baik menanggapi pekerjaan serabutan sekalipun, sebagai "Atari Kuji". Merasa beruntung masih diperhatikan. Dan melakukannya dengan penuh tanggung jawab. Diselesaikan dengan sebaik mungkin. Karena hasil yang baik untuk kerja serabutan akan mengundang pekerjaan yang lebih menantang. Demikian akan meningkat terus hingga sebuah pekerjaan yang penuh resiko tanggung jawab, menentukan perusahaan akan tetap eksis atau tinggal nunggu waktu saja. Jangan malah mengelak dan memasang "harga diri" tinggi. Karena dengan itu, sama saja menutup peluang untuk menunjukkan diri, andapun sebetulnya bisa.
Pekerjaan kecil saja tidak becus, apalagi pekerjaan yang lebih besar. Pernyataan itu ada benarnya. Dan rata-rata orang yang bisa kerja, mengerjakan hal kecilpun kelihatan bahwa orang tersebut bisa kerja. Jadi tidak perlu berkoar-koar memuji diri. Apalagi itu hanya soq tau, alias pengen mendapat apresiasi dari orang-orang sekeliling. Dunia profesional tidak mengenal methode seperti itu. Karena memang bukan ngomong-nya yang di-apresiasi, tapi kelincahan tangan dalam bekerja. Akhir-akhirnya, seberapa besar output yang dihasilkan.
Jangan belum apa-apa sudah soq menjadi Bos. Padahal tugas Bos aja sendiri belum tentu diketahui. Yang keliatan cuman enaknya doang. Tapi tidak pernah menyadari, bahwa kadang Bos malah tidak bisa tidur memikirkan langkah apa yang mesti dilalui ke depan untuk bisa menggapai pulau idaman. Intinya, kalau mau maju, mulailah dari yang kecil-kecil. Jangan pengen melompat, sementara anatomi kakinya tidak terdesain untuk bisa melompat, bisa jadi lompatannya itu berwujud bunuh diri. (af@jkt, 12 Desember 2006)
Sebagai manusia, kadang kita dikuasai ego "keakuan". Belum apa-apa sudah merasa mampu melakukan hal-hal yang butuh tingkat pertanggungjawaban yang tinggi. Sebagai karyawan baru di sebuah kantor, kadang ada orang "gengsi" kalau hanya diminta membersihkan kantor sendiri. Dalam hati mendumel, ini pekerjaan tukang sapu, dan aku masuk ke sini bukan untuk menjadi tukang sapu. Belum lagi kalau "harga diri" sebagai alumni universitas ternama dibawa-bawa. Permintaan men-fotocopy bahan rapat dari atasan, direspon dengan hati gondok, "yah..., jadi tukang fotocopy lagi...". Lalu pekerjaan itu diselesaikan seadanya, setengah hati. Merasa diri sudah jago, yang mana jenis pekerjaan serabutan tidak level lagi. Akibatnya, output yang dihasilkanpun asal jadi. Tanpa ada kreasi tersendiri untuk berusaha merapikan hasil fotocopy-an tersebut.
Dalam budaya kerja perusahaan di Jepang, karyawan baru tetap karyawan baru. Tidak ada hubungan dengan usia. Demikian juga dengan tingkat pendidikan. Tahun pertama tetap menjadi "SOUJI TOBAN", petugas bersih-bersih kantor. Karena memang di dunia professional, tidak ada golongan yang merupakan hasil produk tingkat pendidikan dan usia. Apalagi hanya mengandalkan pride tamatan universitas ternama. Hierarki kedudukan lebih tercermin dari kemampuan bekerja, menyelesaikan masalah. Kepintaran otak tidak berpengaruh kalau hanya berhenti pada derajat kejeniusan, tanpa bisa berimbas kepada "kebisaan" bekerja.
"Bimbo Kuji" & "Atari Kuji"
Tatkala ada permintaan kerjaan serabutan dari atasan, cara pandang tiap orang berbeda terhadap tugas tersebut. Ada yang dengan gembira menyambut "perintah" itu, apapun jenisnya, termasuk permintaan menghapus white board misalnya. Karena orang-orang type ini, menganggap itu sebagai pekerjaan yang mulia, toh white board tidak bisa digunakan bilamana tidak dihapus dulu. Perintah itu diterima sebagai sebuah "tugas mulia", karena bisa jadi itu juga merupakan bagian terkecil dari sebuah proyek besar. Dengan itu, sedikit banyak ikut berkontribusi. Sehingga hal itupun dikerjakan dengan hati lapang, gembira. Ada niat untuk menyelesaikannya sebaik mungkin. Spidol yang tidak berfungsi lagi disingkirkan, dan diganti dengan yang baru misalnya. Penghapus white board-pun disiapkan dengan rapi sehingga orang yang akan memakai white board tersebut bisa merasa lebih enak. Type karyawan seperti ini yang dalam bahasa Jepang disebut berprinsif "atari kuji". Merasa beruntung kebagian tugas tersebut.
Di lain pihak, kerjaan serabutan dianggap penghinaan. Merasa harga diri diperkosa. Jadinya ada jiwa penolakan di dalam hati. Padahal sebetulnya belum tahu, apa yang sebetulnya bisa dikerjakan. Atasan-pun tidak mau mengambil resiko memberinya beban perkerjaan yang sama sekali belum tau, bisa atau tidak. Ini semua diakibatkan oleh rasa keegoan yang tinggi. Merasa bisa, padahal belum pernah dibuktikan. Akibatnya, dalam hati dipenuhi oleh rasa ketidakpuasan merasa seakan-akan jadi suruhan. Semuanya dianggap negatif. Inilah yang biasa disebut berprinsif "Bimbo Kuji".
Intinya, terutama buat mereka yang mau maju, lebih baik menanggapi pekerjaan serabutan sekalipun, sebagai "Atari Kuji". Merasa beruntung masih diperhatikan. Dan melakukannya dengan penuh tanggung jawab. Diselesaikan dengan sebaik mungkin. Karena hasil yang baik untuk kerja serabutan akan mengundang pekerjaan yang lebih menantang. Demikian akan meningkat terus hingga sebuah pekerjaan yang penuh resiko tanggung jawab, menentukan perusahaan akan tetap eksis atau tinggal nunggu waktu saja. Jangan malah mengelak dan memasang "harga diri" tinggi. Karena dengan itu, sama saja menutup peluang untuk menunjukkan diri, andapun sebetulnya bisa.
Pekerjaan kecil saja tidak becus, apalagi pekerjaan yang lebih besar. Pernyataan itu ada benarnya. Dan rata-rata orang yang bisa kerja, mengerjakan hal kecilpun kelihatan bahwa orang tersebut bisa kerja. Jadi tidak perlu berkoar-koar memuji diri. Apalagi itu hanya soq tau, alias pengen mendapat apresiasi dari orang-orang sekeliling. Dunia profesional tidak mengenal methode seperti itu. Karena memang bukan ngomong-nya yang di-apresiasi, tapi kelincahan tangan dalam bekerja. Akhir-akhirnya, seberapa besar output yang dihasilkan.
Jangan belum apa-apa sudah soq menjadi Bos. Padahal tugas Bos aja sendiri belum tentu diketahui. Yang keliatan cuman enaknya doang. Tapi tidak pernah menyadari, bahwa kadang Bos malah tidak bisa tidur memikirkan langkah apa yang mesti dilalui ke depan untuk bisa menggapai pulau idaman. Intinya, kalau mau maju, mulailah dari yang kecil-kecil. Jangan pengen melompat, sementara anatomi kakinya tidak terdesain untuk bisa melompat, bisa jadi lompatannya itu berwujud bunuh diri. (af@jkt, 12 Desember 2006)
"Seks" di Tempat Kerja
Saat ini sedang ramai-ramainya isu Poligami & Perselingkuhan. Karena yang melakukannya adalah orang-orang besar. Di setiap milis, hampir tidak pernah putus komentar tentang masalah tersebut. Oleh karena itu, sayapun jadi pengen ikut-ikutan, walau sebelumnya pernah berfikir, urusan sendiri saja belum tertangani dengan baik, buat apa membuang waktu menguras tenaga ikut "heboh" menanggapi kedua isu nasional tersebut. Biar tidak terkesan ikut-ikutan, saya akan melihat seks di tempat kerja yang ada hubungannya dengan profesionalitas.Tiada orang yang tidak mengerti, bahwa hubungan romantis di tempat kerja bisa mengakibatkan berbagai persoalan. Dan pada dasarnya, seorang atasan menggunakan "kekuatan"nya untuk menghalalkan napsu yang satu ini ke bawahan. Apakah ini tidak boleh? Bisa jadi boleh, tapi secara profesional sangat tidak dianjurkan. Suka sama suka-pun gak boleh juga? Jawabannya "iya". Itu kan privacy masing-masing orang? jawabannya "iya". Lalu kenapa tidak "boleh" juga? Jawabannya simple, karena hal tersebut akan mengganggu penilaian sang atasan ke bawahan., menghadapkan sang atasan pada masalah-masalah hukum, dan menggerogoti sikap hormat tim yang dipimpinnya.
Fantasi romantis yang ditujukan kepada seorang gadis di tempat kerja biasanya memang kelihatan sama sekali tidak merugikan siapa-pun. Tapi bilamana fantasi itu diwujudkan dalam tindakan nyata, maka hampir pasti akan berbenturan pada berbagai macam masalah.
Jika anda terlibat dalam hubungan romantis, secara umum anda cenderung melihat hal-hal positifnya saja. Sisi negatifnya lebih banyak tertutupi, atau mungkin malah memang tidak mampu dilihat. Juga akan mengabaikan hal-hal yang sebetulnya bila suasana bukan dalam situasi "falling in love", tidak akan terabaikan.
Case yang banyak nampak adalah, bilamana seorang atasan menjalin affair sama bawahannya, maka kadang tanpa pertimbangan yang masuk akal, akan mempromosikan sang bawahan, entah dengan cara apapun. Berusaha mendongkrak karir orang menjalin hubungan dengannya. Manakala keliru menilai kualifikasi-kualifikasi orang itu, mungkin sang atasan akan terpaksa menghadapi masalah-masalah yang diakibatkan oleh kekeliruan tadi dalam jangka waktu yang lama.
Sepasang kekasih sudah pasti ada masa bertengkar. Bisa dibayangkan bagaimana pertengkaran akan mempengaruhi tempat kerja. Kalau memang tempat kerja dikelolah secara profesional. Bagaimanapun, pertengkaran itu akan mempengaruhi unjuk kerja kedua belah pihak, yang akhirnya pekerjaan yang akan jadi korban. Padahal ini sangat bertentangan dengan prinsif profesionalitas.
Ditinjau dari sudut pandang hukum terutama di negara maju, rayuan iseng saja sering mengakibatkan ganti rugi finansial besar-besaran di pengadilan dan menghancurkan karier banyak orang. Apalagi sampai latah membuat dokumentasi dalam bentuk video misalnya seperti yang ramai dibicarakan di seantero negeri saat ini. Dan secara prinsif, pembelaan "suka sama suka" tidak akan berdaya dalam kasus-kasus atasan-bawahan, khususnya bila bawahan mengklaim bahwa ia merasa dipaksa.
Yang jelas, hubungan asmara di tempat kerja, bisa mengakibatkan rasa tidak senang, mengganggu hubungan kerja, dan membuat karyawan-karyawan lain kehilangan sikap hormat pada kedua insan yang terlibat. Mungkin mereka merasa -dan ini masuk akal- si orang istimewa itu diberi perlakuan istimewa. Dan jika anda bertanya-tanya apakah para karyawan mengetahui bos mereka sedang menjalin hubungan asmara, asumsikan saja mereka memang tahu. Jangan berharaf hal tersebut tidak akan tercium oleh orang banyak. Paling, mereka tidak berani memperlihatkan gelagat bahwa mereka mengetahui hubungan affair tersebut. Sepandai-pandai kita membungkus bangkai, akhirnya akan tercium juga. Jadi jangan merasa yakin "rahasia"nya tetap rahasia, karena bisa jadi di luar sana, semua bawahannya sudah mengetahui hal tersebut dari A sampai Z. (af@jkt, 10 Desember 2006)
Manajemen Stress
Anda pernah merasa stress? Kalau anda menjawab, "tidak", berarti bisa dibayangkan hidup anda terlalu monoton, hampir tiada terasa adanya gairah hidup. Anda tidak punya motivasi untuk berkembang, dengan bertopeng di balik kata-kata "berserah diri".Dunia bisnis atau dunia kerja, memang identik dengan dunia yang penuh dengan stress, entah itu skala berat atau stress kelas teri. Dan tingkatan stress sendiri berbanding lurus dengan tingkat aktivitas pikiran. Stressnya tukang becak(maaf) mungkin hanya sebatas bagaimana anak bini bisa menyambung hidup, sementara stress pengusaha kelas kakap, mungkin jauh lebih besar dari sekedar sesuap nasi diri sendiri dan keluarga. Problema tenaga kerjanya juga. Belum lagi urusan pinjaman dari bank yang secara otomatis kadang membuat pikiran gak bisa diajak tidur. Dan masih banyak lagi tetek-bengek penyebab stress yang lainnya.
Karyawan stress melihat keadaan perusahaan tempatnya bekerja yang cenderung lesu. Jangan-jangan kali ini giliran aku yang kena PHK. Namun haraf diketahui, bahwa pimpinan perusahaan lebih stress lagi memikirkan agar perusahan tetap eksis, tidak ada karyawan yang di-PHK, bahkan kalau bisa mencari peluang untuk melakukan ekspansi bisnis. Stress kolektif justru bertengger di pundak sang pimpinan. Jadi bukan hanya memikirkan diri sendiri secara pribadi.
Stress Negatif & Stress Positif
Nakajima Takeshi, seorang jurnalis yang sekaligus sebagai management analist, mengklassifikasikan stress jadi dua macam, yakni Stress negatif dan stress positif.
Stress negatif berupa stress yang mengakibatkan hidup tidak bergairah, makin lesu. Sementara stress positif, mendorong pelakunya lebih proaktif, memacu alam pikir untuk menghadapi masalah yang menjadi sumber stress tersebut. Intinya termotivasi untuk maju.
Pikiran berat yang datang membayangi kepala akibat kesalahan fatal yang dilakukan di hari kemarin, akan berbentuk stress negatif, manakala itu tetap mengganggu aktivitas kita hari ini. Akibatnya tidak bisa berfikir, dan bawaannya selalu negatif. Menjadi tidak bergairah. Lalu muncullah kata-kata seperti, "Saya memang tidak akan mencurahkan segala kemampuan saya kepada pekerjaan, karena reward yang saya dapat tidak sebanding". Hal inipun bisa jadi berwujud stress negatif. Membuat diri jadi tidak bersemangat menghadapi aktivitas yang dilakukan.
Semisal, minggu depan saya harus mempresentasikan sebuah proposal kepada calon customer besar. Hati jadi deg-degan karena takut salah ucap yang mengakibatkan peluang untuk mendapatkan proyek dari sang calon customer jadi hilang. Malah kekhawatiran itu membuat tidur tidak bisa nyenyak. Yang terbayang, nama besar sang calon customer. Keringat dingin pun keluar. Tapi dengan keberadaan tekanan seperti itu, justru memicu tension yang ada dalam diri. Berusaha sekuat tenaga untuk menguasai bahan presentasi. Bahkan malah menuntut kita belajar sesuatu yang sebetulnya bukan bidang keahlian kita. Orang teknik, dipaksa belajar ekonomi, hukum. Tentu itu merupakan tekanan bathin yang termasuk berat. Jiwa dan pikiran jadi stress. Tapi stress seperti ini malah bersifat membangun, dan inilah yang disebut stress positif.
Saya pernah menghadapi "tugas" berat. Menjadi likuidator sebuah perusahaan PMA yang mau dilikuidasi. Padahal selama ini saya hanya berkutit di seputar system development, tepatnya sebagai system engineer. Urusan SDM, pajak, hukum dan yang lain-lainnya tidak pernah terbayang di benak saya sebelumnya. Tapi entah dorongan dari mana, saya menerima tugas berat itu.
Setelah saya menandatangani surat persetujuan di atas kertas bermaterai di hadapan seorang notaris, baru mulai terbayang beraneka ragam tugas yang perlu diselesaikan sebagai seorang likuidator. Belum lagi ada sebagian teman yang seolah-olah menakut-nakuti, bahwa ini berurusan dengan hukum yang bisa saja saya akan terseret ke dalamnya.
Urusan dengan beberapa instansi pemerintah mulai dijalankan. Ini juga yang membuat hati selalu hancur melihat kebobrokan perangkat negara di instansi pemerintah. Mungkin yang suka berurusan dengan hal semacam ini tidaklah merasa aneh, tapi bagi saya yang memang pure seorang engineer, sungguh semuanya terasa sebuah cerita di negeri dongeng. Mau tak mau UU tentang PT-pun dengan berat hati dibaca. Demikian juga undang-undang yang berhubungan dengan likuidasi. Dan bagi saya hal tersebut mengundang stress tersendiri. Karena memang urusan hukum yang njelimet, banyak abu-abunya membuat diri ini serasa semakin bingung. Stress saya waktu itu benar-benar seakan mencapai puncaknya.
Segala persiapan, yang bahkan hal yang sebetulnya tidak begitu urgen yang bisa saya siapkan dibuat selengkap mungkin, itupun masih "dipalakin" sama oknum-oknum pemerintahan. Jadi dengan itu-pun bukan berarti urusan akan jadi lancar. Hal itu semua yang kadang membuat malam tidak bisa tidur, dan banyak menghabiskan waktu di samping kolam ikan di belakang rumah, tatkala manusia-manusia di sekeliling sementara asyik dalam mimpi-mimpi mereka. Belum lagi masalah negosiasi dengan kreditor yang tidak membuahkan hasil yang memuaskan, sementara waktu sudah tinggal tersisa sedikit.
Jiwa betul-betul merasa sangat tertekan. Sepertinya saat inilah stress yang paling berat yang pernah saya alami sepanjang hidup saya. Walau sebetulnya kalau saya mau mencari jalan pintas, bisa saja. Letakkan semua beban, kembalikan ke owner perusahaan yang akan dilikuidasi tersebut, dan tidurpun akan kembali nyenyak karena tidak ada lagi beban berat yang menghantui pikiran ini. Namun saya memaksakan bertahan di dalam situasi ini. Istilah kerennya, tidak mau menyerah, sampai akhirnya urusannya kelar.
Sayapun sampai sekarang masih yakin, bahwa stress yang saya alami berkaitan dengan urusan tersebut di atas termasuk stress berjenis positif. Saya banyak sekali mendapatkan pelajaran darinya, terutama pengalaman-pengalaman yang tidak berhubungan langsung dengan bidang yang saya geluti. Akhirnya, saya bisa mengatakan, "Oh...ternyata seperti itu doang!". Sebetulnya rasa takut karena ke"awam"an lah penyebab utama rasa stress berat yang saya alami saat itu.
Stress Negatif menjadi Stress Positif
Sebetulnya stress negatifpun masih mungkin disulap jadi stress positif. Kegagalan kemarin bisa saja menyeret diri ke stress negatif. Namun bagi mereka yang berfikiran besar, hal tersebut akan diarahkan ke situasi, dimana hal-hal positif dan membangun yang akan akan menggantikan suasana hati dan pikiran. Analisa penyebab kegagalan pun dimulai. Tentu
tujuannya agar kegagalan yang sama tidak terulang dua kali. Toh memang sebuah kegagalan seharusnya menjadi bahan pelajaran, koreksi demi melangkah ke hari esok. Dengan fikiran positif itu justru akan memacu manusianya menjadi lebih baik. Seperti itulah kira-kira contoh sebuah stress negatif di-manage sehingga menghasilkan stress positif.
Intinya bahwa tidak semua stress "wajib" kita hindari. karena memang stress adalah bumbu dari hidup dan kehidupan ini. Makin tinggi rasa stress kita, bisa identik dengan makin aktif kita berfikir untuk hidup. Makin menandakan, kita orang yang memang pengen maju, tidak puas dengan apa yang kita "miliki" saat ini. Itu kalau jenis stress itu positif. Kalau justru sebaliknya negatif, sungguh sangat disayangkan, lebih baik kita lupakan saja. Tidak ada manfaat yang bisa kita petik, selain cuma menghambur-hamburkan waktu dan energi. Ada bahasa anak muda yang bisa kita tiru menghadapi stress negatif ini, "Emang Gue Pikirin". Jadi kalau dalam mengomentari fakta AA Gym berpoligami, seseorang mengatakan, "disamping manajemen kalbu, kitapun perlu manajemen syahwat", dengan ini saya tambahkan bahwa kitapun perlu manajemen stress. Sehingga stress bisa terkendali, mengarah hanya kepada hal-hal yang bersifat positif. (af@jkt, 7 Desember 2006)
30 Trilliun US Dollar
Menurut informasi yang dirilis International Telecommunication Union(ITU) tanggal 3 Desember 2006 lalu, bahwa skala market dunia di bidang industri teknologi Informasi dan komunikasi sampai pada akhir 2005 diperkirakan sudah mencapai sekitar 3,13 Triliun US dollar. Hal ini merupakan kali pertama industri ini menembus angka 3 triliun US dollar. Dan diperkirakan akan terus meningkat di tahun-tahun berikutnya.Angka 3 triliun US dollar itu sebesar apa sih?
Sebagai gambaran, bahwa angka 3 trilliun US dolar kurang lebih sama dengan 7.6% dari total GDP dunia saat ini. Masih gelap? Saya juga kabur. Tapi yang jelas bahwa angka tersebut kurang lebih setara dengan 45 kali APBN 2006 ini. Benar-benar angka yang fantastik...
Lalu apa yang mendongkrak pertumbuhan market di bidang ini, sementara semua orang sudah pada tahu, bahwa harga personal komputer dan perangkat handphone jatuh di pasaran. Jawabanya adalah, kemorosotan harga perangkat-perangkat keras itu diimbangi sama makin meluasnya market di bidang jasa komunikasi dan software komputer. Bahkan menurut laporan ITU tersebut, kedua field ini menyumbangkan sekitar 71% dari angka di atas.
Konon, jasa broadband via telepon selular menunjukkan perkembangan yang sangat pesat. Akhir tahun 2005, jumlah pengguna di seluruh dunia sudah mencapai angka lebih dari 60 juta orang. Dan berdasarkan klassifikasi negara, Jepang menduduki pringkat pertama sebanyak 18 juta pengguna disusul Korea Selatan, Italia, lalu Inggeris. Dan Jepang-pun disebut-sebut sebagai negara yang termurah biaya jasa broadband-nya, disusul Korsel, Belanda lalu Swedia.
Dari hasil laporan ITU di atas, bahwa bisnis di bidang piranti lunak akan terus berkembang. Makanya, para Programmer & System Engineer, jangan berkecil hati..., teruslah berkarya. Bisnis di bidang ini masih sangat menjanjikan. Yang bermodal..., ayo rame-rame buka software house. dan peluang keuntungan menanti ada.
Subscribe to:
Posts (Atom)